Putraindonews.com, Jakarta – Menyongsong dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kondisi inflasi Indonesia terus berada dalam kisaran terkendali.
Kendati begitu, CORE Indonesia menilai penguatan daya beli masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah yang menantang lantaran pertumbuhan pendapatan belum cukup kuat mendorong kenaikan upah riil.
Baca JugaHasil Survei Vox Politica Ungkap 7 Menteri Berkinerja Buruk di Era PrabowoBadan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli 2026, sementara inflasi inti tercatat 2,92%.
Sementara itu, dari segi pendapatan, rata-rata upah buruh pada Februari 2026 tercatat Rp 3,29 juta per bulan. Jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang, bertambah sekitar 1,9 juta dibandingkan Februari 2025, sedangkan tingkat pengangguran terbuka berada di level 4,68%.
Baca JugaKoalisi Partai Nonparlemen Usulkan Ambang Batas Parlemen 1 PersenDirektur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan bahwa kenaikan upah secara nominal belum otomatis meningkatkan kemampuan belanja masyarakat.
Ia menilai situasi daya beli perlu dilihat dari upah riil, yakni nilai upah setelah memperhitungkan kenaikan harga.
Baca JugaPBNU Somasi Media ke Dewan Pers Soal Tudingan Aliran Uang ke Muktamar“Walaupun secara nominal terus meningkat, meski lambat, tingkat upah riilnya ini stagnan, bahkan dalam beberapa waktu mengalami penurunan,” ujar Faisal saat dihubungi, dikutip Minggu (27/9/2026).
Hal itu menunjukkan pekerja dapat menerima upah lebih besar secara nominal, namun kemampuan membeli barang dan jasa belum tentu ikut bertambah. Red/HS
Baca JugaRAPI Minta MK Batalkan Gugatan Pencalonan Gibran