PUTRAINDONEWS.COM
BANDUNG - JABAR | Beberapa hari berturut-turut Komisi Informasi Jabar menggelar Webinar. Sabtu (16/05) bekerjasama dengan PW NU Jabar, PW Fatayat NU Jabar dan UNINUS menggelar Webinar bertema "Ketika Perempuan Merebut Informasi".
Virtual daring yang berlangsung mulai pukul 13.00-15.00 WIB, diikuti oleh mayoritas sahabat Fatayat se-Jabar yang tersebar di 27 Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Berakhir pukul 15.00 WIB acara Webinar Bersetifikat disambut sangat antusias oleh sekitar 300 orang peserta yang mayoritas kaum perempuan, Kampus UNINUS jalan Sukarno Hatta No. 530 Kota Bandung, Sabtu, 16/5/2020.
Baca JugaHeboh! Warna Air Kolam Gunung Sindur Tiba-Tiba Berubah Jadi MerahAdapun, Hirni Kifa Hazefa S.Pd., M.Ikom., CEC selaku Ketua Fatayat NU Jabar memandu langsung virtual daring yang berlangsung selama 3 jam tersebut. Menghadirkan tiga orang Narsum: Ketua PW NU Jabar KH Hasan Nuri Hidayatullah, Rektor UNINUS Prof Dr Engkus Kuswarno M.Si serta Komisioner KI Jabar 2015-2019, Dr. Anne Friday Safaria M.Si.
Dalam sambutan acara, Ijang Faisal selaku Ketua KI Jabar berujar, Lahirnya era keterbukaan informasi telah mengubah paradigma pelayanan badan publik, terutama dalam hal membuka akses informasi kepada publik, perubahan paradigma tersebut merupakan catatan yang sangat penting dalam perkembangan sejarah keterbukaan informasi publik di Indonesia.
Baca JugaKapolri Dorong Polwan Kompetitif di Ajang IAWP yang Diikuti 43 Negara
"Keberadaan Komisi Informasi Publik yang di bentuk berdasarkan UU KIP menjadi sangat penting terutama dalam upaya penjaminan atas hak warga negara dalam mengakses infomasi publik.
Komisi Informasi tidak hanya dapat memawadahi komplain dan keluh kesah warga, tetapi juga dapat memberikan kepastian hukum atas status informasi, baik informasi terbuka maupun informasi tertutup," beber Ijang Faisal.
Baca JugaDukcapil Kota Blitar Rebranding Dari Pelayanan Adminduk Menjadi Garda Depan Perlindungan SosialGus Hasan selaku pemateri pertama memaparkan materi tentang keterbukaan informasi menurut ajaran Islam.
"Eksistensi perempuan dalam Islam sangat dimuliakan. Mulia tidaknya sebuah bangsa bergantung dari peran yang dimainkan perempuan terutama kepiawaiannya dalam mengelola sebuah informasi," papar Gus Hasan.
Baca JugaPresiden Prabowo Teriak Free Palestine di Resepsi Pondok GontorSementara itu, Tema Perempuan dan Keterbukaan Informasi Publik saat Pandemi Covid 19 diutarakan Rektor Uninus selaku pemateri kedua.
"Wabah Pandemi telah menyebabkan terjadinya banjir informasi bahkan terjadi omisi,distorsi bahkan eufemisme informasi" tutur Engkus Kuswarno.
Baca JugaWacana ‘Black September’ Kembali Ramai di PublikDalam konteks komunikasi, tranparency terhadap informasi juga indepedency terhadap ketahanan hidup yang dimiliki perempuan dinilai lebih tinggi daripada laki-laki.
Perempuan pada umumnya tidak bisa menahan informasi bahkan cenderung menyampaikan kembali suatu informasi kepada orang lain.
Baca JugaPemilik UMKM Mengaku Dipalak Sejuta per Hari di Jogja"Walhasil, dibutuhkan sikap yang cerdas saat menerima juga mengelola sebuah informasi," tandasnya.
Sedangkan, Anne Friday Safaria sebagai pembicara ketiga mengupas tema tentang pentingnya perempuan mengetahui informasi publik.
Baca JugaPrabowo Terpukau dengan Lebah Begantong di HUT PAN"Tidak semua jenis informasi yang tampil di media massa merupakan informasi publik" tegas Anne.
Informasi publik merupakan informasi yang dikuasai badan publik terutama yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara. Perempuan disinyalir lebih well informed daripada laki-laki.
Baca JugaJejak Nihil Rombongan Jurnalis di Selat Sunda, Waketum IMO-Indonesia Soroti Kinerja Andra Soni hingga PigaiSeorang perempuan membutuhkan informasi publik untuk kesejahteraan dirinya dan keluarganya.
"Perempuan diharapkan memberikan kontribusi yang berarti bagi lahirnya suatu kebijakan publik. Dalam hal ini perempuan menjadi garda terdepan dalam mengelola dan menggunakan informasi," pungkasnya. (Red. Iwnaruna)
Baca JugaRUU Kamla Dinilai Tak Punya Ruang, Soleman Ponto: Jangan Ulangi Perdebatan Dua Dekade