Putraindonews.com, Jakarta – Setiap datang momen bulan Ramadan, ada satu fenomena unik yang terjadi di Indonesia yaitu imsak.
Tidak banyak yang tahu, meskipun itu di kalangan umat Islam sendiri perihal Imsak ini. Masyarakat muslim di Tanah Air, secara turun temurun meyakini Imsak sebagai penanda waktu berakhirnya batas waktu sahur menjelang salat Shubuh.
Baca JugaDemi Merawat Tradisi, Sanggar Seni Antara Nusantara Bajeng Gelar Malam AssinrilikBagi masyarakat muslim Indonesia, bunyi Imsak yang dikumandangkan di hampir setiap masjid atau mushala adalah waktu di mana tidak dibolehkan melakukan sahur.
Kendati hal tersebutsudah menjadi pemahaman umum, ternyata Imsak adalah fenomena yang hanya ada di Indonesia dan tidak ada di belahan dunia manapun.
Baca JugaKWN Sambut Dalang Ki Gunarto Usai Pentas Wayang Kulit di Selandia BaruAdapun penjelasan mengenai dasar munculnya jeda sebelum Subuh ini sering dihubungkan dengan hadits riwayat Imam Bukhari.
Dalam riwayat tersebut, sahabat Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah makan sahur bersama Zaid bin Tsabit. Setelah selesai sahur, Nabi kemudian bangkit untuk melaksanakan salat Subuh.
Baca JugaPesan Mendalam Ida Istri di Tengah Warga Banjar Perumnas Bekasi: Jangan Takut Ombak Jika Dirimu Sudah Menjadi SamudraKetika ditanya tentang jarak waktu antara selesai sahur dan salat, Anas menjawab bahwa jaraknya kira-kira sepanjang waktu membaca lima puluh ayat Al-Qur’an (HR Bukhari no. 542).
Para ulama di Indonesia kemudian memperkirakan bahwa durasi membaca lima puluh ayat tersebut kurang lebih sekitar 10 menit. Dari sinilah lahir gagasan adanya waktu jeda sebelum Subuh yang dalam praktiknya dikenal sebagai imsak.
Baca JugaPaku Buwana XIV Hangabehi Adakan Upacara Kenaikan TahtaMeski demikian, istilah “imsak” sebagai penanda waktu sebelum Subuh sebenarnya tidak digunakan secara formal pada masa Rasulullah SAW. Substansi jeda waktu memang ada, tetapi tidak diberi nama khusus seperti sekarang. Red/HS