Putraindonews.com, Surabaya - Film pendek karya mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra kembali unjuk gigi lewat karya yang berani menembus batas ruang psikologis. Film pendek berjudul “After the Amen” , resmi menyelesaikan proses produksi pada tanggal 24-25 Mei 2026. Tugas ini merupakan tugas akhir dari mata kuliah film production, yang dimana film ini bukan sekedar pembuktian teknis di bangku kuliah melainkan sebuah narasi mendalam yang menyentuh isu trauma, dan pergulatan batin pasca pengambilan keputusan besar dalam hidup.
“After the Amen” mengajak penonton menyelami labirin psikologis karakter utama setelah sebuah doa atau komitmen besar diucapkan (titik “Amen”). Film ini menyoroti ruang abu abu yang sering kali diabaikan: apa yang terjadi ketika kata “Amin” sudah terucap, namun badai di dalam kepala belum juga reda? Penonton akan dibawa melintasi ruang batin yang intens, melihat bagaimana rasa bersalah, penerimaan, dan pencarian kedamaian diri saling berbenturan.
Baca JugaSyasya Tuangkan Kisah Naksir Musisi Lewat Single “Kawan Tampan”Diproduksi secara mandiri oleh sekumpulan mahasiswa kreatif Universitas Ciputra, proses syuting berlangsung intensif di beberapa titik lokasi di sekitar Surabaya. Proyek ini juga melibatkan kolaborasi lintas angkatan dan divisi produksi yang berkomitmen penuh sejak tahap pra-produksi hingga pasca produksi.
Dalam rilisnya yang disampaikan putraindonews.com, Rabu (3/6). Film pendek ini direncanakan akan melakukan penayangan perdana (premiere) pada akhir bulan mei dan juga awal bulan Juni dalam agenda screening internal kampus serta dipersiapkan untuk berkompetisi di berbagai film pendek nasional maupun internasional yang akan mendatang.
Baca JugaMJ Bawa Pesan Keberanian Menjadi Diri Sendiri Lewat “BE MYSELF”Dalam director’s treatment-nya, sutradara menjelaskan bahwa “After the Amen” digarap dengan pendekatan visual yang atmosferik dan intim. Penggunaan pencahayaan yang kontras serta tone yang cenderung dingin dipilih secara sengaja untuk merepresentasikan tekanan mental, kesepian dan ruang isolasi batin yang dialami oleh karakter utamanya.
“Saya ingin membangun dunia dalam film ini sebagai ruang yang terasa sunyi namun bising didalam. Ketika semua suara di luar selesai setelah kata “Amin”, disitulah peperangan batin yang sesunguhnya baru dimulai,” tutur Rheina
Baca JugaSenyum Bahagia, Turis Australia Berikan Tiket Konser Kanye ke Ojol“Judul ‘After the Amen’ sendiri bukan sekedar penanda waktu, tapi simbol dari fase rentan manusia. Fase dimana kita harus berhadapan langsung dengan konsekuensi dari pilihan kita sendiri, di tengah trauma masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.”
Dengan pendekatan naratif yang emosional dan penyutradaraan yang penuh nuansa. “After the Amen” diharapkan mampu menyentuh hati penonton sekaligus membuka ruang diskusi yang lebih luas dan sehat mengenai isu trauma serta pentingnya self-healing di kalangan generasi muda. Red/HS
Baca JugaKamil Sahib Siapkan MC Award 2027, Literasi Jadi Fondasi Pembawa Acara Profesional