Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Gempa M5.0 Picu Guncangan di Wilayah Melonguane Sulawesi Utara 'Belum Ada Laporan Kerusakan'

S Samsuddin 14 Feb 2022 0 komentar
Gempa M5.0 Picu Guncangan di Wilayah Melonguane Sulawesi Utara 'Belum Ada Laporan Kerusakan'

***

Putraindonees.com - Jakarta | Gempa bumi magnitudo (M)5,0 memicu guncangan dengan tingkat sedang yang dirasakan di wilayah Melonguane, Provinsi Sulawesi Utara. Peristiwa ini terjadi pada Minggu (13/2), pukul 17.12 WIB.

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan data hingga sore ini (13/2) pukul 17.25 WIB, belum ada laporan dampak kerusakan dari masyarakat.

Baca JugaZona SAR Selat Sunda Diperluas, Dayung Serunting IMO-Indonesia Monitoring Garis Pantai Lampung-Bengkulu

Berdasarkan pemodelan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tidak memicu terjadinya tsunami.

Parameter gempa dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan pusat gempa berada 247 km Barat Laut, Melonguane Sulawesi Utara dengan kedalaman 10 km. Berdasarkan pemodelan BMKG, gempa tidak berpotensi tsunami.

Baca JugaTaksi Listrik Hijau Kecelakaan Diduga Tabrak Pembatas

Analisis inaRISK menyebutkan wilayah Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan wilayah dengan potensi bahaya gempa bumi dengan kategori tinggi.

Menghadapi bahaya gempa bumi, masyarakat diharapkan selalu waspada dan siap siaga. Hal tersebut disebabkan karena fenomena gempa bumi tidak dapat diprediksi dan dapat terjadi setiap saat.

Baca JugaRibuan Pelajar di Jayawijaya Gelar Aksi Tolak MBG

"Terlebih di saat masyarakat masih menghadapi pandemi Covid-19 dan musim hujan".

Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya multibahaya. Kesiapsiagaan harus tumbuh dalam lingkup individu, keluarga dan komunitas.

Baca JugaInstitut Amalia Bogor Matangkan Persiapan Hadapi SDGs 2030, Hadirkan Prof. Indira Santi Sebagai Keynote Speaker

Hal utama yang harus menjadi prioritas adalah mitigasi struktural dengan memastikan bangunan perumahan penduduk memiliki struktur penguat secara keteknikan, atau mengikuti pola kearifan lokal setempat di wilayah rawan gempa. Red/Ben

***

Bagikan berita:

Berita Terkait