Putraindonews, Jakarta - Menghadapi percepatan arus gelombang digitalisasi, ASPERKONI menyelenggarakan forum pemikiran strategis melalui webinar "Siap Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dalam Dunia Konstruksi" pada Rabu, 06 Mei 2026 pukul 14:00 WIB. Acara ini membedah peta jalan integrasi teknologi cyber-physical dalam siklus hidup rantai pasok dan eksekusi infrastruktur nasional.
Penerapan Revolusi Industri 4.0 pada sektor jasa konstruksi—sering disebut sebagai Construction 4.0—melibatkan konvergensi berbagai teknologi disruptif seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Cloud Computing, Additive Manufacturing (3D Printing), dan sistem otomatisasi lapangan berbasis robotik.
Baca JugaIPW: Peristiwa Polisi Tembak Polisi MeningkatHadir memandu diskusi, Ir. Sarjono Puro, M.T. menegaskan bahwa fenomena Construction 4.0 bukan lagi wacana masa depan yang jauh, melainkan kenyataan bisnis yang harus direspon hari ini. Perusahaan yang lambat beradaptasi dipastikan akan kehilangan efisiensi operasional dan daya saing dalam memenangkan pasar.
"Revolusi Industri 4.0 memindahkan titik berat industri konstruksi dari physical-heavy menjadi data-driven. Kontraktor yang menguasai data proyek—mulai dari efisiensi BBM alat berat, pergerakan material, hingga produktivitas per jam pekerja—adalah pihak yang akan memenangkan kompetisi," terang Ir. Sarjono Puro, M.T.
Baca JugaLagi! Menu MBG Kembali Menelan Korban, Kali Ini Terjadi di SMP Cisarua BogorDalam webinar ini, Ir. Sarjono Puro, M.T. mengurai secara komprehensif empat pilar utama dalam mengimplementasikan Construction 4.0 pada BUJK:
|
Pilar Transformasi |
Komponen Utama |
Manfaat Utama |
|
Konektivitas IoT |
Sensor Alat, Wearable Tag K3 |
Pemantauan aset & kondisi pekerja real-time |
|
Integrasi Data (Cloud) |
CDE (Common Data Environment) |
Kolaborasi tanpa sekat antar tim proyek |
|
Otomatisasi & AI |
Drone Survei, AI Scheduling |
Prediksi risiko keterlambatan & keselamatan |
|
Manufaktur Lanjutan |
3D Concrete Printing, Prefabrikasi |
Efisiensi bahan & pemangkasan durasi fisik |
Satu di antara topik menarik yang dibahas adalah pemanfaatan perangkat wearable berbasis IoT untuk meningkatkan standar K3 di area kerja yang berisiko tinggi. Sensor yang dipasang pada helm atau rompi pekerja mampu mendeteksi paparan suhu ekstrem, kelelahan fisik, hingga memberikan peringatan dini jika pekerja memasuki zona berbahaya (exclusion zone).
Ir. Sarjono Puro, M.T. menggarisbawahi bahwa transisi menuju Construction 4.0 memerlukan keberanian kepemimpinan untuk melakukan pangkas birokrasi internal dan investasi terarah pada tata kelola data.
Baca JugaProf. Asep Nana Mulyana Ungkap Dua Kendala Pemulihan Korban Tindak Pidana Massal"Jangan takut menghadapi disrupsi 4.0. Teknologi diciptakan bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk melipatgandakan kapabilitas dan efisiensi kerja tenaga ahli kita. Yang harus kita lawan adalah ketakutan untuk berubah dari kenyamanan metode konvensional," tutup Ir. Sarjono Puro, M.T.
Webinar yang berlangsung selama tiga jam ini memberikan perspektif baru bagi para pimpinan BUJK dalam menyusun rencana strategis (corporate roadmap) perusahaan guna menyambut era konstruksi pintar yang semakin transparan dan efisien. Red/HS
Baca JugaKMP Batumandi Dikabarkan Terbakar