Silaturahmi Idul Fitri 1446H Sambil Rekreasi dan Diskusi Literasi

Putraindonews.com, Sulsel – Bersilaturahmi dalam rangka Hari Raya Idulfitri, bisa diisi dengan kegiatan rekreatif sembari mendiskusikan rencana-rencana kolaborasi demi memajukan gerakan literasi. Itulah yang mengemuka dalam silaturahmi di rumah Nasrah Waty, S.Pd, Kepala SMP Negeri Pakabba, di Jalan Bonto Bila, Galesong Utara, Kamis, 3 April 2025.

Begitu memasuki halaman rumah Bu Nasrah, langsung disuguhi suasana sejuk, dengan pepohonan hijau.

Rumah Bu Nasrah ini berada di Dusun Campagaya Timur, Desa Tamasaju, tak jauh dari Tempat Pelelalangan Ikan (TPI) Beba, Kabupaten Takalar.

Suami ibu kepala sekolah yang juga merupakan guru penggerak ini, adalah Sekretaris Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara. Namanya, Nasrullah Daeng Sijaya, S.Pd.

Selain sebagai Sekdes, Daeng Sijaya juga merupakan Ketua Umum Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Takalar.

Kampung ini disebut Dusun Campagaya, karena menurut Daeng Sijaya, dahulu di kawasan ini memang banyak pohon Campagaya. Pohon ini punya bunga berwarna kuning yang harum.

Di rumahnya, terdapat dua pohon campagaya di dekat kolam. Adapula pohon mangga harum manis, kelapa, sukun, kolasa, bambu, jati, pepaya, dan jenis tanaman lainnya.

Pohon-pohon itu meneduhi 5 saung berbagai ukuran, yang berada tepat di samping kolam berukuran 8×20 meter.

“Dahulu ini, merupakan tempat wisata. Bisa dicari di Google Maps, namanya Kolam Renang Tepi Sawah,” terang Daeng Sijaya.

Jika diperhatikan, terlihat masih ada seluncuran yang tak lagi berfungsi, di sisi barat kolam. Sementara di bagian timur, terdapat toilet dan tempat untuk membilas.

Namun Daeng Sijaya mengakui, untuk mengelola kolam renang ini butuh perhatian serius. Apalagi, dia tidak punya filter air agar kolamnya selalu terjaga baik.

Selain itu, pengunjung juga tidak terlalu banyak. Tentu saja ini berdampak pada pemasukan dan biaya pemeliharaan.

BACA JUGA :   Sebanyak 112 Pencaker Papua Ikuti Pembekalan Skill

Kolam permandian yang berada di sebelah persawahan ini pun sempat vakum. Daeng Sijaya lantas teringat impiannya ketika pertama kali makan ikan nila di Yogyakarta.

“Sewaktu pertama makan ikan nila, saya punya impian, suatu saat akan memelihara ikan itu di halaman rumah,” cerita Daeng Sijaya kepada tamu-tamunya.

Siang itu, beberapa guru yang jadi teman istrinya tengah bertamu. Ini kunjungan spesial di hari istimewa, Hari Raya Idulfitri.

Tamu-tamu yang disuguhi aneka penganan itu duduk di bawah pohon mangga yang rindang. Mereka adalah Miftahul Jannah, S.Pd, M.Pd, Kepala PAUD Sikamaseang, dan relawan literasi.

Juga ada Nuzul Haq, S.Pd, M.Pd, Koordinator Guru Penggerak Sulsel, dan pengajar di SMP IT Wahdah Islamiyah, Makassar.

Selain itu, ada Kepala SD Negeri Layang IV/72, Muhammad Agus, S.Pd, Gr, serta Jumriah, S.Pd, M.Pd, yang tengah menempuh pendidikan doktoral di Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan suaminya.

Rusdin Tompo juga diundang oleh Bu Nasrah. Pegiat literasi ini, pernah berbagi motivasi dan inspirasi dengan siswa-siswi SMP Negeri Pakkaba, yang berada di Dusun Julumata, guna mendorong anak-anak menulis.

Daeng Sijaya melanjutkan, kolam itu kemudian diisi dengan ikan nila sebanyak 6.000 ekor. Total modal awal, saat itu, sebesar Rp7.000.000. Itu sudah termasuk pakan dan mesinnya.

Daeng Sijaya lalu memulai budidaya ikan nila. Tadinya, kata dia, bukan cuma ikan nila yang dipelihara tapi juga ikan lele. Namun karena dia tidak makan lele maka tidak teruskan.

“Sejak mengembangkan budidaya ikan nila ini, saya sudah 5 kali panen. Rata-rata pembelinya dari luar Takalar. Saya jual Rp40.000 per kilo,” lanjut Daeng Sijaya.

BACA JUGA :   SAMBUT KEMERDEKAAN KE-75 RI, Persit KCK PD XII/Tpr Sambangi Veteran RI

Budidaya seperti ini, katanya, sangat didukung oleh Kementerian Desa (Kemendes). Karena bagian dari program ketahanan pangan.

Ikan nila itu lalu ditangkap kemudian dibakar oleh Daeng Sijaya. Setelah matang, dihidangkan bersama sambal dan raca-raca mangga.

Menu lainnya, cumi dan udang, sayur, serta burasa dan gogoso dihidangkan di atas meja panjang.

Makan bersama dengan suasana alam pedesaan tentu terasa beda. Dusun Cempagaya Timur ini walau berada tak jauh dari Jalan Poros Takalar, tapi masih terasa nuansa desanya.

Di sisi utara kolam terdapat sawah yang membentang luas, yang dibatasi jalan setapak dari paving blok.

Tampak serombongan itik berjalan di persawahan yang sudah di panen. Juga terdapat kerbau yang tengah digembalakan oleh pemiliknya.

Usai makan bersama, obrolan ringan berlangsung antara tamu dan tuan rumah. Ada pembicaraan untuk mengadakan pelatihan jurnalisme warga, mengingat Desa Tamasaju sudah punya website.

Pengembangan digitalisasi desa juga disarankan untuk berbagai keperluan. Bisa untuk promosi desa atau terkait kegiatan UMKM.

Potensi rumah pasangan Daeng Sijaya dan Bu Nasrah ini dengan kolam ikan dan saung, memberi banyak inspirasi.

Rusdin Tompo menyarankan, bagus kalau diadakan kegiatan literasi di tempat ini, termasuk literasi budaya. Nanti dibuatkan perpustakaan sebagai pendukungnya.

Lokasi ini juga cocok untuk kegiatan outing class. Anak-anak bisa belajar literasi lingkungan, mengenal beragam vegetasi yang tumbuh di situ.

Terutama untuk sekolah-sekolah yang akan mengembangkan program Adiwiyata, seperti SD Negeri Layang IV/72. Kegiatan pengenalan lingkungan dan kegiatan literasi ini, malah bagus jika dilakukan sejak masih duduk di PAUD. Red/RT

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

error: Content is protected !!