Minim Regenerasi Tokoh Adat Komunitas Lakawa Huba Fasilitasi Forum Budaya

Putraindonews.com – NTT | Ketua Komunitas Lakawa Huba memfasilitasi Musyawarah Rato Hodana dan Rato Litti dalam membahas jalur informasi adat (lalo we) pada saat Wulla Paddu dan Nyale untuk mengurai persoalan yang kini terjadi.

Pertemuan ini digelar di Kampung Situs Sodana pada Sabtu (21/10/23) siang tadi. Forum budaya tersebut adalah wadah untuk membahas berbagai informasi jalur adat serta metode penyelesaian masalah dengan pendekatan budaya.

Pantauan Putraindonews.com, dalam forum ini hadir pula tokoh Gereja sekaligus tokoh budaya Laboya bapak Hebu Kadobo dan beberapa tokoh lainnya.

Disepakati beberapa rencana tindak lanjut untuk membenahi berbagai hambatan jalur adat yan penyebabnya meliputi antara lain tidak adanya rekaderisasi Rato adat dalam Kabihu karena telah pindah keyakinan (suda dibabtis sebagai orang kristiani) dan atau tidak ada yang bersedia jadi Rato (petua adat). Masalah lainnya Rato atau petua adat dalam Kabihu tidak meneruskan informasi adat kepada ana tagallu (warga dalam Kabihu).

Untuk menjawab beberapa persoalan yang dihadapi dalam pelestarian budaya adat istiadat sesuai dengan hasil kerapatan para tokoh adat menawarkan beberapa Solusi yang akan ditempuh diantaranya; Rato Hodana, KLH dan beberapa tokoh akan mendekati Kabihu-kabihu yang mengalami masalah untuk dicarikan jalan keluarnya.

Selanjutnya akan dikoordinasikan dengan pemerintah setempat untuk bersama-bersama mengambil keputusan demi kelancaran jalur adat atau ritual adat wulla paddu dalam mewujudkan nilai dan simbol adat yang dijalankan melalui ritual wulla paddu .

“Alur atau jalur informasi adat (lalo we) terkesan tidak lancar padahal semua proses ritual di Kampung Hodana berjalan dengan baik, hanya yang menjadi kendala ketika kami menyampaikan informasi ke Rato Kabihu (klan), tidak diteruskan kepada warga Kabihu (ana ledu, ana limma) karena tidak ada lagi yang mau jadi Rato. Ini yang kita harus carikan jalan keluarnya bersama tokoh-tokoh adat dan tokoh masyarakat,” jelas Rato Uma Bawe Wura Kaledi.

Pada kesempatan yang sama Fery Kadobo selaku Tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama menyampaikan, pandangan masyarakat yang harus kita luruskan bahwa agama atau keyakinan kristiani yang di nilai berbeda dengan budaya dan adat istiadat tidaklah demikian.

“Kita masing-masing dapat menyakini agama yang kita yakini tetapi harus ada kesepahaman dalam menggali dan menegakkan budaya,” terangnya.

“Kita tetap menjadi umat beragama tetapi peran budaya kita harus dijalankan, karena budaya dan adat istiadat kita adalah tradisi leluhur yang wajib di lestarikan oleh setiap regenerasi. Pelestarian budaya adat istiadat dapat di jalankan setiap orang baik sebagai Rato maupun sebagai warga biasa,” tambahnya lagi.

Butuh sinergitas lintas tokoh lembaga gereja dan lembaga adat untuk duduk besama dalam mencari jalan keluar terkait kesamaan pemahaman tentang kelestarian budaya adat istiadat Masyarakat Sumba.

Ketua Komunitas Lakawa Huba Jhonatan Aguate sebagai Fasilitator penguatan Lembaga Adat Laboya berharap ada kesamaan pendapat antara semua pemangku kepentingan, baik lembaga adat dalam hal ini Rato, pemerintah dan lembaga agama harus menemukan kesamaan nilai terutama nilai kasih, kemanusiaan, lingkungan hidup, semangat kerja, tanpa harus mempertentangkan perbedaannya.

Menurut Ketua KLH itu bahwa Budaya adalah identitas diri yang lahir dari ilham Sang pencipta dan pikiran-pikiran visioner leluhur guna menjaga harmonisasi kehidupan di dunia dan akhirat.

“Mestinya terus kita gali dan rawat serta mensosialisasikan kepada semua elemen masyarakat,” pungkas Jhonatan Aguate dengan tegas selaku Ketua komunitas Lakawa Huba. Red/Nov

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

error: Content is protected !!