Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Adil Akbar, Menulis Cerpen Sebagai Metode Pembelajaran Sejarah

S Samsuddin • 19 Jan 2026 • 0 komentar
Adil Akbar, Menulis Cerpen Sebagai Metode Pembelajaran Sejarah

Putraindonews.com, Jakarta - Seorang guru bukan hanya mengajar di kelas, menuntaskan buku paket yang jadi referensinya. Namun penting pula menggunakan metode yang mudah dipahami, sebagai inovasi pembelajarannya.

Bagi Adil Akbar, guru SMK Negeri 10 Makassar, sastra, khususnya cerpen, menjadi pilihannya saat menyampaikan pelajaran sejarah. Guru kelahiran Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 6 April 1993, memang gemar menulis. Sehingga dengan keterampilannya itu, dia menulis cerpen yang kebanyakan bermuatan sejarah.

Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah Rakyat

"Saya mulai menulis cerpen sejak 2016-2017. Cerpen pertama saya berjudul Mengaku Raja, dimuat di harian Fajar," ungkap lelaki berkacamata yang suka menggunakan topi itu.

Adil Akbar mengaku, berguru pada Sulhan Yusuf, pendiri Paradigma Institut yang juga punya toko buku.

Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya Triliunan

Dia begitu bersemangat sejak cerpennya dimuat di media massa. Baginya, itu punya prestise tersendiri. Sebab muncul di rubrik Budaya harian Fajar, yang memuat cerpen, esai, dan puisi, berarti sudah melalui proses seleksi dan kurasi. Bahkan, boleh dikata, dia memenangkan kompetisi, saat cerpennya terpilih untuk dimuat.

Penulis berlatar guru itu membagikan proses kreatif menulisnya dalam kegiatan Diskusi Buku "Hikayat dalam Secangkir Kopi" di Kudeta Coffee, Jalan Mappala Raya, Minggu, 18 Januari 2026. Kegiatan yang menampilkan Rusdin Tompo, Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, sebagai pembahas buku ini, diadakan oleh Komunitas Jalan Bareng.

Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla

Komunitas ini memiliki "anak kandung" bernama Diskusi Buku Bareng. Diskusi buku karya Adil Akbar dengan pembahas Rusdin Tompo, dipandu oleh Muhammad Alif Hasyudi sebagai moderator.

Ketua Komunitas Jalan Bareng Makassar, Payyad, dan anggotanya hadir. Juga hadir akademisi Dr Fadli Andi Natsif, sastrawan M Amir Jaya, dan penyair Syahril Rani Patakaki.

Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang

Adil Akbar bercerita tahun 2016-2017 dia mulai mengumpulkan tulisan-tulisannya untuk dijadikan buku. Sebelum itu, tulisannya hanya dikliping sebagai arsip dan dokumentasi pribadi.

Rupanya, itu merupakan cara dia menghidupkan kembali semangat menulisnya. Jadi ada fase dia begitu getol menulis, lalu redup, kurang produktif.

Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo

Kumpulan cerpen "Hikayat dalam Secangkir Kopi" berisi 18 cerpen yang kesemuanya pernah dimuat media massa. Buku ini diberi prolog oleh Muhammad Arif Sikki, Ketua Agupena Provinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan epilognya ditulis oleh Rusdin Tompo.

Sebagai alumni pendidikan sejarah UNM, Adil Akbar banyak terinspirasi dari buku-buku sejarah yang dibaca. Dia menjadikan data dan fakta sejarah sebagai bahan baku materi cerpennya. Tentu saja, tokoh-tokoh dalam tulisannya sudah disamarkan, termasuk dalam beberapa kasus, nama-nama tempat.

Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026

"Saya suka menulis di warkop atau kafe. Bahkan saya tidak terganggu bila warkop atau kafenya lagi ramai," terangnya.

Selain tema sejarah dan budaya, dia juga menulis tema-tema berdasarkan pengalaman pribadi sebagai mahasiswa maupun guru.

Baca JugaAntisipasi Pengamanan, Sebanyak 20 Ribu Lebih Pasukan Dikerahkan ke Jakarta

Rusdin Tompo mengapresiasi penulis cerpen yang biasa menulis nama panjangnya Adil Akbar Ilyas Ibrahim ini. Dia menilai, ada upaya serius dari penulis untuk menyuguhkan cerpennya secara baik.

Bayangkan, ketika dia mau menulis satu cerpen, tak jarang dia membaca 6 buku. Membaca baginya adalah kebutuhan untuk bisa menghasilkan karya buku. Bagai 2 sisi dari keping mata uang logam.

Baca JugaDukung Ketahanan Pangan, Babinsa Koramil 0808/15 Gandusari Dampingi Petani Panen Cabai Di Desa Semen

"Cerpen-cerpen Adil Akbar punya kekuatan pada tema lokal, menggambarkan potret gaya hidup urban, di mana kafe dan warkop sebagai tempat kerja," papar Rusdin Tompo.

Segi yang menonjol lainnya dari cerpen-cerpen Adil Akbar, lanjut penulis dan penggiat literasi itu, yakni pada nilai sejarah, dan aspek multikultur atau keberagaman etnis yang ditulis dengan pendekatan humanis. Red/HS

Baca JugaMutasi Besar-Besaran Sejumlah Perwira Polri di Tengah Isu Penangkapan par Jenderal
Tags: #satupena #sulawesi selatan #budaya #makassar

Bagikan berita:

Berita Terkait