Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Data 1.3 Miliar Pengguna Ponsel Diduga Bocor, P3S ; Kominfo Bisa Tiru AS Soal Keamanan Provider

S Samsuddin 06 Sep 2022 0 komentar
Data 1.3 Miliar Pengguna Ponsel Diduga Bocor, P3S ; Kominfo Bisa Tiru AS Soal Keamanan Provider

***

Putraindonews.com - Jakarta | Data pribadi yang didaftarkan ke provider seluler saat membeli SIM Card nomor handphone diduga dibobol, dan jumlahnya mencapai 1,3 miliar data. Hal ini menyulut komentar dari pengamat kebijakan publik jebolan America Global University, Jerry Massie.

"Kominfo pernah beberapa kali bocor data-datanya," ujar Jerry Selasa (6/9).

Baca JugaHeboh! Warna Air Kolam Gunung Sindur Tiba-Tiba Berubah Jadi Merah

Jerry melihat, penjualan SIM Card nomor handphone yang tidak diatur regulasi turut mempengaruhi potensi pembobolan data pribadi pengguna telpon seluler.

"Saya sarankan agar di Indonesia jangan terlalu banyak nomor. Di Amerika nomor ponsel tak sembarangan di perjual-belikan di jalan-jalan," ucapnya.

Baca JugaKapolri Dorong Polwan Kompetitif di Ajang IAWP yang Diikuti 43 Negara

Di Amerika Serikat, diurai Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) ini, ada 4 provider telepon seluler yang terkenal yakni AT&T, Verizon, T-Mobile dan Metro PCS.

"Jadi di Amerika saat ketika membeli smartphone, maka otomatis sudah ada nomor di dalam dan data-data kita sudah masukan," paparnya.

Baca JugaDukcapil Kota Blitar Rebranding Dari Pelayanan Adminduk Menjadi Garda Depan Perlindungan Sosial

Di samping itu, Jerry mengetahui bahwa orang-orang Amerika Serikat jarang ada yang punya 2 nomor handphone. Apalagi mereka menggunakan handphone yang sistem keamanannya sangat kuat, jadi sulit ditembus hacker.

Maka dari itu, Jerry memandang perlu Kementerian Komunikasi dan Informatika membenahi internalnya dengan mengisi posisi deputi atau dirjen dari kalangan ahli programing computer atau computer system.

Baca JugaPresiden Prabowo Teriak Free Palestine di Resepsi Pondok Gontor

"Kalau mereka yang duduk di pucuk pimpinan Kominfo tak tahu soal IT maka sulit. Atau bisa juga membina para jagoan hacker sebagai upaya meredam serangan media cyber," pungkasnya. Red/HS ***

 

Bagikan berita:

Berita Terkait