Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Hadiah yang Tidak Dibungkus: Apa yang Kita Bawa dari Jumat Terakhir Ramadan di Masjid Agung Syuhada Masamba

S Samsuddin • 20 Mar 2026 • 0 komentar
Hadiah yang Tidak Dibungkus: Apa yang Kita Bawa dari Jumat Terakhir Ramadan di Masjid Agung Syuhada Masamba

Putraindonews.com, Luwu Utara - Ramadan selalu punya cara untuk pamit tanpa benar-benar pergi. Ia menyusut dari hitungan hari, tetapi membesar di dalam ingatan. Jumat terakhir (20/3) menjadi semacam penanda: bahwa waktu yang selama ini terasa panjang, diam-diam telah mengerucut pada ujungnya sendiri.

Di bulan yang kerap disebut penuh berkah dan ampunan ini, manusia seperti dipanggil untuk keluar dari dirinya yang paling riuh. Ada yang ditanggalkan—nafsu yang berlebihan, keinginan yang tak pernah selesai, juga keterikatan pada hal-hal yang bersifat material. Ramadan, dengan caranya yang sederhana, mempertemukan manusia dengan sisi paling dasar dari dirinya: lapar, haus, dan kesadaran.

Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah Rakyat

Barangkali di situlah letak ujian yang sesungguhnya. Bukan sekadar menahan, tetapi memahami. Bahwa dalam tubuh yang sama, ada sisi hewani yang selalu ingin dipuaskan, dan ada sisi manusiawi yang ingin ditinggikan. Ramadan menjadi ruang tawar-menawar antara keduanya. Sebuah usaha diam-diam untuk menjauh dari yang berlebihan, agar yang esensial bisa mengambil tempat.

“Agar di penghujung Ramadan ini kita bisa menjadi pribadi yang memiliki iman dan takwa kepada Allah SWT dengan semaksimal waktu,” ujar seorang jamaah, lirih, seolah tak ingin mengganggu suasana yang sudah lebih dulu khusyuk.

Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla

Di Masjid Agung Syuhada Masamba, Jumat terakhir itu terasa berbeda. Orang-orang datang tidak hanya untuk salat, tetapi juga untuk merayakan sesuatu yang akan segera berakhir. Ada yang baru tiba dari perantauan, membawa rindu yang dilipat dalam perjalanan panjang. Ada pula yang sejak awal tak ke mana-mana, tetapi justru menemukan perjalanan batin yang lebih jauh.

Halaman masjid mulai berbenah. Tenda-tenda didirikan, pengeras suara dipasang, seolah menyambut hari yang akan datang: Idul Fitri. Sebuah hari yang sering dimaknai sebagai kemenangan, meski tak semua orang benar-benar tahu apa yang dimenangkan.

Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang

Ramai itu bukan sekadar kerumunan. Adalah tanda bahwa ada harapan yang dikumpulkan bersama. Harapan untuk pulang, bukan hanya ke rumah, tetapi juga ke diri yang lebih jernih.

Jumat terakhir ini pada akhirnya, bukan tentang perpisahan. Adalah pengingat bahwa Ramadan memang akan pergi, tetapi apa yang ia tinggalkan seharusnya tidak ikut berlalu. Ada tanggung jawab yang diam-diam disisipkan: untuk menjaga kesadaran yang telah dibangun selama sebulan penuh.

Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo

Sebab yang benar-benar penting bukanlah apa yang kita lakukan selama Ramadan, melainkan apa yang kita bawa keluar darinya. Apakah hanya kenangan tentang lapar dan haus, atau justru pemahaman baru tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih utuh.

Ramadan akan selesai. Tetapi hati dan pikiran tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Di situlah semuanya bermula kembali. Red/MB

Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026

Bagikan berita:

Berita Terkait