Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Bisa Jadi Alternatif, Digitalisasi Mampu Pangkas Anggaran Pemilu dan Pilkada Serentak 2024

S Samsuddin • 20 Sep 2021 • 0 komentar
Bisa Jadi Alternatif, Digitalisasi Mampu Pangkas Anggaran Pemilu dan Pilkada Serentak 2024

Putraindonews.com-Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta Nurliah Nurdin memaparkan, digitalisasi aktivitas Pemilu dan Pilkada 2024 bisa menjadi alternatif dalam menekan anggaran Pemilu di masa pandemi.

Hal itu disampaikannya dalam webinar Masyarakat Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) bertajuk “Sukseskan Pemilu dan Pilkada Serentak Tahun 2024 di Tengah Pandemi Covid-19”. Acara tersebut dilaksanakan pada Senin (20/9/2021) secara virtual.

Baca JugaResmikan Sekretariat "Rumah Besar", IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media Online

Ketua Umum MIPI Bahtiar dalam sambutannya mengatakan, anggaran mengadakan Pilkada dan Pemilu 2024 tidaklah kecil. Apalagi di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini.

“Kita hari ini kita sama-sama tahu, untuk melaksanakan Pemilu perlu uang yang sangat besar, tetapi uang negara kita sangat terbatas,” kata Bahtiar.

Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi Masyarakat

Dalam kesempatan itu, Nurliah Nurdin menjelaskan, anggaran pemilu yang diajukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 2024 yang sebesar Rp 86 triliun.

Angka tersebut meningkat dari Pemilu Tahun 2014 sebesar Rp16 triliun dan Pemilu Tahun 2019 sebesar Rp27 triliun.

Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah Rakyat

Berdasarkan data yang ia peroleh, Nurliah mengatakan, Pemilu Tahun 2019 saja merupakan peringkat ketiga Pemilu termahal di dunia.

Sementara, saat ini tengah terjadi pandemi Covid-19, perlu ada sense of crisis terhadap pandemi, jangan sampai masyarakat menjadi korban.

Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya Triliunan

Adapun beberapa alternatif untuk menekan anggaran, di antaranya dengan melaksanakan kampanye yang lebih singkat, serta memanfaatkan alat atau teknologi yang canggih.

Nurliah merujuk negara Korea Selatan yang telah berhasil melakukan hal tersebut.

Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla

Di mana di Korea Selatan, persiapan pendaftaran pemilih dilakukan dalam waktu 5 hari; pendaftaran kandidat selama 2 hari; masa kampanye presiden, periode kampanye di Korea Selatan selama 12 hari; dan penerapan home voting. “Kita belajar dari negara lain seperti Korea Selatan di masa pandemi,” ujarnya.

Adapun proses digitalisasi Pemilu yang dilakukan Korea Selatan meliputi: eletoral campaign (kampanye pemilu digital), voter registration (pendaftaran digital), poll worker training (pemungutan suara digital), vote casting (pemberian suara secara digital), hingga electoral dispute resolution (penyelesaian pemilu secara digital). Red/Ben

Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang
Tags: #Covid-19 #Indonesia #pemilu #pilkada

Bagikan berita:

Berita Terkait