Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Ajoeba Wartabone dan Jurnalisme Kebangsaan di Masa Revolusi Indonesia

S Samsuddin • 01 Mar 2026 • 0 komentar
Ajoeba Wartabone dan Jurnalisme Kebangsaan di Masa Revolusi Indonesia

Nama Ajoeba Wartabone bagi orang Gorontalo, dan Sulawesi Utara, tertulis dengan tinta emas. Ia pernah menjadi Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan menjabat sebagai Kepala Pemerintahan Umum Gubernur Militer di Manado.

Sebelum mendapat amanah duduk dalam pemerintahan, pria kelahiran Gorontalo, 11 Juni 1894 ini, merupakan kolumnis dan jurnalis. Tulisan-tulisannya kritis-reflektif-sugestif, penuh dengan ide-ide dan gagasan pembaruan, juga menekankan pentingnya keadilan, dan kesetaraan gender.

Baca JugaMahkamah Agung dan Ikhtiar Menjaga Muruah Keadilan di Indonesia

Ajoeba Wartabone wafat dalam suasana bulan Ramadan, di hari Jumat, 26 April 1957, dalam usia 63 tahun. Kakak dari pejuang dan Pahlawan Nasional, Nani Wartabone, ini dimakamkan di Desa Bubeyo, Bone Bolango, Gorontalo.

Tulisan ini untuk mengenang Ajoeba Wartabone, yang punya Gara'i Adat "Ta loo Layi a Lipu", artinya Putra Terbaik yang menjadikan negeri Gorontalo lebih menonjol dan dikenal luas.

Baca JugaMenjaga Gula, Menjaga Negara: Saatnya Membenahi Tata Kelola untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan

Nasionalis-Republikein

Dalam buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja, Biografi Gagasan dan Kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia Bersatu (Diomedia, 2025) yang ditulis Dr Basri Amin, sang tokoh disebut sebagai intelektual awal Gorontalo.

Prof Dr Meutia Hatta Swasono, Ketua Umum Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI), periode 2024-2029, bahkan menyebut Ajoeba Wartabone sebagai pejuang-pemikir dari Indonesia Timur.

Baca JugaAHY dan Arah Strategis Infrastruktur Wilayah

Ajoeba Wartabone merupakan seorang terdidik. Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), Gorontalo, dan Hoofdenschool, Tondano, antara tahun 1903-1914.

Ia pernah pula bersekolah di Bestuursschool, Batavia, tahun 1924-1926. Sekolah pamong praja ini didirikan pemerintah kolonial Belanda untuk mendidik calon pegawai administratif, terutama bagi kalangan bumiputra.

Baca JugaZulhas dan Jalan Menuju Swasembada Pangan

Meski mengenyam pendidikan barat dan keturunan bangsawan, tetap pria berpenampilan rapi yang suka mengenakan dasi dan bertopi ini, jauh dari kata feodal. Anggota parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) dari Fraksi Progresif ini bahkan merupakan nasionalis-republikein tulen. NIT mencakup wilayah Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku.

Ini tercermin pada pernyataan ikoniknya, "Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja", di mana saat itu Yogyakarta merupakan ibu kota Republik Indonesia.

Baca Juga2 Tahun Prabowo-Gibran: Ujian dan Arti Sebuah Komitmen

Pekik yang disampaikan dalam pidatonya pada Pemandangan Umum Parlemen NIT di Makassar, tahun 1947 itu, secara eksplisit menegaskan sikapnya terhadap Republik Indonesia. Bahwa NKRI harga mati! Begitu, dalam bahasa kita sekarang.

Intelektual-Jurnalis

Dalam usia relatif muda, tulisan-tulisan Ajoeba Wartabone sudah tersebar luas di media cetak, dan dibaca kalangan terpelajar di Celebes Oetara dan di Hindia Belanda.

Baca JugaKoordinasi Polisi dan Jaksa: Mengakhiri Ego Sektoral dalam Perkara Pidana

Melalui surat kabar Tjahaja Siang, dan Majalah Pertimbangan, pemikiran-pemikirannya seputar kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, serta visinya tentang kemodernan diekspresikan. Tjahaja Siang merupakan koran tertua kedua di luar Pulau Jawa, yang sudah terbit sejak tahun1869.

Tulisan-tulisannya itu dapat dipastikan merupakan akumulasi dari bacaan-bacaannya dan jejaring pergaulannya, sejak masa pendidikan hingga memasuki dunia pergerakan. Kadar intelektualitasnya terasa dalam penggunaan diksi dan kutipan berbahasa Belanda.

Baca JugaKementerian PU: Membangun Infrastruktur, Menegakkan Integritas

Sebagai jurnalis, Ajoeba Wartabone pernah bekerja di Majalah Pertimbangan, tahun 1932-1933. Ia duduk dalam jajaran redaksi bersama Mr Soenarjo (Makassar), GR Pantaow (Jakarta), dan A Durand. Media yang terbit tahun 1931 ini dipimpin oleh GE Dauhan, dengan direktur Mr Iskaq Tjokrohadisoerjo.

Posisinya sebagai redaktur membuktikan kapasitas dirinya. Apalagi kontrol pemerintah kolonial Belanda, di masa penjajahan, terbilang ketat. Namun, Ajoeba Wartabone mampu menjalankan posisinya secara optimal.

Baca JugaMenyambut Era Baru Polri yang Lebih Humanis-Adaptif

Majalah Pertimbangan mengklaim dirinya sebagai "majalah untuk rakyat, mementingkan soal-soal politik, sosial, ekonomi". Pelanggannya mencapai tidak kurang dari tiga ribu orang.

Oleh: Rusdin Tompo

Penulis Adalah Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan

Tags: #ajoeba wartabone

Bagikan berita:

Berita Terkait