Putraindonews.com, Jakarta – Perang yang melanda Timur Tengah memicu krisis energi global. Imbas dari konflik tersebut, harga bahan bakar penerbangan atau avtur pun mengalami lonjakan.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mencari berbagai solusi untuk menyiasati kemungkinan buruk yang disebabkan oleh krisisi energi global tersebut.
Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-SingapuraMenteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa fluktuasi harga avtur yang terjadi saat ini tidak lepas dari pengaruh dinamika pasar global.
"Harga avtur memang ini kan adalah harga pasar, dan otomatis karena ini juga melayani pengisian avtur global, pesawat-pesawat dari luar negeri yang masuk, maka mekanisme yang terjadi adalah mekanisme pasar," katanya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (6/4).
Baca JugaHUT ke-9, IMO-Indonesia Tegaskan Pentingnya Kualitas PemberitaanDirinya menambahkan bahwa kenaikan harga jual membuat PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian terhadap kondisi pasar saat ini.
Kendati begitu, pihaknya mengatakan bahwa secara harga, avtur di Indonesia masih memiliki daya saing yang kuat jika dibandingkan dengan harga di kawasan regional.
Baca JugaPria di Tangerang Terkejut Usai Ditagih Pajak Rp137 Juta dari McLeren"Memang ada kenaikan dari Pertamina, tetapi kenaikan itu dibandingkan dengan harga avtur di negara lain khususnya tetangga, kita masih jauh lebih kompetitif ya," ujarnya. Red/HS