Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Februari ini, cerita itu menunggu untuk dikirim: We Love Bulukumba

S Samsuddin • 13 Feb 2026 • 0 komentar
Februari ini, cerita itu menunggu untuk dikirim: We Love Bulukumba

Putraindonews.com, Bulukumba - Di tengah arus cerita tentang perayaan 66 Tahun Bulukumba yang telah digelar pada 4 Februari 2026 dengan doa dan harapan lebih baik. Pemerintah dan masyarakat merayakan seremoni ulang tahun Bulukumba dengan ragam rupa yang tentunya sejalan dengan filosofi Malisiparampé Tallang Sipahua. Namun, sebuah ruang sunyi di selatan Sulawesi justru memilih cara berbeda untuk merayakan Bulukumba: dengan menulis. Rumah Buku SaESA membuka pengumpulan karya bertema “We Love Bulukumba” pada 13–25 Februari 2026. Tulisan dikirim melalui surat elektronik ke [email protected]. Karya yang terpilih akan diterbitkan dalam format zine—sebuah medium sederhana yang intim, tetapi sering kali lebih jujur dari buku-buku tebal di rak toko.

Ajakan ini bukan sekadar undangan menulis tentang destinasi wisata atau kebanggaan geografis. Justru di situlah titik berangkatnya: Bulukumba bukan hanya Butta Panrita Lopi. Bukan semata pantai berpasir putih, bukan pula sekadar ritual budaya yang difoto dan dibagikan ulang di media sosial dengan cerita paling romantis.

Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-Singapura

Bulukumba, dalam tafsir Rumah Buku SaESA, adalah manusia yang menghidupi dan dihidupi oleh ruang itu. Adalah percakapan di teras rumah, nelayan yang pulang senja, anak muda yang menyimpan mimpi di balik layar ponsel, hingga mereka yang pernah tinggal lalu pergi—tetapi tak pernah benar-benar lepas.

Tema “We Love Bulukumba” diletakkan bukan sebagai slogan, melainkan sebagai ruang tafsir. Cinta, dalam konteks ini, tidak harus selalu berupa puja-puji. Bisa hadir dalam bentuk esai yang kritis, cerpen yang lirih, puisi yang personal, bahkan biografi tentang seseorang yang menjadi wajah kecil dari kota itu sendiri.

Baca JugaHUT ke-9, IMO-Indonesia Tegaskan Pentingnya Kualitas Pemberitaan

Menariknya, ajakan ini tidak membatasi identitas. Tak harus warga Bulukumba untuk menulis. Siapa pun yang pernah bersentuhan—secara fisik maupun emosional—dipersilakan bercerita. Sebab kota, pada akhirnya, bukan hanya milik mereka yang tercatat di kartu tanda penduduk, melainkan milik ingatan dan pengalaman.

Pilihan menerbitkan karya dalam format zine juga bukan tanpa makna. Zine adalah medium alternatif: murah, independen, dan kerap lahir dari semangat kolektif. Adalah simbol bahwa cerita-cerita tentang Bulukumba tak harus menunggu panggung besar untuk menemukan pembacanya.

Baca JugaPria di Tangerang Terkejut Usai Ditagih Pajak Rp137 Juta dari McLeren

Rumah Buku SaESA juga meminta para penulis mengirimkan pesan langsung (DM) pada @rumahbukusaesa dan @gelarzinefest sebagai konfirmasi partisipasi. Sebuah detail kecil, tetapi menunjukkan bahwa proyek ini bukan sekadar lomba atau seleksi karya, melainkan upaya membangun percakapan bersama.

Saat banyak daerah sibuk mempromosikan diri lewat statistik kunjungan wisata dan angka pertumbuhan ekonomi, Bulukumba—melalui ruang kecil bernama Rumah Buku SaESA—memilih jalur lebih sunyi: mengarsipkan cinta lewat kata, kota, dan kita.

Baca JugaCatat! Operasi Patuh Semeru Digelar Hari Ini hingga 8 November 2026

Barangkali dari sanalah sebuah k(i)ota benar-benar hidup. Bukan dari baliho atau brosur promosi, melainkan dari cerita-cerita yang ditulis dengan jujur. Red/MB

Tags: #budaya

Bagikan berita:

Berita Terkait