IMG-20191125-WA0077

PUTRAINDONEWS.COM

JAKARTA | Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyatakan kebijakan nasional dan daerah terkait kebencanaan harus sensitif. Ini karena Indonesia sebagai negara rawan bencana alam. Demikian yang disampaikan Jokowi saat meresmikan pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tahun 2019. di Istana Negara, Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Indonesia berada di wilayah jalur cincin api pasifik, dikenal dengan istilah Rings of Fire. letak Indonesia yang berada pada jalur sabuk Alpide juga jadi biang mengapa sering terjadi gempa. sabuk Alpide merupakan jalur gempa paling aktif nomor dua di dunia. Berkat kondisi tersebut tidak heran kalau permukaan bumi kita terlihat tidak pernah bisa tenang.

Sebagai negara yang memiliki letak wilayah unik, hadirnya beberapa lempeng di sekeliling Indonesia memang tidak bisa dihindarkan. Negara kita kini berada di antara tiga lempeng aktif yakni Indo-Australia dari selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari Timur. Keadaan ini pun mengakibatkan kondisi geologi di bawah permukaan Indonesia terus saja bergejolak setiap waktunya. Alhasil, munculnya sebuah gunung api baru, gempa bumi, atau tsunami tidaklah bisa dihindari oleh masyarakat tanah air. Maka dari itu pentingnya sebuah mitigasi bencana sangatlah diperlukan untuk meminimalisir hal tersebut.

Pencegahan dan penanggulangan bencana harus mulai ditanamkan sejak dini. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. “Tujuannya untuk menanamkan pendidikan edukasi bencana sejak dini. “Negara kita memang berada pada Ring of Fire yang sangat rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, tsunami, dan lain-lain. Karena itulah masyarakat Indonesia perlu dilatih siaga dan tanggap menghadapi bencana,” ujar Antonius Natan, usai simulasi peduli bencana (Pena)  di Istana Kana, Jakarta Pusat pada Kamis-Sabtu, 21-23/11/2019.

Antonius Natan sebagai pelaksana kegiatan, menjelaskan, “Kegiatan PENA (Peduli Bencana) yang dilaksanakan oleh Alfa Omega Care (Yayasan Karya Alfa-Omega) kali ini merupakan kegiatan yang akan diadakan secara berkala. “Kesempatan khusus kali ini melibatkan rekan-rekan jurnalis dari media kristiani. “Jurnalis perlu dibekali dan dilatih untuk siap-siaga dan tanggap dan peduli bencana. Bila nantinya para jurnalis media kristiani meliput suatu peristiwa bencana, misalkan bencana alam, mereka dapat melakukan tugas jurnalistik dengan baik, dan juga dengan pembekalan pemahaman dan pengetahuan sebagai relawan PENA, bisa turut ambil bagian menolong”.

Antonius Natan menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan PENA tersebut, didukung juga oleh BNPB, bahkan kurikulum yang dipakai sudah atas rekomendasi BNPB. “Kondisi wilayah Indonesia yang rawan bencana ini, masyarakat perlu dibekali pengetahuan dan kemampuan yang siap siaga dan tanggap bencana. Siap dan siaga sebelum bencana terjadi, tanggap saat mengatasi bencana, dan mampu mengelola pemulihan pasca bencana,” lanjut Natan.

Pelatihan PeNa (Peduli bencaNa) ini menjadi hal yang penting dilakukan secara meluas. “Kami akan melatih komunitas-komunitas secara luas, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah-daerah lain, khususnya daerah yang rawan bencana,” tandas Natan.

Pelatihan PeNa ini diikuti 25 peserta. Pelatihannya  kelas Basic/Dasar ini sebagai bekal mereka memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menghadapi bencana seperti menghadapi bencana kebakaran dan bencana alam. Materi yang disampaikan adalah kurikulum Cepat Evakuasi Respons Tanggap Bencana (CERT) yang sudah memperoleh rekomendasi dari Badan Nasional Penamggulangan Bencana (BNPB).

Pelatihan PeNa ini difasilitasi oleh para instruktur terlatih, seperti Peri, Andrew, dan dr. Carla Riupassa. Selain pemahaman dasar yang bersifat teoritis, para peserta juga dilatih melalui simulasi yang sudah disiapkan, seperti mengatasi kebakaran, memilah dan memilih untuk menentukan prioritas pertolongan, dan memberikan pertolongan medis dasar.

Ketika ditanyakan mengapa banyak wartawan yang diberikan pelatihan, Natan menjawab bahwa wartawan memiliki kekuatan dalam menuliskan tentang pengetahuan dan cara-cara untuk siaga dan tanggap terhadap bencana. Para wartawan mampu mengolahnya agar mudah ditangkap dan dimengerti masyarakat (pembaca berita). Apa yang sudah ditulis para wartawan tersebut selanjutnya dapat disebar secara meluas kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat teredukasi untuk siap-siaga dan tanggap terhadap bencana yang sewaktu-waktu terjadi, sehingga mereka dapat menolong dirinya dan orang di sekitarnya.

Dengan semakin teredukasinya masyarakat tersebut, maka kita mampu meminimalisasi korban bencana. “Sejauh ini jika terjadi bencana di Indonesia, masih banyak korban yang berjatuhan. Semoga melalui pelatihan PeNa ini, korban yang berjatuhan dapat seminim mungkin,” tutup Natan. Karena peran serta masyarakat dalam upaya PB itu diatur dalam Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 11 Tahun 2014 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (Perka BNPB No. 11/2014). Peraturan ini merupakan mandat dari Pasal 26 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (UU No. 24/2007), Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (PP No. 21/2007), dan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana (PP No. 22/2008).  Perka BNPB No. 11/2014 ditetapkan oleh Kepala BNPB.

Dalam penjelasan lanjutan, Antonius Natan memaparkan pengertian  peran serta masyarakat adalah proses keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan PB secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman risiko dan dampak bencana. Sedangkan pengertian masyarakat itu sendiri adalah sebuah komunitas yang saling tergantung satu sama lain hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. “Masyarakat merupakan salah satu elemen utama Penanggulangan Bencana.”

Pelatihan PeNa (Peduli Bencana) ini diinisiasi oleh Jaringan Doa Nasional (JDN), Alfa Omega Care, My Home Indonesia, PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia) DKI Jakarta, Royal Ranger, dan Lumbung Yusuf Indonesia ini dilabel dengan Gerakan Siaga Tanggap (GESIT) Bencana. “Ini adalah pelatihan perdana yang kami laksanakan dan para pesertanya sebagian besar kami libatkan dari wartawan (jurnalis), seperti dari Persatuan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI) dan Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna),” jelas Antonius Natan. Sementara satu-satunya jurnalis yang mewakili IMO (Ikatan Media Online) adalah Roy Agusta dari Chronosdaily.com

Di akhir pelatihan, peserta yang hanya dibatasi 25 orang ini, menerima sertifikat dan diharapkan dapat menjalankan tugas dengan baik, setidaknya di lingkungan sekitar rumah saat mendadak terjadi musibah atau bencana ringan, atau saat berada di perjalanan. Selain para instruktur yang terlatih, nampak hadir perwakilan lembaga pendukung seperti Harti Hartidjah dan penanggung jawab kegiatan, Ibu Non Rawung.

Sumber; Chronosdaily.com