Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Paradoks Peradaban Modern

S Samsuddin • 03 Oct 2026 • 0 komentar
Paradoks Peradaban Modern
Mayjen TNI (Purn) Prof. H.C. Dr. Rido Hermawan, M.Sc

Kita hidup di zaman ketika ilmu pengetahuan berkembang cepat, teknologi mampu mendekatkan manusia yang berjauhan, ekonomi menciptakan kemudahan, dan informasi berpindah dalam hitungan detik. Namun di tengah kemajuan itu, manusia justru menghadapi persoalan mendasar: kesepian, kecemasan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan hilangnya rasa percaya kepada sesama.

"Mengapa kemajuan tidak selalu membuat kehidupan menjadi lebih baik? Barangkali karena selama ini kita terlalu sibuk membangun dunia di luar diri, tetapi lupa membangun manusia yang akan menghuninya," tulis Rido.

Baca JugaKetika Lapas Bukan Tempat untuk Kemewahan

Menurutnya, krisis kehidupan bermula dari sesuatu yang sangat dekat: hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Manusia modern semakin sering mengukur keberhasilan dari apa yang dimiliki, jabatan yang dicapai, kekuasaan yang diperoleh, atau pengakuan orang lain. Ukuran "siapa saya" bergeser menjadi "apa yang saya punya" dan "seberapa jauh saya terlihat".

Kearifan Sunda: Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter

Rido mengingatkan pada kearifan lama yang telah merumuskan ukuran kematangan pribadi secara utuh. Pikukuh masyarakat adat Sunda mengenal lima watak: Cageur (sehat lahir batin), Bageur (berbudi baik), Bener (jujur dan lurus), Singer (waspada dan peka terhadap keadaan), dan Pinter (cerdas dan berpengetahuan).

Baca JugaReforma Agraria dalam Spirit Sumitro Djojohadikusumo: Tanah untuk Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat

Kelima watak ini tidak diletakkan berjenjang, sebab keutuhan pribadi lahir ketika kelimanya berjalan berbarengan. Sehat tanpa kebaikan budi bisa congkak, cerdas tanpa kejujuran bisa licik, dan kewaspadaan tanpa kebaikan hati bisa menjadi kecurigaan yang merusak.

Ukuran keberhasilan semacam inilah yang mulai kita tinggalkan, tergantikan oleh ukuran dangkal: seberapa banyak yang dimiliki, dan seberapa tinggi yang dicapai. Manusia kehilangan ruang untuk mengenali dirinya, memahami batas kebutuhannya, dan menemukan makna keberadaannya.

Baca JugaHikmah di Balik Gonjang-Ganjing Muktamar NU ke-35, Panggung Para Gus Kembali Mengemuka

Keterpisahan manusia dari dirinya kemudian memengaruhi cara memperlakukan alam. Ketika manusia melihat dirinya sebagai pusat kehidupan, alam cenderung dipandang hanya sebagai objek. Hutan menjadi kayu, tanah menjadi aset, sungai menjadi sumber ekonomi, laut menjadi ruang eksploitasi, dan gunung menjadi cadangan mineral.

Padahal masyarakat adat Sunda, khususnya komunitas Kanekes, mewariskan larangan sederhana namun dalam: "Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak" - gunung tidak boleh diratakan, lembah tidak boleh dirusak. Larangan ini bukan sekadar pantangan spiritual, melainkan kesadaran ekologis yang jauh mendahului istilah "pembangunan berkelanjutan".

Baca JugaTragedi Anak Krakatau dan Tanggung Jawab Negara Melindungi Jurnalis

"Hutan yang hilang tidak hanya berarti berkurangnya pohon; ia berarti hilangnya sumber air, rusaknya ekosistem, meningkatnya risiko bencana, dan berkurangnya ruang hidup bagi generasi berikutnya," tegasnya.

Ketika Manusia Kehilangan Sesamanya

Keterputusan berikutnya terjadi dalam hubungan manusia dengan manusia. Masyarakat yang terlalu lama dibangun di atas kompetisi membuat manusia melihat sesamanya sebagai pesaing. Kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja melalui teknologi, tetapi belum tentu mampu benar-benar mendengarkan. Kita dapat terhubung dalam jaringan sosial, tetapi belum tentu merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama.

Baca JugaPolemik Elim Tyu Samba Harus Diluruskan, Bukan Digiring

Kearifan Sunda kembali mengingatkan lewat pikukuh Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh - saling mengasihi, saling mengasah, saling mengasuh, serta sikap Someah Hade Ka Semah, keramahan tulus kepada siapa pun yang datang, sebagai fondasi kepercayaan.

Negara Sebagai Penjaga Kehidupan

Rido menegaskan, cara pandang ini membawa konsekuensi bagi negara. Negara tidak cukup hanya menjadi pengatur dan pengendali, tapi penjaga kehidupan. Tata kelola negara harus mampu melihat manusia, masyarakat, ekonomi, lingkungan, pendidikan, kebudayaan, pertahanan, dan keamanan sebagai bagian dari satu ekosistem.

Baca JugaHari Perhubungan Nasional di Tengah Maraknya Kecelakaan Transportasi

"Pembangunan manusia harus berjalan bersama pembangunan lingkungan, pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama keadilan sosial, kemajuan teknologi harus berjalan bersama etika, dan kekuatan negara harus berjalan bersama kesejahteraan rakyat," tulisnya.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan negara tidak boleh hanya dilihat dari seberapa tinggi pertumbuhan ekonominya, atau seberapa banyak infrastrukturnya dibangun. Kita juga perlu bertanya: apakah manusianya semakin bermartabat, apakah masyarakatnya semakin adil, apakah alamnya semakin terjaga, apakah hubungan antarwarganya semakin kuat, dan apakah generasi yang akan datang masih memiliki ruang kehidupan yang layak?

Baca JugaMengolah MBG: Antara Sorotan dan Harapan Generasi Indonesia

Indonesia dan Ingatan Tentang Keselarasan

Bagi Indonesia, gagasan tentang kehidupan yang saling terhubung bukanlah hal baru. Berbagai kearifan Nusantara telah lama mengenal pentingnya keseimbangan antara manusia, masyarakat, alam, dan nilai luhur. Gotong-royong, musyawarah, keselarasan dengan alam, penghormatan kepada kehidupan, dan tanggung jawab terhadap komunitas merupakan kekayaan sosial yang masih menjadi kekuatan bangsa di berbagai penjuru Nusantara.

"Kita tidak harus kembali ke masa lalu. Namun, mungkin kita perlu menengok kembali nilai-nilai yang pernah membuat manusia Nusantara memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang diri sendiri. Warisan itu tidak seharusnya berhenti sebagai simbol budaya; ia perlu diterjemahkan menjadi cara berpikir dalam pendidikan, ekonomi, pembangunan, tata kelola pemerintahan, dan kehidupan sosial," jelasnya.

Baca JugaRefleksi 81 Tahun Kejaksaan: Badai Pasti Berlalu

Persoalan terbesar kita, menurut Rido, mungkin bukan karena manusia tidak tahu bagaimana caranya membangun. Kita sangat pandai membangun gedung, jalan, kota, industri, teknologi, dan berbagai sistem ekonomi.

"Justru yang nampaknya kita lupakan adalah pertanyaan yang lebih mendasar: untuk siapa semua itu dibangun? Lebih jauh lagi, kehidupan seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?"

Baca JugaJerat Setan Digital "Judol & Pinjol" Berikut 3 Tanda dan 4 Jalan Keluarnya

Pertanyaan tersebut mesti membawa kita pada pemahaman bahwa pembangunan seharusnya tidak melulu menghasilkan benda, tetapi juga membangun kualitas manusia; tidak hanya menciptakan kekayaan, tetapi juga keadilan; tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan; tidak hanya menguasai alam, tetapi juga merawatnya; dan tidak hanya membuat manusia hidup lebih lama, tetapi juga membuat kehidupan menjadi lebih bermakna.

"Sebab ketika manusia kembali menemukan dirinya, ia akan lebih mudah memahami hubungannya dengan alam. Ketika ia kembali menghormati alam, ia akan menyadari keterikatannya dengan sesama. Manakala manusia kembali memahami bahwa dirinya, alam, dan sesamanya merupakan satu kesatuan kehidupan, pembangunan tidak lagi sekadar menjadi proyek ekonomi; namun berubah menjadi ikhtiar membangun peradaban."

Baca JugaMenafsir Demo 27 Agustus, Oleh dan Untuk Siapa?

Pada akhirnya, membangun kembali tatanan kehidupan bukanlah upaya menguasai dunia dengan cara yang lebih cepat, melainkan ikhtiar untuk belajar kembali hidup sebagai bagian dari dunia yang lebih besar ketimbang diri kita sendiri.

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Prof. H.C. Dr. Rido Hermawan, M.Sc

Baca JugaKetika Lapas Bukan Tempat untuk Kemewahan

Penulis Adalah Pengamat Pertahanan, Kebudayaan, dan Kebangsaan

Bagikan berita:

Berita Terkait