Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Gelar Zine di Rumah Buku SaESA Angkat Tema Mappadekko di Bulukumba, Ajak Warga Rawat Ingatan Budaya

S Samsuddin • 28 Mar 2026 • 0 komentar
Gelar Zine di Rumah Buku SaESA Angkat Tema Mappadekko di Bulukumba, Ajak Warga Rawat Ingatan Budaya

Putraindonews.com, Bulukumba — Jalan masuk itu tidak selalu lebar dan terang. Kadang ia hanya berupa lipatan kertas, garis tinta yang mengalir tanpa ragu, dan gagasan yang menolak untuk diam. Dari sanalah zine tumbuh—sebagai cara bercerita yang tidak menunggu izin, tidak menakar layak atau tidak, tetapi terus hidup dari keberanian yang sederhana.

Gelar Zine kali ini hadir bukan sekadar sebagai pertemuan, melainkan sebagai ruang yang mencoba merawat sesuatu yang nyaris hilang. Mappadekko dipilih bukan tanpa alasan. Ia adalah ingatan, bunyi, dan jejak yang pernah akrab dalam kehidupan, lalu perlahan menjauh seiring waktu. Tema ini menjadi ajakan untuk menengok kembali, memungut makna dari yang tercecer, dan menghidupkannya ulang melalui halaman-halaman yang kita buat sendiri—sederhana, tetapi jujur.

Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi Masyarakat

Pada Jumat, 3 April 2026, sejak pukul 15.00 WITA hingga selesai, Bookmerchs di Jalan Poros Bontonyeleng akan menjadi titik temu. Sebuah ruang yang akan dipenuhi percakapan, potongan kertas, dan keberanian untuk menuliskan apa saja yang selama ini mungkin hanya disimpan.

Rangkaian kegiatan disusun tanpa jarak: lapak baca yang membuka kemungkinan perjumpaan, bikin zine sebagai inti dari seluruh proses, merch sebagai penanda yang bisa dibawa pulang, dan diskusi zine yang memperpanjang umur gagasan.

Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah Rakyat

Semuanya berjalan dalam satu napas: bikin-bikin zine. Sebuah proses yang tidak menuntut hasil yang rapi atau sempurna. Yang diperlukan hanya kejujuran, dan keberanian untuk memulai dari apa yang ada.

Ajakan itu pun sederhana—datang dengan cerita masing-masing. Tidak harus utuh, tidak perlu selesai. Sebab justru dari potongan-potongan itulah, kita akan merangkainya kembali dalam satu tema yang sama. Dan mungkin, dari Mappadekko yang kita tulis ulang, ada sesuatu yang sedang kita jaga pelan-pelan—agar ia tidak benar-benar hilang. Red/MB

Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya Triliunan

Bagikan berita:

Berita Terkait