Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Soroti 9.817 Pelanggaran Anggota Polri, Habib Aboe Desak Evaluasi Menyeluruh Pendidikan Akpol

S Samsuddin • 03 Apr 2026 • 0 komentar
Soroti 9.817 Pelanggaran Anggota Polri, Habib Aboe Desak Evaluasi Menyeluruh Pendidikan Akpol

Putraindonews.com, Jakarta - Lonjakan kasus pelanggaran disiplin dan etik di tubuh Kepolisian Republik Indonesia menjadi sorotan tajam Komisi III DPR RI. Dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Wakalemdiklat) Polri serta Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol) di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (2/4/2026), DPR menuntut evaluasi mendalam terhadap sistem pendidikan kepolisian yang dinilai belum sepenuhnya berdampak pada perilaku aparat di lapangan.

Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Habib Aboe Bakar Al-Habsyi, mengungkapkan kegelisahan atas masih maraknya praktik pungutan liar (pungli), kekerasan, serta penyalahgunaan wewenang oleh oknum anggota Polri.

Baca JugaKomisi X Rencana Panggil Kemdiktisaintek Perihal Soal Pendirian Universitas Republik Indonesia

“Kenapa anggota kita ketika turun di lapangan banyak yang bermasalah? Ini penting untuk dievaluasi. Apakah ini kesalahan pendidikan?” ujar Habib Aboe dalam forum tersebut, menegaskan urgensi pembenahan dari hulu ke hilir.

Ribuan Pelanggaran, Rata-rata 27 Kasus per Hari

Lantas, Habib Aboe menyinggung data pelanggaran internal Polri yang mencapai sekitar 9.817 kasus dalam satu tahun terakhir. Angka ini, menurutnya, bukan sekadar statistik, melainkan cerminan persoalan serius dalam pembinaan sumber daya manusia di institusi kepolisian.

Baca JugaKepala BGN Baru Harus Lebih Masifkan Program MBG, Jangan Abaikan Hak Jutaan Penerima Manfaat

Jika dirata-rata, jumlah tersebut setara dengan sekitar 27 kasus pelanggaran setiap hari, mulai dari pelanggaran disiplin ringan hingga pelanggaran etik berat.

“Ini bukan angka kecil. Artinya hampir setiap hari ada puluhan kasus. Publik tentu bertanya-tanya, di mana letak persoalannya,” kata dia.

Baca JugaPerkuat Diplomasi Parlemen, Irine Y. Roba: Kampus Jadi Mitra Strategis Kebijakan Nasional

Kendati demikian, Habib Aboe mengakui bahwa tidak semua pelanggaran dilakukan oleh lulusan Akpol. Namun, ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan tetap memegang peran strategis dalam membentuk karakter, integritas, dan profesionalisme aparat.

Dalam pandangannya, pendidikan merupakan titik awal dari pembentukan kualitas SDM Polri. Ia mengutip prinsip bahwa pendidikan memang bukan segalanya, tetapi segala sesuatu berawal dari pendidikan.

Baca JugaSoroti Kecelakaan Kereta Bekasi, Lasarus: Perlintasan Sebidang Jadi Biang Masalah, Desak Evaluasi Nasional

“Dari sinilah SDM itu dibentuk. Kalau di lapangan masih banyak penyimpangan, maka harus dilihat apakah ada kesenjangan antara apa yang diajarkan dengan realitas praktik di lapangan,” ujarnya.

Komisi III DPR, lanjut mantan Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR itu, meminta Lemdiklat Polri dan Akpol melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum, metode pelatihan, hingga sistem pengawasan terhadap lulusan yang sudah bertugas.

Baca JugaDorong Regulasi AI, Habib Aboe Bakar: Teknologi Harus Dikendalikan Manusia

Ia juga menyinggung perlunya penguatan aspek integritas dan etika profesi dalam pendidikan kepolisian, bukan sekadar kemampuan teknis.

Soroti Intervensi dan Tekanan dalam Penanganan Kasus

Selain persoalan internal, Habib Aboe juga menyinggung adanya praktik tekanan dalam penanganan perkara di sejumlah daerah. Ia mengungkapkan pengalaman menangani kasus di daerah yang melibatkan dugaan intervensi oleh pihak berkepentingan.

Baca JugaAncaman Siber Meningkat, Legislator PDIP Dorong Literasi Digital Jadi Pilar Pertahanan Negara

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan di tubuh Polri tidak hanya berhenti pada pendidikan, tetapi juga menyangkut sistem pengawasan dan kultur organisasi.

“Ada kasus yang ditekan oleh pihak bermodal besar. Ini tidak boleh terjadi. Penegakan hukum harus independen,” tegasnya.

Baca JugaTurut Berbelasungkawa, DPR Minta Investigasi Total Soal Tabrakan Kereta Di Bekasi

Apresiasi Prestasi Taruna dan Alumni Akpol

Di tengah kritik tersebut, Komisi III DPR tetap memberikan apresiasi terhadap capaian positif Akpol. Bahkan Habib Aboe menyebut sejumlah prestasi taruna dan alumni dalam ajang menembak nasional maupun internasional sebagai bukti bahwa kualitas pendidikan teknis Polri tidak bisa dipandang sebelah mata.

Prestasi tersebut, menurutnya, turut mengangkat reputasi institusi kepolisian, khususnya dalam pengembangan kemampuan taktis dan olahraga.

Baca JugaKomisi V Minta Pemerintah Tuntaskan Darurat Perlintasan Sebidang Kereta Api

“Ini membanggakan. Biasanya kita lihat prestasi seperti ini didominasi militer, tapi sekarang polisi juga menunjukkan kemampuan yang luar biasa,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan, capaian tersebut harus diimbangi dengan perilaku profesional di lapangan agar kepercayaan publik terhadap Polri dapat meningkat secara menyeluruh.

Baca JugaGeopolitik Memanas, Dave Laksono: Indonesia Perlu Memperkuat Kedaulatan dan Tetap Pegang Prinsip Bebas Aktif

Dukungan Anggaran, Minta Perencanaan Transparan

Dalam RDP itu, Habib Aboe juga menegaskan bahwa Komisi III DPR RI pada prinsipnya tidak pernah menghambat anggaran untuk Polri. Bahkan, ia menyebut dukungan anggaran akan terus diberikan selama disusun secara transparan dan berbasis kebutuhan riil.

“Kami tidak pernah menolak anggaran untuk Polri. Tinggal bagaimana perencanaannya dibuat dengan baik dan akuntabel,” katanya.

Baca JugaUjang Komarudin: Stabilitas Politik, Kunci Indonesia Bertahan di Tengah Gejolak Global

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan dan pembinaan anggota harus menjadi prioritas utama dalam penggunaan anggaran, agar berdampak langsung pada perbaikan kinerja aparat di lapangan.

Dorongan Reformasi Berkelanjutan

Rapat dengar pendapat ini menjadi bagian dari fungsi pengawasan DPR terhadap institusi Polri, khususnya dalam aspek pendidikan, pelatihan, dan pembinaan personel. Sorotan terhadap tingginya angka pelanggaran diharapkan menjadi momentum untuk mempercepat reformasi internal kepolisian.

Baca JugaKomisi X Rencana Panggil Kemdiktisaintek Perihal Soal Pendirian Universitas Republik Indonesia

Komisi III DPR menekankan bahwa kepercayaan publik terhadap Polri sangat bergantung pada integritas dan profesionalisme anggotanya. Oleh karena itu, pembenahan tidak hanya dilakukan di tingkat operasional, tetapi juga harus dimulai dari sistem pendidikan yang menjadi fondasi utama institusi.

Dengan tekanan publik yang terus meningkat, DPR berharap Polri mampu menjawab tantangan tersebut melalui langkah konkret dan terukur, demi mewujudkan aparat penegak hukum yang profesional, modern, dan terpercaya. Red/ES

Baca JugaKepala BGN Baru Harus Lebih Masifkan Program MBG, Jangan Abaikan Hak Jutaan Penerima Manfaat
Tags: #Indonesia #pelatihan #polri #hukum #dpr ri

Bagikan berita:

Berita Terkait