Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Lapangan yang Belum Ingin Sepi

M Musakkir • 20 Aug 2026 • 0 komentar
Lapangan yang Belum Ingin Sepi
Gebyar Merah Putih. (Musakkir/Putraindonews)

Putraindonews.com, Bulukumba - Lomba telah selesai. Tetapi warga Desa Palambarae belum ingin pulang dari keramaian.

Pada hari ketiga Gebyar Merah Putih 19 Agustus 2026, lapangan desa masih dipenuhi warga hingga menjelang magrib. Antusiasme yang tidak juga surut membuat sejumlah perlombaan berlangsung lebih lama dari yang direncanakan. Seolah-olah yang sedang dipertahankan bukan lagi perlombaan, melainkan suasana berkumpul yang selama ini jarang mereka temukan.

Baca JugaSatgas PKH Serahkan Uang Rp 13,2 Triliun Serta Kuasai 6,2 Juta Hektar Kawasan Hutan

Hari itu, warga mengikuti lomba memasukkan pulpen ke dalam botol dengan bantuan kaca spion, lomba corong air, tarik tambang, hingga final bola sarung. Perlombaan sederhana, tetapi cukup untuk membuat lapangan kembali menjadi ruang bersama.

Seorang penonton bahkan berharap perlombaan ditambah.

“Coba tamba’ i ro lomba na kalaki, macole kegiatannu apana maroasi kampongnge. Ko malampe sunge maneng sikki makkebbu siko,” katanya.

Baca JugaPurnawirawan dan Prajurit Aktif Bertemu dalam Satu Momentum

Keramaian itu rupanya tidak hanya dinikmati selama pertandingan. Setelah seluruh lomba berakhir, keinginan untuk tetap berada di lapangan masih terdengar.

“Elo mupiki maroa di lapangannge, na purani lomba e,” ungkap seorang warga.

Baca JugaAsap Tebal Selimuti Langit Manokwari, Seluruh Penerbangan Dibatalkan

Kalimat itu barangkali menjadi penanda paling sederhana dari tiga hari perayaan tersebut. Warga tidak sekadar membutuhkan lomba. Mereka membutuhkan ruang untuk bertemu.

Malam harinya, Gebyar Merah Putih 2026 ditutup dengan malam ramah tamah dan penerimaan hadiah. Dalam laporan ketua panitia, disampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak berdiri di atas anggaran yang besar. Dana kegiatan dikumpulkan dari sumbangsih masyarakat secara door to door serta dukungan sejumlah sponsor.

Baca JugaSyahganda Resmi Gantikan Qodari sebagai Kepala Bakom

“Dana yang kami pakai itu merupakan sumbangsih dari masyarakat secara door to door dan beberapa sponsor yang masuk,” kata ketua panitia.

Namun, di tengah malam yang seharusnya menjadi ruang perayaan, beberapa kursi undangan masih kosong. Salah satunya kursi untuk pemerintah Desa Palambarae.

Baca JugaTerjebak Saat Kebakaran Rumah, Dua Pemuda di Matraman Meninggal Dunia

Ketua panitia menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan konfirmasi, tetapi tidak memperoleh balasan.

“Kami sudah konfirmasi, tapi tidak ada balasan. Setidaknya ada yang mewakili,” ujarnya.

Baca JugaPDU di HUT ke-81 TNI Disebut Mirip Tentara Korea Utara, Begini Penjelasan Panglima

Kekosongan kursi itu kemudian menjadi bagian dari percakapan malam tersebut. Bukan semata tentang siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir, melainkan tentang bagaimana sebuah kegiatan yang lahir dari masyarakat seharusnya dipandang oleh pemerintah.

“Seharusnya pemerintah bangga karena punya pemuda dan masyarakat yang antusiasnya sangat luar biasa, bukan malah menganggap hal ini yang sedang kita laksanakan sebagai salah satu bentuk persaingan,” lanjutnya.

Baca JugaPrabowo Gembira Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Bonus Akan Diatur Ketum PSSI

Tepuk tangan dan sorakan warga pecah

“Cocok ro tawwe na pau e,” terdengar suara dari tengah kerumunan.

Pembicaraan kemudian bergerak pada hal yang lebih lama: perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang selama beberapa tahun terakhir tidak terlaksana.

Baca JugaImbas Fasilitas Mewah, Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN

Ketua panitia mengajak warga mengingat bahwa setiap tahun terdapat anggaran untuk perayaan tersebut.

“Parelluki missengki ibu-ibu, bapak-bapak, perayaan seperti ini itu ada dananya setiap tahun. Tapi karena sudah beberapa tahun ini perayaan HUT tidak pernah terlaksana, dananya kita tidak tahu ke mana,” katanya.

Baca JugaRangkaian Aksi di Jakarta, Polisi Kerahkan 3.983 Personel

Ia tidak sedang meminta masyarakat untuk mencurigai siapa pun. Ia hanya meminta keterbukaan.

“Seharusnya disampaikan secara keterbukaan bahwa dana ini dialihkan ke mana. Karena kami ini sebagai masyarakat hanya ingin tahu, biar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi.”

Baca JugaPrakarsa Warga Jakarta Timur Gelar Donor Darah dan Bagi Kacamata Baca Gratis di Aula Kecamatan Ciracas, Gandeng PMI

Kembali tepuk tangan terdengar

“Betul itu.”

“Magani ro dipau maneng ni, macca towwe re anak.”

Malam itu, masyarakat seakan menemukan keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang selama ini hanya berputar di antara percakapan-percakapan kecil.

Baca JugaSatgas PKH Serahkan Uang Rp 13,2 Triliun Serta Kuasai 6,2 Juta Hektar Kawasan Hutan

Perayaan akhirnya bukan hanya tentang hadiah yang diterima para pemenang. Ia menjadi ruang tempat masyarakat berbicara tentang hak mereka untuk mengetahui, tentang pemerintah yang diharapkan hadir, dan tentang pemuda yang memilih bekerja daripada sekadar menunggu.

Di penghujung penyampaian laporan, ketua panitia tetap menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan selama tiga hari pelaksanaan lomba. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah mendukung dan berpartisipasi, serta kepada seluruh panitia yang membersamai kegiatan hingga selesai.

Baca JugaPurnawirawan dan Prajurit Aktif Bertemu dalam Satu Momentum

Ia berharap perayaan HUT Republik Indonesia dapat kembali dilaksanakan secara rutin di Desa Palambarae.

Lebih dari itu, ia berharap pemerintah dapat merespons kegiatan masyarakat dengan baik.

Baca JugaAsap Tebal Selimuti Langit Manokwari, Seluruh Penerbangan Dibatalkan

“Harapannya dari pemerintah itu bisa merespon dan mendukung kegiatan seperti ini dengan baik. Ada kolaborasi dan terjalin hubungan yang baik.”

Sebab, katanya, masyarakat dan pemuda sudah menunjukkan antusiasme.

Baca JugaSyahganda Resmi Gantikan Qodari sebagai Kepala Bakom

“Apana diitani masyarakatta sibawa pemuda na makessing maneng antusias na. Tambah makessing to kalau maroa-roa sih lapangan tercinta e.”

Lapangan itu akhirnya menyimpan sesuatu yang lebih panjang daripada pertandingan.

Baca JugaTerjebak Saat Kebakaran Rumah, Dua Pemuda di Matraman Meninggal Dunia

Tiga hari lomba memang selesai. Hadiah telah dibagikan. Panitia telah dibubarkan. Tetapi keinginan warga untuk kembali berkumpul belum ikut selesai.

Barangkali, itulah hadiah yang paling ingin dipertahankan dari Gebyar Merah Putih tahun ini: lapangan yang kembali menjadi milik bersama. Red/MB

Baca JugaPDU di HUT ke-81 TNI Disebut Mirip Tentara Korea Utara, Begini Penjelasan Panglima

Bagikan berita:

Berita Terkait