Putraindonews.com, Bulukumba - Sore di Bontonyeleng tidak benar-benar turun sebagai penutup hari. Ia justru membuka sesuatu yang selama ini nyaris tertutup: ingatan. Di antara kertas, tinta, dan percakapan yang mengalir tanpa panggung, Gelar Zine menjelma ruang kecil yang diam-diam menolak lupa.
Di Rumah Buku SaESA, Jumat (3/4) membaca tidak lagi sekadar aktivitas sunyi. Ia berubah menjadi cara lain untuk mengenali diri. Sebab membaca sebuah daerah, pada akhirnya, adalah membaca ulang siapa kita—dari mana datang, dan ke mana hendak pulang. Bulukumba, dalam narasi sederhana yang diusung “April Bulukumba Membaca”, tidak hanya dikenal sebagai tanah yang melahirkan Pinisi, tetapi juga sebagai rahim bagi pelaut-pelaut pengetahuan.
Baca JugaLagi, Ratusan Siswa di Bogor Diduga Keracunan MBGKegiatan yang dimulai sejak pukul 15.30 WITA hingga menjelang maghrib itu berangkat dari kegelisahan yang tidak banyak dibicarakan: bagaimana tradisi perlahan hilang bukan karena ditolak, melainkan karena tidak lagi diceritakan. Mappadekko—sebuah ritus budaya yang dulu akrab—kini mulai terdengar asing di telinga generasi hari ini.
Di situlah zine menemukan relevansinya. Ia tidak hadir sebagai medium yang megah, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia mampu menampung hal-hal yang kerap luput. Kertas-kertas lipat itu menjadi arsip alternatif: merekam yang kecil, menyimpan yang nyaris hilang, dan memberi ruang pada cerita-cerita yang tidak sempat masuk dalam buku besar sejarah.
Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-Singapura“Ada cerita-cerita kecil yang jarang mendapat ruang. Ada pengalaman hidup yang berlangsung tanpa sorotan. Pun, ada nilai-nilai lokal yang tetap bertahan meski zaman terus bergerak cepat,” ujar Alif, salah satu peserta, pelan namun mengendap.
Pernyataan itu seperti menegaskan satu hal: bahwa yang hilang bukan selalu karena lenyap, tetapi bisa jadi karena kita berhenti mencatatnya.
Baca JugaHUT ke-9, IMO-Indonesia Tegaskan Pentingnya Kualitas PemberitaanPertanyaan kemudian mengemuka, meski tak selalu diucapkan lantang. Apakah Mappadekko hanya sebatas tradisi? Atau justru ia menyimpan sesuatu yang lebih dalam—tentang cara hidup, tentang relasi manusia dengan ruang dan waktu? Ataukah ia kini hanya tersisa sebagai serpihan ingatan yang menunggu dipanggil kembali?
Gelar Zine tidak menawarkan jawaban yang selesai. Ia justru mengajak untuk tinggal lebih lama di dalam pertanyaan-pertanyaan itu. Sebab barangkali, yang kita butuhkan bukan kepastian, melainkan keberanian untuk kembali mendengar.
Baca JugaPria di Tangerang Terkejut Usai Ditagih Pajak Rp137 Juta dari McLeren“Ini bukan tentang mencapai pelabuhan terakhir,” ujar Alif menutup percakapan sore itu. “Ini ajakan untuk berlayar perlahan, menelusuri cerita demi cerita, dan menemukan kembali makna yang mungkin selama ini terlewat.”
Dan di Bontonyeleng, sore itu, zine-zine kecil membuktikan satu hal sederhana: tradisi tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu—untuk dibaca ulang, ditulis kembali, dan dirawat dengan cara-cara baru. Red/MB
Baca JugaCatat! Operasi Patuh Semeru Digelar Hari Ini hingga 8 November 2026