Putraindonews.com, Jakarta – Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali terus konsisten melestarikan tradisi spiritualitas masyarakat akademiknya dengan memegang teguh nilai-nilai Kristiani.
Satu di antara tradisi kuat yang hingga kini dijaga dan menjadi denyut jantung kampus yakni Ibadah Rabuan.
Baca JugaSherly Tjoanda Harapkan Apindo Malut Berdampak NyataSetiap hari Rabu dalam seminggu sekali, seluruh civitas akademika Undhira menghentikan sejenak seluruh rutinitas formal. Jajaran rektorat, dosen, staf kependidikan, hingga perwakilan mahasiswa berkumpul bersama di bawah naungan Yayasan Dhyana Pura (YDP) untuk satu dalam ibadah.
Ketua Yayasan Dhyana Pura, Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ., M.Repro., FIAS., mengungkapkan, esensi tradisi mingguan ini guna merawat keseimbangan Ora et Labora (berdoa dan bekerja).
Baca JugaPHDI Pusat Gelar Upacara Mejaya-jaya dan Mesimakrama di Pura BesakihMenurut Dr. Nyandra, dalam seminggu sekali khususnya di tengah minggu momen tepat untuk mengecas nilai rohani setiap penghuni Undhira.
"Rabu pagi hingga siang itu waktu yang paling tepat untuk berhenti sejenak. Kami memperkuat spiritualitas melalui ibadah Rabuan yang juga kami padukan dengan kegiatan refleksi, pendidikan karakter, seminar dan agenda lainnya. Ibadah tanggal 24 Juni 2026 akan dipimpin langsung oleh Bishop Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB)," ujar Dr. Nyandra saat ditemui awak media, Selasa (23/6/2026).
Baca JugaKetum APINDO: UMKM Perlu Perkuat Inovasi dan Kapasitas KepemimpinanMomen rohani ini tak hanya diisi khotbah. Manajemen yayasan dan rektorat juga memanfaatkan jeda ibadah untuk menyampaikan refleksi, evaluasi, hingga rancangan kerja sama strategis semua sektor. Dengan demikian, seluruh tim akan bergerak selaras dalam satu visi.
Hidupkan Tujuh Karakter dan Rawat Inklusivitas
Bagi pihak YDP dan Undhira, bekerja dan belajar bukan hanya sebuah kewajiban, melainkan hal itu harus menjadi berkat bagi sesama. Lewat Ibadah Rabuan yang sudah masuk dalam kalender akademik wajib, pihak YDP ingin membumikan tujuh Karakter, terutama Integritas (Integrity), Percaya Diri, Pemimpin yang Melayani (Servant Leadeship), dan Keberagaman(Pluralita) Kewirausahaan, Profesionalitas dan berwawasan global.
Baca JugaPesawat Asian One Air Alami Kecelakaan di Bandara Bilorai Intan JayaNilai-nilai moral dan etika kerja kristiani yang universal terus ditanamkan lewat renungan para pendeta agar menjadi perilaku nyata sehari-hari, bukan hanya jargon.
Meski dikemas dalam liturgi Kristiani, mengingat Undhira didirikan oleh GKPB, suasana di dalam aula justru sangat inklusif dan general. Kampus ini juga dihuni oleh banyak mahasiswa dan staf yang beragama lain, Ibadah Rabuan bertransformasi menjadi ruang kultural untuk saling menghormati. Perbedaan keyakinan tidak menjadi sekat, melainkan harmoni yang memperkaya warna kampus.
Baca JugaSejumlah Pelari Nekat Terobos Pagar Cut-Off PointSuasana hangat itu sangat terasa di dalam Aula Gedung E kampus setempat. Saat ibadah dimulai, sekat-sekat birokrasi antara yayasan dan kampus seolah runtuh. Rektor, dekan, dosen senior, pegawai, hingga mahasiswa duduk setara sebagai satu keluarga besar.
Momen kebersamaan ini menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan Undhira sebagai salah satu pencetak SDM unggul di Bali tidak ditentukan oleh individu secara sepihak. Ada ekosistem yang saling menopang, mendukung, dan mendoakan satu sama lain.
Baca JugaJelang Jakarta Running Festival dan Konser Ye, Pemprov DKI Gelar Modifikasi CuacaLewat konsistensi ibadah mingguan ini, Undhira menegaskan komitmennya bahwa mengejar predikat teladan dan unggul harus selalu dikembalikan kepada sumbernya, yaitu rasa syukur dan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Red/Nov