Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

UJIAN MASUK PTN, Change.org ; 13.000 Orang Minta Gratiskan Rapid Test

S Samsuddin • 10 Apr 2021 • 0 komentar
UJIAN MASUK PTN, Change.org ; 13.000 Orang Minta Gratiskan Rapid Test

PUTRAINDONEWS.COM

JAKARTA | Gelombang pertama Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) akan segera dimulai pada Senin (12/9) depan. Diadakan di tengah pandemi, beberapa universitas penyelenggara UTBK pun mewajibkan peserta untuk rapid test Covid-19 secara mandiri.

Sebagian peserta mengaku merasa kesulitan mengakses rapid test karena harganya dianggap mahal. Salah satu peserta ujian masuk PTN lantas memulai petisi di laman Change.org pemerintah dapat menanggung biaya rapid test tersebut. Jumat 09/04.

Baca JugaGuruh Soekarnoputra Meninggal Dunia

“Untuk bayar biaya pendaftarannya aja sebetulnya banyak yang kesulitan. Ini malah harus ditambah biaya rapid test. Kami bukannya menolak melakukan tes rapid, namun tidak semua keluarga mampu membayar tambahan biaya 150-250 ribu rupiah tersebut,” tulis Yeni Dwi, seorang siswa kelas 12 yang memulai petisi.

Petisi yang ditujukan kepada Direktur Jenderal Perguruan Tinggi Kemdikbud, Prof. Ir. Nizar, M.Sc., DIC., Ph.D. tersebut kini telah didukung lebih dari 13.000 orang. Kebanyakan pendukung petisi memiliki alasan yang sama, yaitu merasa keberatan karena diharuskan membayar biaya tambahan untuk tes rapid secara mandiri.

Baca JugaTemuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong Buat Menkum Dicaci Publik

“Sebenarnya bisa saja tes menggunakan GeNose yang lebih murah,” cerita Yeni Dwi, “tapi GeNose adanya di stasiun, dan kalau mau tes harus membeli tiket kereta jarak jauh terlebih dahulu. Selain itu, gak semua orang tinggal di dekat stasiun kereta.”

Para pendukung petisi sebenarnya tidak menolak diadakannya tes ini. Vinka Aneliana, misalnya, menyatakan bahwa karena tidak semua orang mampu dan menurutnya, “sudah sewajarnya tes Covid-19 ini digratiskan demi kesehatan.”

Baca JugaPolri Luncurkan Pembayaran Denda Tilang dan STNK Digital

Selain itu, pendukung petisi lain, Cristopel Hutabarat, menganggap bahwa dengan menggratiskan rapid test ini, pemerintah dapat membantu melancarkan tujuan dan mimpi para calon mahasiswa. “Ini bukan bicara hanya tentang biaya, tapi ini menyangkut kehidupan dan masa depan mereka kelak,” tulisnya.

“Pendidikan tinggi adalah hak semua orang. Jangan sampai, hanya karena kita gak mampu membayar rapid test Covid-19, hak kami untuk mendapatkan pendidikan tinggi harus raib,” tutup Yeni di petisi. Red/Ben

Baca JugaSidak Dapur MBG, Plt Bupati Pati Temukan Ikan Lele Tinggal Tulang dan Kepala

Bagikan berita:

Berita Terkait