Ada pertanyaan yang kerap terlintas di benak mereka yang pertama kali menginjakkan kaki di Bali: mengapa orang Bali terlihat begitu religius, namun tak terlihat fanatik?
Di setiap jengkal tanah ada pura. Setiap pagi, canang diletakkan di depan toko, di atas motor, di pelataran kantor. Upacara demi upacara digelar, dengan sesajen dan mantra yang bagi orang luar terlihat rumit dan melelahkan.
Baca JugaMenyambut Era Baru Polri yang Lebih Humanis-AdaptifNamun, di balik keramaian ritual yang kasat mata itu, ada sesuatu yang tak banyak dilihat wisatawan.
"Spiritualitas bukan tentang apa yang terlihat, tapi tentang kesadaran. Ini yang jarang orang sadari," tulis pemilik akun Guswedha_ dalam sebuah refleksi yang belakangan viral di media sosial.
Baca JugaDi Ujung Petasan, Kerukunan Jakarta DiujiBukan Siapa Paling Benar, Tapi Siapa Paling Sadar
Bagi masyarakat Bali, agama bukan perlombaan untuk menentukan siapa pemilik kebenaran absolut. Agama adalah latihan untuk sadar.
Baca JugaMembentuk Masa Depan: Strategi Indonesia Menghadapi Badai Geopolitik GlobalKesadaran itu dirumuskan dalam filosofi tua yang terus hidup: Tri Hita Karana Tiga penyebab kebahagiaan.
Pertama, Parahyangan, menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan.
Kedua, Pawongan, menjaga hubungan dengan sesama manusia.
Ketiga, Palemahan, menjaga hubungan dengan alam.
Jika satu pincang, hidup menjadi tidak seimbang. Sesederhana itu Karena itu, Tuhan tidak dikurung di dalam pura. Ia diyakini ada di mana-mana.
Baca JugaParadoks Peradaban Modern"TIDAK ADA PAKSAAN untuk membenci yang berbeda. TIDAK ADA OBSESI merasa paling suci. Karena Tuhan tidak hanya ada di pura, Ia ada di alam, di sesama manusia, bahkan di dalam diri."
Kalimat itu yang membuat unggahan foto pura malam-malam saat hujan itu menyebar luas.
Baca JugaKetika Lapas Bukan Tempat untuk KemewahanBekerja Adalah Ibadah
Di Bali, batas antara yang sakral dan yang profan menjadi tipis. Seorang petani yang menjaga subak-nya agar air mengalir adil ke sawah tetangga, sedang beribadah. Seorang pedagang yang tidak menipu timbangannya, sedang melakukan bakti. Seorang pemuda yang membantu mengangkat sampah upacara, sedang berspiritualitas.
"Orang tidak takut pada Tuhan, mereka sadar setiap tindakan punya konsekuensi. Dan mungkin itulah spiritualitas yang sesungguhnya dalam beragama," tulisnya lagi.
Baca JugaReforma Agraria dalam Spirit Sumitro Djojohadikusumo: Tanah untuk Keadilan dan Kesejahteraan RakyatDi saat banyak tempat di dunia, agama justru menjadi sumber fanatisme yang memicu perpecahan merasa paling suci, paling benar, dan memaksakan kebencian pada yang berbeda.
Bali memberi pengingat yang sunyi dari sebuah pelataran pura yang basah oleh hujan malam itu. Bahwa spiritualitas sejati tidak mengajarkan obsesi.
Baca JugaHikmah di Balik Gonjang-Ganjing Muktamar NU ke-35, Panggung Para Gus Kembali MengemukaIa mengajarkan kesadaran. "TIDAK ADA OBSESI, TAPI TENTANG KESADARAN."
Religius tidak harus fanatik. Bukan soal siapa paling benar, tapi siapa paling sadar. Mungkin, Tuhan memang tidak hanya ada di pura, tapi juga di alam, di sesama, dan di dalam diri kita sendiri.
Baca JugaTragedi Anak Krakatau dan Tanggung Jawab Negara Melindungi JurnalisPenulis: Guswedha_ (Refleksi dari Pura)