Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Program Riwayat, Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas

S Samsuddin • 08 Apr 2026 • 0 komentar
Program Riwayat, Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas

Putraindonews.com, Sulsel - Pelestarian sejarah dan budaya Sulawesi Selatan perlu didorong lebih inklusif dan dapat diakses oleh semua kalangan, khususnya ragam disabilitas. Pemikiran ini jadi dasar penyelenggaraan kegiatan Workshop Co-Creation Inklusif bertema "Menjalin Risalah, Menjaga Warisan, Mengukir Hikayat yang Inklusif bagi Semua".

Workshop diadakan pada Sabtu-Minggu (4-5/4/2026), di Sekretariat Yayasan PerDIK, Perumahan Villa Permata Harapan Blok B/10, Jalan Daeng Tata Raya, Kelurahan Parangtambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-Singapura

"Workshop ini merupakan bagian dari pengembangan Program Riwayat, sebuah inisiatif platform budaya inklusif yang mengedepankan partisipasi aktif disabilitas dalam proses penciptaan konten sejarah dan budaya," jelas Ridwan Mappa, selaku penanggung jawab program kepada Putraindonews Rabu (8/4).

Pria yang akrab disapa Daeng Maliq itu menambahkan, Workshop Co-Creation Inklusif didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana. Menurutnya, dukungan yang diberikan sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat ekosistem kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan.

Baca JugaHUT ke-9, IMO-Indonesia Tegaskan Pentingnya Kualitas Pemberitaan

Co-Creation merupakan kolaborasi aktif dan setara antara pemangku kepentingan untuk bersama-sama menciptakan nilai, ide, dan produk baru.

Workshop ini, menghadirkan dua narasumber, yakni Edy Thamrin dan Rusdin Tompo.

Baca JugaPria di Tangerang Terkejut Usai Ditagih Pajak Rp137 Juta dari McLeren

Eddy Thamrin, yang populer dengan nama Yudhistira Sukatanya, merupakan budayawan, sastrawan, dan sutradara teater.

Seniman yang mengakrabi sejarah dan budaya Sulawesi Selatan itu, banyak memberikan pengayaan perspektif, dan pemetaan potensi konten budaya dengan perspektif inklusif sejak tahap ide.

Baca JugaCatat! Operasi Patuh Semeru Digelar Hari Ini hingga 8 November 2026

Sementara Rusdin Tompo, seorang penulis buku, trainer/pembicara seminar, pegiat literasi, dan pernah menjadi jurnalis radio, berbagi pengalaman bagaimana mengolah ide menjadi karya yang komunikatif, inklusif, dan kontekstual.

"Saya senang diajak berkolaborasi dalam Co-Creation Inklusif ini, sebagai bentuk dukungan terhadap Program Riwayat," kata Rusdin Tompo antusias.

Baca JugaSherly Tjoanda Harapkan Apindo Malut Berdampak Nyata

Dalam kerangka acuan kegiatan Co-Creation Inklusif disebutkan bahwa Sulawesi Selatan adalah ruang ingatan yang luas. Di dalamnya tersimpan jejak kerajaan, suara laut para pelaut, kisah perlawanan, hingga tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, sayangnya, kekayaan ini tidak selalu dapat dijangkau oleh semua orang secara setara.

Baca JugaKawasan Suryakencana Bogor Dilanda Kebakaran

"Bagi ragam disabilitas, akses terhadap pengetahuan sejarah dan budaya masih sering terhalang. Informasi yang tersedia belum sepenuhnya ramah. Banyak yang bergantung pada visual tanpa alternatif, banyak yang tidak menyediakan narasi audio, banyak pula yang menggunakan bahasa yang sulit dipahami," papar Ridwan Mappa.

Akibatnya, kata dia, sejarah dan budaya yang seharusnya menjadi milik bersama justru terasa jauh bagi sebagian orang. Pengalaman ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah kenyataan kolektif.

Baca JugaPHDI Pusat Gelar Upacara Mejaya-jaya dan Mesimakrama di Pura Besakih

Dikemukakan, banyak penyandang disabilitas tumbuh tanpa akses yang memadai terhadap cerita tentang tanahnya sendiri.

Padahal, mengenal sejarah dan budaya bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang identitas, rasa memiliki, dan kepercayaan diri sebagai bagian dari masyarakat.

Baca JugaKetum APINDO: UMKM Perlu Perkuat Inovasi dan Kapasitas Kepemimpinan

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital membuka peluang baru. Informasi kini dapat disajikan dalam berbagai bentuk. Teks, audio, visual, dan kombinasi di antaranya dapat dirancang agar lebih adaptif.

Workshop Co-Creation Inklusif ini dirancang sebagai ruang bersama untuk memulai proses tersebut. Ruang untuk belajar, berbagi, dan mencipta.

Baca JugaPesawat Asian One Air Alami Kecelakaan di Bandara Bilorai Intan Jaya

Peserta yang merupakan kolaborator dari berbagai ragam disabilitas, meliputi disabilitas netra, disabilitas Tuli atau pendengaran, disabilitas fisik, disabilitas psikososial, dan disabilitas intelektual, diajak menggali sejarah, mengenali warisan, lalu mengolahnya menjadi bentuk cerita yang baru.

Yakni, cerita yang lebih terbuka. Cerita yang lebih ramah. Juga cerita yang dapat diakses oleh semua.

Baca JugaSejumlah Pelari Nekat Terobos Pagar Cut-Off Point

"Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kembali disabilitas dengan warisan budayanya. Berangkat dari kesadaran tersebut, pendekatan Co-Creation Inklusif menjadi penting," imbuh Ridwan Mappa.

Sehingga, kata dia, disabilitas tidak lagi ditempatkan sebagai penerima informasi semata, tetapi sebagai subjek yang aktif mencipta, menafsirkan, dan menyampaikan ulang cerita.

Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-Singapura

Dengan melibatkan ragam disabilitas secara langsung, konten yang dihasilkan tidak hanya lebih relevan, tetapi juga lebih adil dan representatif.

Harapannya, bakal lahir konten-konten budaya yang tidak hanya menjaga ingatan masa lalu, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan yang lebih inklusif.

Baca JugaHUT ke-9, IMO-Indonesia Tegaskan Pentingnya Kualitas Pemberitaan

"Sejarah tidak boleh eksklusif. Ia harus bisa disentuh, didengar, dipahami, dan dimiliki oleh siapa saja," pungkas Ridwan Mappa. Red/MB

Tags: #Indonesia #sulawesi selatan #budaya #makassar #jurnalis

Bagikan berita:

Berita Terkait