Putraindonews.com, Sulsel - Kegiatan yang lebih terasa sebagai obrolan ini, berlangsung di teras rumah Daeng Dadi, yang diteduhi pohon jambu dan pohon mangga. Kami duduk lesehan, melingkar.
"Kegiatan ini, merupakan Pra-PARKIR untuk mengumpulkan data dan informasi," terang Muti.
Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-SingapuraRizza menambahkan, Program PARKIR pertama sudah diadakan di Palmareh, Jakarta Barat. Dari situ mereka mendapat gambaran tentang pengalaman warga kampung kota dan tantangan mobilitas.
Untuk memahami lanskap transportasi secara nasional, studi PARKIR diadakan di tiga kota utama, yakni Makassar, Surabaya, dan Semarang. Studi yang sama dilakukan juga di wilayah perkampungan kota di Jakarta Barat, seperti Palmerah.
Baca JugaHUT ke-9, IMO-Indonesia Tegaskan Pentingnya Kualitas PemberitaanDi tengah-tengah diskusi, sesekali terdengar teriakan pedagang kue keliling menawarkan jualannya: jalangkote... jalangkote....
Daeng Maliq bilang, "Wah, kayaknya ini kode." Celetukan itu disambut gelak tawa kami.
Baca JugaPria di Tangerang Terkejut Usai Ditagih Pajak Rp137 Juta dari McLerenKarena teriakan yang sama kembali berulang, saya sampaikan bahwa wajar kalau dia kembali lagi. Karena jalan di pulau ini ya itu-itu saja, dan terhubung satu dengan lainnya. Tidak akan bisa nyasar.
Pulau Barrang Lompo memiliki luas sekira 20,58 hektar.
Warga suka berkeliling pulaunya dengan ojek bentor. Moda transportasi ini lebih sebagai hiburan bagi warga, terutama anak-anak. Tak cukup 2 lagu, sudah selesai satu putaran.
Baca JugaCatat! Operasi Patuh Semeru Digelar Hari Ini hingga 8 November 2026Berdasarkan data profil Kelurahan Barrang Lompo, tercatat ada 4.239 warga atau sebanyak 1.024 keluarga. Laki-laki sebanyak 2.101 orang, lebih sedikit dibanding perempuan yang mencapai 2.138 orang.
Pulau Barrang Lompo bagian dari gugusan Kepulauan Spermonde, yang tersebar di Selat Makassar. Jumlahnya mencapai 120an pulau, termasuk Pulau Barrang Caddi, Samalona, Lanjukang, Samatellu, dan lain-lain.
Baca JugaSherly Tjoanda Harapkan Apindo Malut Berdampak NyataBarrang Lompo merupakan salah satu pulau terbesar dengan jumlah penduduk terpadat di kawasan ini.
Warga Pulau Barrang Lompo kebanyakan merupakan nelayan tradisional. Aktivitas mencari teripang dengan segala risikonya, menjadi bagian dari kisah hidup mereka.
Baca JugaKawasan Suryakencana Bogor Dilanda KebakaranMereka mencari teripang ke perairan sekitar Pulau Madura dan Kalimantan. Bahkan sampai ke wilayah timur seperti Maluku, Papua, hingga Laut Arafura.
"Pencari teripang itu berisiko tinggi. Banyak yang mengalami lumpuh, bahkan meninggal dunia, akibat menggunakan kompresor saat menyelam," kisah Daeng Dadi.
Baca JugaPHDI Pusat Gelar Upacara Mejaya-jaya dan Mesimakrama di Pura BesakihPenyelam teripang sering menggunakan kompresor konvensional yang disambungkan ke selang panjang sebagai alat bantu napas mereka.
Metode berbahaya ini memungkinkan mereka menyelam hingga kedalaman lebih 50-an meter selama berjam-jam.
Baca JugaKetum APINDO: UMKM Perlu Perkuat Inovasi dan Kapasitas KepemimpinanJenis teripang yang diperdagangkan dan punya nilai ekonomis tinggi, antara lain teripang Dongang, teripang Pasir, dan teripang Gondrong.
Demi bisa memperoleh teripang itulah, mereka mempertaruhkan hidupnya. Miris, karena para penyelam teripang itu tidak punya asuransi kesehatan/jiwa.
Baca JugaPesawat Asian One Air Alami Kecelakaan di Bandara Bilorai Intan JayaPenanganan terhadap mereka juga boleh dibilang kurang responsif, buntut dari minimnya fasilitas dan akses.
Mati Lampu dan Gerhana Bulan
Menjelang sore, terdengar pengumuman dari PLN lewat toa masjid. Akan dilakukan pemadaman bergilir.
Baca JugaSejumlah Pelari Nekat Terobos Pagar Cut-Off PointDua RW di pulau itu akan mengalami mati lampu secara bergantian. Pembangkit listrik PLN sedang bermasalah.
Mumpung lagi di pulau, saya manfaatkan waktu untuk ngabuburit menikmati sunset. Rupanya, di tempat yang saya datangi, sudah lebih dahulu ada usi Luna, Jonah, dan Amy.
Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-SingapuraKami menikmati senja di atas papan-papan yang jadi bagian dari rumah bergaya estetik. Usi Luna bilang, rumah itu milik salah satu warga yang digunakan hanya untuk menikmati angin, bila ia lagi gerah.
Setelah itu, kami ke rumah Daeng Dadi untuk menunggu azan Magrib, saat berbuka puasa. Alamak, ternyata rumahnya terkena giliran mati lampu.
Baca JugaHUT ke-9, IMO-Indonesia Tegaskan Pentingnya Kualitas PemberitaanApa boleh buat, kami berbuka puasa dalam suasana gelap, hanya diterangi nyala lilin dan senter dari telepon genggam.
Terlepas dari itu, momen merasakan puasa di pulau ini terasa istimewa dengan menu yang disediakan tuan rumah. Selain kurma dan es buah, juga disediakan cumi, ikan goreng, dan sate teripang.
Baca JugaPria di Tangerang Terkejut Usai Ditagih Pajak Rp137 Juta dari McLeren"Ini menu buka puasa yang mahal. Kerena khas, ada sate teripang Gondrong," kata Daeng Maliq.
Harga teripang Gondrong atau sering pula disebut teripang Duri/Gamat kering, berkisar antara Rp1,9 juta hingga Rp3,5 juta per kilogram. Harganya tergantung ukuran, ketebalan, dan kualitas keringnya.
Baca JugaCatat! Operasi Patuh Semeru Digelar Hari Ini hingga 8 November 2026Teripang Gondrong termasuk jenis teripang premium. Harga ecerannya per 100 gram, antara Rp190.000-Rp700.000.
Hampir semua dari kami memuji ikan goreng yang dimasak Daeng Dadi. Teman-teman berkomentar bahwa ikannya gurih, pas dengan sambal yang pedas tetapi nagih.
Baca JugaSherly Tjoanda Harapkan Apindo Malut Berdampak NyataMendengar pujian kami, Daeng Dadi merendah. Dalam logat Makassar, ia berkata, "Hanya asam dengan garam ji, saya pakaikan ki."
Saya menyempatkan sholat Magrib berjamaah di masjid, dan melihat warga buka bersama di teras masjid.
Baca JugaKawasan Suryakencana Bogor Dilanda KebakaranDi Barrang Lompo, terdapat dua masjid, yakni Masjid Nurul Yaqin dan Masjid Nurul Mustaqim.
Daeng Dadi menyampaikan, mereka dibuatkan jadwal untuk sediakan pakbuka. Sehari, 20 keluarga mengantar menu takjil ke masjid. Jadi, satu keluarga mendapat dua kali giliran ke masjid berbeda.
Baca JugaPHDI Pusat Gelar Upacara Mejaya-jaya dan Mesimakrama di Pura BesakihSaya melihat, di depan masjid ada beberapa pedagang berjualan. Ini fenomena lazim selama bulan Ramadan. Para pedagang ini kebanyakan menyasar anak-anak yang ke masjid untuk sholat Isya dan tarwih.
"Banyak orang duduk kumpul-kumpul, saya kira apa, ternyata nontongi gerhana bulan," kata Daeng Dadi, yang sempat keluar dari rumahnya.
Baca JugaKetum APINDO: UMKM Perlu Perkuat Inovasi dan Kapasitas KepemimpinanKetika pulang ke penginapan, saya mendongakkan kepala ke langit, dan masih sempat menyaksikan bulan yang tampak kemerahan (Blood Moon).
Di Barrang Lompo, pandangan saya terasa luas ke cakrawala, tidak terhalang bangunan dan gedung-gedung. Malam itu begita indah dengan taburan bintang di langit.
Baca JugaPesawat Asian One Air Alami Kecelakaan di Bandara Bilorai Intan JayaDi laut, kapal-kapal berlabuh. Sementara di dermaga, beberapa warga asyik memancing cumi-cumi.
Ketika waktunya sahur, usi Luna membangunkan kami. Kembali kami ngumpul makan bersama menu seafood andalan: cumi-cumi dan ikan goreng made in Daeng Dadi.
Baca JugaSejumlah Pelari Nekat Terobos Pagar Cut-Off PointDi Barrang Lompo, saya memaknai definisi hidup bahwa bahagia itu sederhana. Red/RT