Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Menjelang Idul Adha, Tradisi Ikat Buras dan Leges Menghidupkan Silaturahmi di Bontonyeleng

S Samsuddin • 26 May 2026 • 0 komentar
Menjelang Idul Adha, Tradisi Ikat Buras dan Leges Menghidupkan Silaturahmi di Bontonyeleng

Putraindonews.com, Sulsel - Menjelang Idul Adha, aroma santan dan daun pisang mulai memenuhi sudut-sudut rumah warga di Desa Bontonyeleng, Bulukumba. Di sela suara percakapan keluarga dan tumpukan kayu bakar yang perlahan menyala, masyarakat tampak sibuk mengikat buras dan leges. Adalah makanan khas yang hampir tak pernah absen dalam setiap perayaan hari besar.

Senin, 25 Mei 2026, suasana desa terlihat berbeda dari biasanya. Jalanan mulai dipadati warga yang keluar masuk rumah kerabat. Sebagian membawa beras, sebagian lain membawa daun pisang dan tali rafia. Di dapur-dapur sederhana itulah tradisi lama kembali dihidupkan. Sebuah pekerjaan yang tampak biasa, tetapi menyimpan makna sosial yang begitu panjang.

Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla

Buras dan leges bukan hanya makanan pelengkap hari raya. Adalah penanda bahwa Idul Adha segera tiba. Di tangan masyarakat desa, proses mengikat buras berubah menjadi ruang perjumpaan yang hangat. Orang-orang duduk melingkar, saling membantu, sambil bertukar cerita tentang keluarga, pekerjaan, hingga kehidupan kampung yang terus bergerak pelan.

Salah satu warga, Herianto, menyebut bahwa tradisi ini menjadi momen langka yang memperlihatkan bagaimana kerja domestik tidak lagi sepenuhnya dibebankan kepada perempuan. Para lelaki ikut duduk mengikat buras, menyiapkan kayu bakar, hingga mengangkat panci besar ke tungku dapur.

Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang

“Ini sebenarnya momen berharga karena kesetaraan gender betul-betul terlihat,” ujarnya sambil membantu tetangga mengisi leges yang belum selesai diikat.

Sebagai kepala keluarga dengan dua anak, Heri merasa bahwa tradisi seperti ini tidak hanya menjaga kebiasaan lama, tetapi juga memperkuat hubungan di dalam rumah. Menurutnya, kerja bersama menjelang hari raya menghadirkan suasana yang perlahan mulai hilang di tengah kehidupan modern yang serba cepat.

Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo

Di Desa Bontonyeleng sendiri, tradisi ikat buras dan leges memang telah berlangsung turun-temurun. Hampir setiap rumah melakukannya ketika Idul Fitri maupun Idul Adha tiba. Aktivitas ini seolah menjadi tanda bahwa hari raya bukan sekadar tentang ibadah dan makanan, tetapi juga tentang menjaga hubungan antarkeluarga.

“Saya berharap tradisi ikat-mengikat ini menjadikan silaturahmi keluarga tidak terputus,” lanjut Heri.

Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026

Harapan itu terasa masuk akal. Sebab di tengah desa yang mulai dipadati penduduk dan kesibukan yang semakin padat, tradisi seperti ini menjadi ruang yang mempertemukan kembali orang-orang yang jarang duduk bersama. Anak-anak membantu mengambil daun pisang, orang tua mengawasi rebusan di dapur, sementara tetangga datang tanpa perlu undangan.

Mungkin karena itu, momen menjelang hari raya selalu terasa istimewa di Bontonyeleng. Bukan hanya karena gema takbir yang mulai menunggu waktu, tetapi karena masyarakat masih menyisakan ruang untuk menjaga kebersamaan lewat hal-hal sederhana.

Baca JugaAntisipasi Pengamanan, Sebanyak 20 Ribu Lebih Pasukan Dikerahkan ke Jakarta

Di desa ini, buras dan leges tidak hanya direbus dalam panci besar. Tapi, juga merebus kembali ingatan tentang keluarga, gotong royong, dan silaturahmi yang terus diupayakan agar tidak hilang ditelan zaman. Red/MB

Tags: #tradisi nusantara #idul adha #bulukumba

Bagikan berita:

Berita Terkait