Putraindonews.com, Luwu Utara — Kematian selalu datang seperti kalimat yang tak selesai. Ia mengetuk tanpa aba-aba, lalu meninggalkan ruang yang tak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh kata. Kabar itu pun tiba: A.M. Safwan, seorang ustaz, aktivis, penulis, sekaligus koordinator Jaringan Aktivis Filsafat Islam (Jakfi) Nusantara, berpulang pada Kamis, 16 April 2026, di Yogyakarta.
Namun, seperti yang kerap ia ajarkan, kematian bukan akhir yang perlu diratapi berlebihan. Ia adalah jalan pulang—sebuah perjumpaan yang paling sunyi antara manusia dan cinta yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan.
Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan KarhutlaDalam salah satu arsip kelasnya, “Teleologi Persepsi”, yang diikuti oleh Nur’ Ain, ia pernah berkata dengan tenang, “Semua orang pasti takut mati, begitu pun dengan saya.” Kalimat itu tidak hadir sebagai ketakutan, melainkan sebagai pengakuan paling jujur dari seorang manusia yang sadar akan batas dirinya. Sebuah kesadaran yang justru menuntun pada keberanian untuk hidup lebih utuh.
Bagi mereka yang pernah duduk dalam lingkar belajar yang ia bangun, A.M. Safwan bukan sekadar pengajar. Ia adalah jembatan—antara pengetahuan dan kehidupan, antara teks dan pengalaman, antara berpikir dan menjadi. Ia tidak hanya mengajarkan filsafat sebagai disiplin, tetapi sebagai cara hidup.
Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik UangIa percaya, hidup tidak boleh menjadi beban, dan kematian pun tak seharusnya meninggalkan beban. Sebuah prinsip yang sederhana, tetapi justru paling sulit dijalani. Dari situlah ia menanamkan apa yang ia sebut sebagai “keberpikiran”—sebuah sikap yang melampaui keberpihakan.
Di tengah dunia yang kerap memaksa manusia memilih kubu, ia justru mengajarkan untuk memilih berpikir melalui buku.
Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpoMelalui Jaringan Aktivis Filsafat Islam yang ia rintis, ia membuka ruang-ruang belajar yang tidak eksklusif. Kelas-kelas filsafat ia hidupkan, bahkan hingga pada kelas perempuan—sebuah langkah yang tidak hanya progresif, tetapi juga menunjukkan bahwa pengetahuan tidak boleh dimonopoli oleh siapa pun.
Baginya, pengetahuan adalah jalan. Dan setiap jalan membutuhkan penunjuk arah.
Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026Kini, ketika A.M. Safwan telah tiada, yang tersisa bukan hanya kenangan, melainkan jejak cara berpikir. Ia tidak meninggalkan bangunan fisik yang megah, tetapi meninggalkan sesuatu yang lebih sulit diruntuhkan: kesadaran.
Barangkali, di situlah letak kehilangan yang sesungguhnya. Bukan pada kepergian raganya, tetapi pada sunyi yang ditinggalkan oleh suara yang selama ini menuntun.
Baca JugaAntisipasi Pengamanan, Sebanyak 20 Ribu Lebih Pasukan Dikerahkan ke JakartaNamun, seperti yang ia yakini, tak ada yang abadi selain Dia yang memberi kehidupan. Maka kepergian ini bukan tentang akhir, melainkan tentang bagaimana setiap muridnya melanjutkan perjalanan—menjaga agar pengetahuan tetap hidup, dan kehidupan tetap berpikir.
"Sebab seorang guru sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat—dari ruang kelas ke dalam ingatan, dari suara menjadi kesadaran," tutup Ain. Red/MB
Baca JugaDukung Ketahanan Pangan, Babinsa Koramil 0808/15 Gandusari Dampingi Petani Panen Cabai Di Desa Semen