Putraindonews.com, Jakarta – Aksi demonstrasi besar-besaran berlangsung di berbagai penjuru Amerika Serikat (AS). Mereka memprotes berbagai kebijakan Presiden Donald Trump yang digelar pada Sabtu (28/3).
Jutaan orang sebut ikut ambil bagian dalam aksi tersebut untuk meluapkan kemarahan atas pemerintahan Trump yang dianggap otoriter.
Baca JugaTrump Kembali Tebar Ancaman Andai Republik Kalah di Pemilu Sela 2026Aksi kali ini bisa dikatakan yang paling besar sebagai bagian dari gerakan akar rumput bernama "No Kings,". Gerakan ini muncul sejak Trump memulai masa jabatan keduanya dan menjadi oposisi paling vokal terhadap Trump.
Melansir AFP, para pengunjuk rasa kini punya alasan baru untuk marah: perang di Iran yang dilancarkan Trump bersama Israel berlarut-larut tanpa penyelesaian.
Baca JugaJenderal Zhang Shengmin Dipromosi ke Puncak Kekuasaan Militer ChinaAksi protes nasional pertama digelar pada Juni 2025, bertepatan dengan ulang tahun ke-79 Trump, dan bersamaan dengan parade militer di Washington. Saat itu, jutaan orang turun ke jalan, mulai dari New York hingga San Francisco.
Sementara, hari "No Kings" kedua pada bulan Oktober menarik sekitar tujuh juta demonstran. Aksi ini bertujuan menggerakkan lebih banyak orang, karena tingkat dukungan Trump rendah di sekitar 40 persen jelang pemilu tengah periode pada bulan November, ketika Partai Republik berisiko kehilangan kendali atas kedua kamar parlemen. Red/HS
Baca JugaAmerika Kirim 10 Pesawat Militer ke Israel