Putraindonews.com, Jakarta - Bagi anak-anak di pedesaan, membaca buku bukan hanya rutinitas kegiatan, melainkan jembatan untuk mendobrak keterbatasan akses pendidikan. Di tengah keterbatasan, MIs Ibnu Syabil Desa Weer Ohoiker, Kec. Kei Besar Utara Barat, memilih berinovasi dengan mengadakan program belajar literasi membaca di malam hari bagi para siswa-siswinya.
Program yang berlangsung sederhana di bilik Sekolah ini digagas untuk memanfaatkan waktu luang peserta didik pada malam hari secara produktif. Di bawah temaram cahaya lampu, para siswa tampak tekun mengeja kata demi kata, angka demi angka, didampingi tenaga pendidik yang setia memandu.
Baca JugaSekum MUI Tangsel KH Rojak Ajak Santri Banten Jaga Marwah dan Perkuat PengabdianNani Kurratul Aini, salah seorang guru di madrasah tersebut, mengungkapkan kegiatan ini tidak sekedar dimaksudkan untuk membumikan literasi, melainkan pula mendorong akselerasi pendidikan di Desa Weer Ohoiker.
“Kami melihat semangat anak-anak untuk belajar sebenarnya tinggi, namun sarana dan waktunya terbatas. Kegiatan literasi membaca malam hari ini menjadi ruang aman bagi siswa untuk mengasah kemampuan wawasan. Mereka bisa mengulang pelajaran di pagi hari dan menyiapkan diri untuk esok harinya”, jelas Nani saat ditemui di Sekolah, Kamis (22/10/2026).
Baca JugaZulhas Sebut 2 Tahun Prabowo-Gibran Mampu Wujudkan Swasembada PanganMenurut Nani pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan literasi membaca tidak hanya menuntut siswa-siswi memegang buku. Para siswa juga diajak untuk memahami bacaan melalui diskusi ringan. Langkah kecil ini diharapkan dapat membangun pondasi literasi yang solid sejak dini.
“Kami tidak ingin siswa tertekan ketika mengikuti kegiatan belajar malam. Sebab itulah, kami mengadopsi mengadopsi model storytelling dan contextual teaching-learning agar pembelajarannya tidak abstrak. Siswa diajak bertanya dan menjawab pelajaran dengan konteks kehidupan sehari-harinya”, tukasnya.
Baca JugaDewan Dukung Swasembada Pangan PemerintahIa pun secara terbuka mengajak para orang tua siswa-siswi untuk mendukung kegiatan literasi membaca demi masa depan pendidikan di kampung halaman. Dukungan ini, kata Nani, penting karena menentukan keberlangsungan kegiatan.
Meskipun masih dihadapkan dengan minimnya koleksi buku dan keterbatasan fasilitas, langkah bersahaja dan inovatif dari sudut Desa Weer Ohoiker menjadi bukti bahwa nyala pendidikan tidak boleh padam, terlepas dari sejauh apa lokasi mereka dari pusat kota.
Baca JugaIPW: Peristiwa Polisi Tembak Polisi MeningkatMeski masih dihadapkan pada minimnya koleksi buku dan fasilitas penerangan yang terbatas, semangat para pendidik dan siswa tidak surut. Langkah bersahaja dari sudut daerah 3T ini menjadi bukti bahwa nyala edukasi tidak boleh padam, terlepas dari sejauh apa lokasi mereka dari pusat kota. Red/HS