Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Wakil Ketua Umum IFMA Association ; Regulasi Penempatan ABK Tumpang Tindih

S Samsuddin • 18 Jun 2020 • 0 komentar
Wakil Ketua Umum IFMA Association ; Regulasi Penempatan ABK Tumpang Tindih

PUTRAINDONEWS.COM

BEKASI - JABAR | Wakil Ketua Umum Indonesia Fisherman Manning Agent Association (IFMA Association), T. Peratikno Rz menyayangkan banyaknya pemberitaan yang seolah memojokan perusahaan penempatan yang mengirimkan anak buah kapal (ABK) Indonesia ke luar negeri.

Padahal menurut Tikno akar permasalahan ini adalah aturan yang dikeluarkan pemerintah yang membingungkan dan tumpang tindih. Begitu juga adanya tarik-menarik sebagai bentuk ego sektoral yang membingungkan perusahaan penempatan yang akibatnya ABK yang menjadi korbannya.

Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah Rakyat

“Harusnya jangan lagi tarik-menarik yang akhrinya pelaut jadi korban,” kata Peratikno saat ditemui awak media dikantornya Bekasi, Rabu (17/6).

Tikno sapaanya mengaku semua perusahaan jasa pengiriman ABK ingin mengikuti aturan pemerintah. Namun pengusaha acap kali dibuat bingung lantaran selesai mengurus izin dari kementerian tertentu, muncul aturan baru yang dikeluarkan kementerian lainnya.

Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla

Banyak regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah namun karena lemahnya pengawasan dan pengawalan sehingga seakan tidak ada artinya yang mengakibatkan awak kapal sebagai korbannya.

“Kelemahan aturan itu pengawalan, apapun regulasinya kalau tidak dikawal, korbannya pelaut,” kata Tikno.

Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang

“Pengawasannya di bandara juga tidak terlalu sulit kalo ada pengawalan bersama, Imigrasi Bandara tinggal buka situs Perhubungan https://dokumenpelaut.dephub.go.id lalu klik menu informasi, semua perusahaan pelaut yang memiliki ijin tekhnis dari Kemenhub akan muncul. Jadi yang tidak ada yang jangan diloloskan.” Imbuh Tikno.

Dia mengatakan tidak ada pengawalan Regulasi yang ada saat ini dari hulu hingga hilir. Akibatnya perusahaan jasa pengiriman ABK ilegal pun bermunculan.

Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo

Pada akhirnya membedakan perusahaan legal dan ilegal di lapangan pun sulit dilakukan. Tikno menyebut, banyaknya kasus ABK Indonesia yang mengalami kekerasan saat bekerja pun berasal dari perusahaan ilegal.

“Apa yang terjadi di luar negeri termasuk penyiksaan itu karena kelalaian kita bersama,” kata Tikno.

Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026

Faktor lain adalah karena ABK yang dikirim sangat minim kompetensi.

ABK dengan sertifikasi keahlian kata Tikno minim mengalami kekerasan saat bekerja. Sebab mereka sudah dilatih dalam menggunakan alat tangkap atau berbagai pekerjaan lainnya di atas kapal ikan.

Baca JugaAntisipasi Pengamanan, Sebanyak 20 Ribu Lebih Pasukan Dikerahkan ke Jakarta

Longgarnya pengawasan terhadap pemberian izin usaha kepada perusahaan mengakibatkan ABK Indonesia diperlakukan semena-mena. Perusahaan bisa dengan mudah mengirim orang tanpa kompetensi yang akhirnya rentan mengalami kekerasan saat bekerja.

Untuk itu mewakili para pengusaha jasa pengiriman ABK, Tikno meminta pemerintah untuk melakukan pengawasan. Sebab, perizinan yang tidak dikawal tetap berpotensi menimbulkan masalah.

Baca JugaDukung Ketahanan Pangan, Babinsa Koramil 0808/15 Gandusari Dampingi Petani Panen Cabai Di Desa Semen

“Perizinan sudah ada, kalau ada kekurangan kami urus tapi kalau enggak dikawal ya tetap perusahaan yang tidak berijinpun akan lolos dan muncul masalah,” ucap Tikno.

Menurut Tikno tidak semua pelaku penempatan itu nakal banyak yang baik dan patuh. Bisa jadi karena ketidaktahuan mereka sehingga melakukan kesalahan dalam penempatan. Nah tugas pemerintahlah membimbing mereka.

Baca JugaMutasi Besar-Besaran Sejumlah Perwira Polri di Tengah Isu Penangkapan par Jenderal

“Harusnya di arahkan dan dibimbing, belum tentu para perusahaan penempatan ini sengaja menempatkan dikapal yang bermasalah, bisa jadi kan karena ketidaktahuan mereka, nah tugas pemerintahlah mengarahkan dan memberi bimbingan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh” ucap Tikno yang menjadi praktisi penempatan selama 21 tahun.

“Pemerintah harusnya jangan cuma melihat yang gagalnya, banyak juga pelaut yang berhasil, bahkan taraf hidup mereka terangkat setelah bekerja sebagai pelaut. Jadi menurut tikno harusnya dalam melakukan penilaian itu berimbang.” Tutup Tikno. Red/Ben

Baca JugaYusril Sebut Prabowo Tahu Disadap atas Laporan Kapolri Suyudi

Bagikan berita:

Berita Terkait