PUTRAINDONEWS.COM
Bandung | 30 November 2018. Indonesia merupakan tempat yang menjanjikan bagi ekonomi digital. Hal itu dapat dilihat dari total populasi Indonesia sebesar 265,4 juta penduduk yang 50 persennya yaitu 132,7 juta penduduk sudah menggunakan internet.
Fakta tersebut juga didukung dengan jumlah pengguna perangkat seluler yang mencapai 177,9 juta penduduk dan pengguna media sosial (medsos) seluler aktif sebesar 120 juta penduduk.
Baca JugaTaksi Listrik Hijau Kecelakaan Diduga Tabrak Pembatas"Apalagi jumlah pengguna ponsel tembus 67 persen. Selain itu, dari hasil riset Google dan Temasek pada 2018, diprediksi Market Size Ekonomi Digital Indonesia mencapai USD 100 Miliar pada tahun 2025,†papar Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika menyampaikan Kuliah Umum (Studium Generale) di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (28/11/2018).
Mewakili Menteri Komunikasi dan Informatika, Dirjen Ismail menyatakan Indonesia mempunyai tantangan untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saat ini, hampir sebagian aplikasi yang menghiasi ponsel pintar kita merupakan aplikasi dari luar.
“Dengan potensi yang ada mengenai ekonomi digital dan teknologi disruptif, akan juga terdapat tantangan lain yaitu bergesernya lapangan pekerjaan di masa depan,†Ismail menyampaikan.
Pergeseran itu menurut Dirjen SDPPI terjadi karena kehadiran teknologi dan era industri 4.0 yang memiliki karakter disruptif.
“Pekerjaan di sektor produksi akan tergantikan oleh teknologi seperti robot, namun begitu akan ada juga lapangan-lapangan pekerjaan baru yang dibutuhkan terutama di sektor teknologi informasi,†tambah Ismail.
Baca JugaInstitut Amalia Bogor Matangkan Persiapan Hadapi SDGs 2030, Hadirkan Prof. Indira Santi Sebagai Keynote SpeakerDengan adanya pergeseran itu, Indonesia harus siap untuk menghadapi perubahan dan pemerintah mau tidak mau harus turut serta. Menurut Dirjen Ismail, saat ini Kementerian Kominfo tengah menyiapkan SDM Indonesia agar bisa bersaing.
“Dengan program Digital Talent yaitu program pelatihan dengan tema teknologi digital yang berkembang saat ini. Di 2018, terdapat berbagai tema pelatihan dan akan bertambah lebih banyak di 2019. Digital talent ini diharapkan bisa turut membantu Indonesia agar bisa bisa bersaing di era digital,†papar Ismail.
Baca JugaIMO-Indonesia DPW Sumut Bakal Gelar Do'a Bersama Untuk Rombongan Jurnalis Yang Hilang Saat Liputan GAKMengakhiri kuliah umum, Â Dirjen SDPPI memberikan wejangan kepada mahasiswa agar tidak hanya menguasai core compentencies saja, namun juga soft skills dan wawasan holistik.
Dalam pandangan Ismail, soft skills bisa berupa keterampilan yang dapat diperoleh dari berbagai kesempatan, mulai dari berorganisasi, mengikuti berbagai diskusi dan seminar, dan kegiatan lain. Sedangkan wawasan holistik merupakan hal yang mutlak bagi mahasiswa saat ini agar kelak di dunia kerja bisa memberikan solusi yang nyata dan membuat juga perbedaan.
Baca JugaPencarian Lima Jurnalis Terus Berlanjut, Nelayan Gelar 'Nyiar Buhun'“Misalnya, mahasiswa informatika jangan hanya tahu tentang informatika saja, namun juga perlu tahu tentang dunia kesehatan, farmasi, dan bidang-bidang lainnya agar bisa memberikan solusi teknologi informasi di bidang-bidang tersebut,†tutup Ismail.
Kuliah umum ini merupakan mata kuliah pilihan yang diikuti oleh lebih kurang 500 mahasiswa ITB dari berbagai program studi. Dalam kesempatan ini, Ismail memberikan materi dengan topik Indonesia di Era Ekonomi Digital dan Teknologi Disruptif.
Baca JugaUsut Kasus Keracunan MBG, Dewan Minta Polisi Bertindak Tanpa Menunggu LaporanKegiatan yang diselenggarakan di Aula Barat ITB itu merupakan sesi penutup dari rangkaian mata kuliah Studium Generale pada semester ganjil Tahun Ajaran 2018/2019. Dalam kuliah-kuliah sebelumnya hadir narasumber dengan beragam latar belakang profesi antara lain Khoirul Anwar yang merupakan akademisi, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Ignasius Jonan, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.(**)