Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Kebaya Warisan Budaya Bersama Antar-Bangsa

S Samsuddin • 11 Jul 2024 • 0 komentar
Kebaya Warisan Budaya Bersama Antar-Bangsa

Putraindonews.com-Kebaya merupakan warisan kebudayaan bersama antarbangsa yang berpotensi menjadi instrumen perdamaian dunia.

"Kebaya berkembang melintasi berbagai suku bangsa dan etnis, sehingga berpotensi menjadi karya yang mampu menjadi pemersatu dan mewujudkan perdamaian antarbangsa," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam sambutannya saat membuka diskusi daring bertema Perjalanan Kebaya Indonesia untuk Perdamaian Dunia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 bersama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Rabu (10/7).

Baca JugaLestari Moerdijat: Tingkatkan Minat Baca Masyarakat secara Konsisten

Diskusi yang dimoderatori Luthfi Assyaukanie, Ph.D (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd (Ketua Kowani), Ms. Hanako Ikeno (Presiden Global Peace Women), Prof. Ismunandar, Ph.D (Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Paris), dan Penny Herasati (Direktur Sosial Budaya & Organisasi Internasional Negara - Negara Berkembang, Kementerian Luar Negeri RI) sebagai narasumber.

Selain itu hadir pula Ir. Indiah Marsaban, MBA (Dosen FIB Universitas Indonesia) sebagai penanggap.

Baca JugaGelar Rapim, BP MPR Tetapkan Lima Topik Kajian 2026 dan Program Kegiatan Baru tentang Konstitusi

Secara historis, jelas Lestari, kebaya merupakan kebudayaan bersama, yang tidak hanya dimiliki satu negara saja.

Dalam perspektif sejarah, jelas dia, kebaya berkembang dalam peradaban manusia, mempertemukan ragam suku bangsa dan etnis.

Baca JugaLestari Moerdijat: Pangkas Ketimpangan Kasus Pernikahan Dini di Tanah Air

Kebaya juga, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, merepresentasi budaya dan bahasa tertentu, serta dapat diterima sebagai budaya bersama.

Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu mengungkapkan, berdasarkan catatan sejarah, kebaya terhubung dengan banyak negara pada periode modern. Seperti antara lain Tiongkok, Arab, India, Portugal, Belanda dan negara-negara sekawasan.

Baca JugaBencana Hidrometeorologi Terus Terjadi, Eddy Soeparno Tegaskan Urgensi RUU Pengelolaan Perubahan Iklim

Keterhubungan masa lalu itu terjadi, tambah dia, karena perdagangan rempah dan kerja sama perdagangan lainnya, sehingga menciptakan akulturasi budaya yang diteruskan lintas generasi dalam bentuk fesyen dan bahasa.

Atribut keterhubungan tersebut, tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, menguatkan kebaya sebagai alat diplomasi budaya untuk perdamaian dunia.

Baca JugaBicara di Forum Geothermal Dunia, Eddy Soeparno Mengajak Investor Tanam Modal di Proyek Panas Bumi Indonesia

Pada kesempatan yang sama Ketua Kowani Giwo Rubianto Wiyogo mengungkapkan peringatan Hari Kebaya Nasional yang pertama akan diselenggarakan pada 24 Juli 2024 di Istora Senayan, Jakarta.

Peringatan Hari Kebaya Nasional itu, tegas Giwo, harus dimanfaatkan sebagai momentum meningkatkan persatuan dan perjuangan perempuan Indonesia agar semakin berdaya dan naik kelas. "Jadikan kebaya sebagai alat pemersatu bangsa dan negara-negara sekawasan," tegas Giwo.

Baca JugaWaka MPR RI, A.M. Akbar Supratman, Bertemu Kepala Daerah Se-Sulawesi Tengah, Dukung Program Prioritas Presiden Prabowo

Presiden Global Peace Women, Hanako Ikeno mengungkapkan, sampai akhir tahun lalu dia tidak tahu apa itu kebaya. Hingga akhirnya, ujar Hanako, dia menyukai kebaya.

Kebaya, menurut dia, merupakan metafora dalam pembicaraan di global peace foundation yang selalu berupaya membangun persatuan.

Baca JugaLestari Moerdijat: Perluas Akses PAUD Berkualitas untuk Wujudkan Pendidikan Dasar yang Lebih Baik

Karena, tegas Hanako, hampir di sejumlah negara sudah menggunakan kebaya, seperti di Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand, yang saat ini sedang bersama mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO.

Kebaya itu, tegas dia, melampaui batas agama dan etnis, terbukti dengan adanya pengajuan bersama kebaya oleh sejumlah negara ke UNESCO.

Baca JugaHNW Apresiasi Kegiatan JPRMI Melalui Masjid Selamatkan Gen Z dan Bonus Demografi

Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Paris, Ismunandar mengungkapkan secara resmi kebaya diajukan bersama menjadi warisan budaya tak benda ke UNESCO pada Maret 2023, prosesnya diperkirakan sekitar dua tahun.

Bila prosesnya lancar, jelas Ismunandar, pengajuan bersama kebaya itu akan disidangkan UNESCO pada Desember tahun ini.

Baca JugaMencegah Terjadinya Gagal Berangkat Haji, HNW Dorong Kemenhaj Bentuk Tim Verifikasi Administrasi Dana Haji Khusus

Menurut dia, hingga saat ini 13 warisan budaya Indonesia sudah tercatat di UNESCO. Selain itu, jelas Ismunandar, saat ini Indonesia juga berupaya menginskripsikan Kolintang yang mirip Balafon, alat musik kayu dari Afrika dan Mali yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Ismunandar berpendapat, upaya untuk mendaftarkan warisan budaya ke UNESCO penting bagi sebuah negara.

Baca JugaLestari Moerdijat: Keadilan Bagi Perempuan Harus Didukung Setiap Anak Bangsa

Selain sebagai bagian tanggung jawab negara dalam melestarikan budaya, jelas dia, juga bisa dimanfaatkan sebagai alat diplomasi hingga ekonomi.

Dosen FIB Universitas Indonesia, Indiah Marsaban berpendapat kebaya itu mempersatukan untuk mewujudkan perdamaian.

Baca JugaLestari Moerdijat: Tingkatkan Minat Baca Masyarakat secara Konsisten

Di Indonesia, tegas Indiah, mulai mbok jamu sampai Ibu Negara memakai kebaya, sehingga kebaya itu egaliter dan inklusif. Siapa saja bisa memakai kebaya.

Sebuah warisan budaya yang sudah tercatat di UNESCO, tambah dia, jika tidak dijaga, dirawat dan dilestarikan, bisa tidak diakui bila budaya itu tidak hidup lagi.

Baca JugaGelar Rapim, BP MPR Tetapkan Lima Topik Kajian 2026 dan Program Kegiatan Baru tentang Konstitusi

Pada kesempatan itu, wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat diskusi tentang kebaya menambah pengetahuan kita.

Memakai kebaya, menurut Saur, selain mencerminkan sikap egaliter dan inklusif, juga estetis.

Baca JugaLestari Moerdijat: Pangkas Ketimpangan Kasus Pernikahan Dini di Tanah Air

Bergabungnya Indonesia dengan empat negara lain dalam pengajuan kebaya sebagai warisan budaya tak benda, jelas Saur, jelas memperlihatkan solidaritas dan mempekuat kebaya sebagai alat diplomasi.

Saur berharap, pada peringatan Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli mendatang banyak orang yang berkebaya dan menjadikan kebaya pakaian keseharian.

Baca JugaBencana Hidrometeorologi Terus Terjadi, Eddy Soeparno Tegaskan Urgensi RUU Pengelolaan Perubahan Iklim

Dengan didaftarkannya kebaya ke UNESCO dan ditetapkannya Hari Kebaya Nasional, tegas Suar, memperkuat makna kebaya dalam kehidupan berbangsa.Red/HS

Tags: #Indonesia #lestari moerdijat #budaya #mpr ri #dpr ri

Bagikan berita:

Berita Terkait