Putraindonews.com, Jakarta – Indonesia dituduh menjadi salah satu dari sejumlah negara yang turut memberikan manfaat bagi eksportir China untuk menghindari kebijakan tarif impor Amerika Serikat.
Menjawab tudingan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara tegas menepis laporan pemerintah AS yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar jaringan pengalihan barang (transhipment).
Baca JugaBlokade Laut Iran, Amerika Serikat Alihkan 130 KapalWashington menuding praktik tersebut dimanfaatkan oleh eksportir China untuk menghindari ketentuan tarif impor.
Airlangga menegaskan bahwa laporan berjudul The Great Transhipment Scam yang menempatkan Indonesia di kelompok Tier 2 bersama Brasil, Malaysia, Thailand, Turki, dan Vietnam disusun hanya berdasarkan kaji ulang asumsi tanpa konfirmasi.
Baca JugaSiaga Penuh! Korut Tembakkan Rudal Terbaru Dilengkapi AI"Kami katakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar. Dan kedua, Indonesia ditempatkan di Tier 2, diasumsikan masuk tier 2, di mana merupakan manufaktur terintegrasi dengan China dan ekspornya ke Amerika, terutama untuk produk-produk plastik dan turunannya," kata Airlangga dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (20/8). Red/HS