Putraindonews.com, Jakarta – Isu kedaulatan energi nasional kembali mencuat di tengah ketidakpastian geopolitik global dan percepatan transisi energi dunia.
Direktur Riset Reform Syndicate (RS), Moh. Jawahir, mengungkapkan bahwa Indonesia mesti segera melakukan lompatan strategis dengan membangun revolusi talenta, agar tidak terus menempati posisi periphery dalam rantai nilai energi global.
Baca JugaResmikan Sekretariat "Rumah Besar", IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media OnlinePernyataan itu disampaikan dalam program Discourse Forum yang digelar Reform Syndicate di Kedai Kawa, Tebet, Jakarta, Kamis (27/2). Dalam forum diskusi itu, Jawahir menyoroti paradoks ekosistem energi nasional, yang mana ambisi menjadi pemain utama transisi energi global belum sepenuhnya ditopang oleh kesiapan SDM lokal yang inovatif dan berdaya saing global.
Menurutnya, gagasa terkait kedaulatan energi yang selama ini kerap dipersempit pada penguasaan sumber daya alam sebagaimana diamanatkan Pasal 33 UUD 1945 perlu diperluas.
Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi MasyarakatKedaulatan, menurutnya, tidak cukup hanya pada aspek kepemilikan lahan dan cadangan, tetapi juga mencakup penguasaan teknologi, riset, dan inovasi. Tanpa transformasi human capital dari mengandalkan operator menjadi inovator, kemandirian energi akan sulit terwujud.
“Kita membutuhkan talenta yang mampu membaca arah perubahan geopolitik dan teknologi, bukan hanya tenaga teknis yang menjalankan sistem,” ucap Jawahir.
Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah RakyatIa menegaskan bahwa pengelolaan energi harus berpijak pada kemandirian substantif, di mana proses ekstraksi hingga hilirisasi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada keahlian dan teknologi impor.
Jawahir juga menyinggung kesepakatan Agreement of Reciprocal Tariffs antara Indonesia dan AS. Kendati membuka peluang ekspor nikel dan komponen energi bersih di bawah skema Inflation Reduction Act (IRA) AS, menurutnya kerja sama tersebut berpotensi menjadi tantangan serius bagi industri domestik.
Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya Triliunan“Kita boleh jadi unggul di ekspor bahan mentah, namun tertinggal dalam penguasaan industri teknologi energi terbarukan,” ujarnya. Red/HS