PUTRAINDONEWS.COM
JAKARTA | Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, menyampaikan bahwa antisipasi kondisi kemarau sebagaimana terjadi di fase Maret-April Pemerintah telah melakukan modifikasi cuaca yakni rekayasa hari hujan.
Lebih lanjut, Menteri LHK sampaikan secara spesifik sudah dipelajari perilaku iklim maupun hotspot serta waktu-waktu ledakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rata-rata di Agustus minggu kedua-ketiga sampai di September minggu pertama.
Baca JugaResmikan Sekretariat "Rumah Besar", IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media Online“Kalau kita pelajari perilaku hotspot-nya, maka sebetulnya di Riau itu, di Sumatra bagian utara; Riau, Aceh, sebagian Sumut itu ada 2 fase krisis. Fase pertama, yaitu di bulan-bulan Maret-April,†ujar Menteri LHK saat memberikan keterangan pers usai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas), Selasa (23/6).
Fase keduanya, menurut Menteri LHK, masuk di bulan Juni, Juli, dan seterusnya yang nanti puncaknya di bulan September atau Agustus akhir.
Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi MasyarakatMenurut Menteri LHK, dengan teknologi modifikasi cuaca atas analisis BMKG dan dilaksanakan oleh BPPT, didukung oleh pesawat TNI-AU karena belum punya pesawat sendiri, hal itu bisa dilakukan dan sudah melewati fase krisis pertama di Riau.
“Kenapa ini penting, karena fase kemarin itu kenapa dia krisis; ada Covid, lalu Lebaran, makanya itu kita coba atasi begitu rupa. Pemerintah berupaya, Bapak Presiden perintahkan jangan ada masalah di hari Lebaran dan seterusnya,†kata Menteri LHK.
Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah RakyatOleh karena itu, Menteri LHK sampaikan bahwa Pemerintah melakukan modifikasi cuaca ini di beberapa tempat di Sumatra yang sudah dilakukan pada tanggal 13-31 Mei, sehingga Lebaran tidak ada asap kemudian akan diteruskan dan ini hasilnya.
“Jadi ada korelasi antara modifikasi hari hujan. Jadi awannya direkayasa, diinduksi sehingga punya banyak uap air sehingga jatuh jadi hujan dan itu bisa berpengaruh, itu akhirnya dia membasahi gambut. Membasahi gambut juga, kemudian memberi air juga untuk embung-embung yang dibangun,†ujarnya.
Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya TriliunanNanti setelah dari dan dengan yang sudah dilalui di Riau, menurut Menteri LHK, ternyata dia basah gambutnya sehingga tidak terjadi asap-asap itu dan dilakukan kembali di Kalimantan.
Kalimantan kalau menurut BMKG, lanjut Menteri LHK, itu akan kencang hotspot, panasnya atau hari keringnya yang masuk musim kemaraunya itu kira-kira di bulan Juli, Juli masuk ke Agustus, nanti beratnya di Agustus akhir masuk ke September sehingga itu dilakukan lagi di Kalimantan.
Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan KarhutlaIni, menurut Menteri LHK, sudah dipersiapkan dan akan didukung oleh BNPB, pasti BPPT, BMKG, TNI dan lain-lain, yang diarahkan oleh Menko. Ia menambahkan nanti di bulan Agustus masuk ke September, Pemerintah harus lihat lagi yang Sumatra.
“Ini mudah-mudahan bisa menjadi solusi yang ada formatnya, begitu ya, daripada memadamkan terus, gitu, jadi ini dengan sistematis kita persiapkan,†pungkas Menteri LHK. Red/Ben
Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang