Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Dilanda Kekeringan, Petani Menjerit Hasil Panen Ambruk 50 Persen 'Siapa Bertanggung Jawab'

S Samsuddin • 26 May 2022 • 0 komentar
Dilanda Kekeringan, Petani Menjerit Hasil Panen Ambruk 50 Persen 'Siapa Bertanggung Jawab'

***

Putraindonews.com - Bengkulu | Ribuan Hektar sawah di Kecamatan Seginim, Bengkulu Selatan, dilanda kekeringan. Mengakibatkan hasil panen padi ambruk hingga lampaui 50 persen. Ratusan petani penggarap di lumbung pangan Provinsi Bengkulu tersebut menjerit, pesimis bisa menggarap sawah kembali di musim berikutnya.

Apalagi, semakin hari pupuk bersubsidi pemerintah makin sulit diperoleh, ditambah gangguan tersendiri dari 'tradisi' pengeringan saluran irigasi hampir setiap tahun.

Baca JugaResmikan Sekretariat "Rumah Besar", IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media Online

Mayoritas petani saat dikonfirmasi mengatakan, penyebab kekeringan bukan hanya kemarau panjang. Pengeringan saluran irigasi yang tengah direhab turut berkontribusi negatif.

"Seingat saya sudah tiga tahun ada proyek rehab, dan itu selalu ada pengeringan. Mudah-mudahan ini pengeringan terakhir, bagian yang direhab tidak banyak lagi," kata Agus, petani di Ataran Kulus, Desa Tanjung Menang, Selasa (24/5) pagi.

Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi Masyarakat

Hal senada diutarakan Nisman, petani asal Desa Banding Agung. Dia berharap segera turun hujan agar bisa menyambut musim tanam berikutnya.

"Kalau pengeringan irigasi itu kan memang sudah disepakati sampai musim tanam berikutnya. Jadi tak mungkin ditunggu," ungkapnya.

Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah Rakyat

Tantangan tanam padi atau jagung di lahan tadah hujan, lanjut Nisman, sama saja. Tetap perlu curah hujan cukup.

"Sekarang tanahnya sudah retak-retak lebar, tanam jagung atau sayur pun belum memungkinkan," keluhnya.

Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya Triliunan

Pantauan di lapangan, rekanan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII tengah melaksanakan pembongkaran dan rehab saluran irigasi Air Nipis di beberapa titik.

Seorang pengawas proyek mengaku belum bisa memprediksi bulan berapa pekerjaan tersebut bisa dirampungkan.

Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla

Dikonfirmasi terpisah, Camat Seginim Mardalena SPd MSi mengimbau ribuan petani di wilayah itu bersabar menunggu proses rehabilitasi saluran irigasi.

Mengingat proyek tersebut bertujuan jangka panjang mendukung kelancaran pengairan sawah-sawah milik petani.

Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang

"Agar tidak sering dilakukan pengeringan karena proyek rehab irigasi setiap tahun, saya mohon kepada para petani sama-sama njaga irigasi itu dari tangan-tangan jahil yang guna air tidak sesuai tujuan pembangunan dan fungsi utama," pintanya, Rabu (25/5) sore.

Lena mencontohkan, penggunaan air irigasi untuk kolam air deras tanpa mendapat bimbingan teknis dari instansi berkompeten dapat merusak tatakelola pengairan sawah.

Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo

"Kalau rehab irigasi nanti selesai dikerjakan, jangan ada lagi yang membuat lubang untuk memasukkan air ke kolam tanpa izin pemerintah. Itu berpotensi merusak dan beresiko hukum bagi pelakunya sendiri," pungkasnya. Red/Ben

***

Bagikan berita:

Berita Terkait