Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Calon Arang Menggugat: Ketika Kain Putih Menjadi Bahasa Perlawanan di Pelataran UNJ

S Samsuddin • 29 Oct 2026 • 0 komentar
Calon Arang Menggugat: Ketika Kain Putih Menjadi Bahasa Perlawanan di Pelataran UNJ
Calon Arang Menggugat. Foto: Gus Wedha/Putraindonews

Putraindonews.com, Jakarta - Pukul 19.30 WIB, lampu di pelataran Tugu Universitas Negeri Jakarta, 28/10 Rawamangun, padam. Yang tersisa hanya selembar kain putih raksasa yang bergerak liar diterpa angin malam, diterpa sorot lampu biru dan merah. Dari balik kain itu, dua belas penari muncul berlutut, diam.

Itulah pembuka sendratari Calon Arang Menggugat_, karya terbaru mahasiswa Prodi Pendidikan Tari, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNJ, yang dipentaskan di kawasan Teater terbuka UNJ.

Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla

Karya ini bukan sekadar ujian koreografi. Ia adalah pembacaan ulang atas naskah klasik Bali.

Dalam lontar dan geguritan Bali, Calon Arang dikisahkan sebagai janda sakti dari Desa Girah di era Raja Airlangga yang menebar wabah karena anaknya, Ratna Manggali, dikucilkan. Namun dalam versi "Menggugat", Calon Arang tidak lagi menjadi Ratu Leak yang jahat.

Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang

"Mahasiswa kami mencoba membalik narasi. Calon Arang dibaca sebagai perempuan berilmu yang dikorbankan oleh stigma patriarki dan kekuasaan. Gugatan itu bukan tentang ilmu hitam, tapi tentang seorang ibu yang marah karena anaknya dikucilkan sistem," ujar Ida Bagus Ketut Sudiasa,S.Sn., M.Sn., dosen koreografi Prodi Pendidikan Tari FBS UNJ  

Menurut Ida Bagus, karya ini sejalan dengan filosofi yang ia tanamkan, tradisi tidak boleh hanya dihafal, tapi harus dihidupkan kembali dengan sentuhan modern agar lestari. Seperti halnya _Menapak Bumi_ yang memadukan gerak etnik dengan musik kekinian, _"Calon Arang Menggugat"_ memadukan gerak dasar Bali - _ngegol, nyapuh, ngumbang_  dengan gerak kontemporer jatuh-bangun dan penggunaan properti.

Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo

Dan properti itu menjadi kunci. Kain putih sepanjang hampir 10 meter di awal pertunjukan bukan sekadar kain. Ia berubah menjadi ombak gosip masyarakat Girah, menjadi kabut mistis, menjadi selubung stigma yang menutupi tubuh Calon Arang.

*Apresiasi Pimpinan Universitas*

Pertunjukan yang memadukan gamelan yang digarap melalui DAW dengan lighting teater modern ini mendapat perhatian khusus dari pimpinan universitas.

Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis UNJ, *Andy Hadiyanto*, yang hadir memberikan sambutan, mengapresiasi keberanian mahasiswa mengangkat tema tersebut.

"Kami di UNJ selalu mendorong inovasi yang berdampak. Karya seperti "Calon Arang" Menggugat ini adalah contoh nyata bagaimana mahasiswa tidak hanya menari, tapi berpikir kritis. Mereka membedah cerita rakyat dengan kepekaan estetis abad 21. Ini yang sejalan dengan arahan Kementerian bahwa kampus harus menjadi poros intelektual yang terbuka dan kritis," ujar Andy Hadiyanto dalam sambutannya.

Baca JugaAntisipasi Pengamanan, Sebanyak 20 Ribu Lebih Pasukan Dikerahkan ke Jakarta

Andy yang baru saja meraih Penghargaan Internasional IMLA 2025, Menegaskan bahwa pelestarian budaya seperti ini adalah bagian dari diplomasi akademik UNJ menuju _World Class University.

Sementara itu, Rektor UNJ, *Prof. Dr. Komarudin, M.Si.*, melalui Wakil Rektor Bidang Akademik *Prof. Dr. Ifan Iskandar,M.Hum.*, menyampaikan bahwa Teater Terbuka FBS UNJ memang sengaja diposisikan sebagai laboratorium penciptaan.

Baca JugaDukung Ketahanan Pangan, Babinsa Koramil 0808/15 Gandusari Dampingi Petani Panen Cabai Di Desa Semen

"Jangan takut menggugat. Justru dari gugatan itulah lahir karya yang jujur," pesan tersebut.

Di akhir pertunjukan, ketika kain putih itu akhirnya tersibak dan dua belas penari berdiri menatap penonton dengan rias pucat, tak ada lagi sosok monster. Yang ada adalah potret perempuan yang terluka - dan berani melawan. Red/GW

Baca JugaMutasi Besar-Besaran Sejumlah Perwira Polri di Tengah Isu Penangkapan par Jenderal

Bagikan berita:

Berita Terkait