Putraindonews.com, Jakarta – Misteri terkait hilang lima jurnalis dalam misi peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang dinyatakan hilang kontak sampai sekarang masih belum terungkap.
Tim pencari korban sampai detik ini masih melakukan upaya pelacakan, namun belum juga mengetahui pasti keberadaan mereka.
Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan KarhutlaTerbaru, sorotan tertuju pada perangkat Automatic Identification System atau AIS yang diduga tidak dimiliki pada speedboat yang membawa rombongan jurnalis di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda tersebut.
Sontak, hal itu memicu tanda tanya besar. Hilangnya kapal cepat yang ditumpangi lima awak media bersama tiga anak buah kapal itu memaksa tim pencari meraba-raba lautan tanpa koordinat yang jelas sejak Jumat (11/9/2026).
Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik UangPakar mitigasi, Herry mengatakan bahwa AIS bukan sekadar instrumen penunjuk arah biasa, melainkan perangkat pengaman krusial untuk mendeteksi posisi sekaligus menghindarkan kapal dari risiko tabrakan di jalur pelayaran.
"AIS itu untuk mengidentifikasi kapal. Yang kedua untuk menghindari adanya kecelakaan," ungkapnya, Jumat (11/9/2026).
Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpoHerry merincikan, sistem tersebut merekam seluruh parameter navigasi secara mendetail, mulai dari titik koordinat, kecepatan, hingga haluan kapal.
Sebaliknya, GPS handheld yang terpasang di armada nahas itu bekerja pasif dan hanya berfungsi menunjukkan posisi mandiri tanpa memancarkan sinyal ke stasiun pemantau darat.
Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026Akibat keterbatasan teknologi tersebut, tim SAR gabungan harus menerka-nerka area operasi berdasarkan data lintang dan bujur perkiraan yang dihimpun dari laporan kapal lain yang sempat berpapasan sebelum insiden terjadi. Red/HS