Putraindonews.com - NTT | Organisasi nonprofit Save the Children menggelar Pelatihan Manajemen Kasus untuk Kurangi Angka Kekerasan di Sumba.
Organisasi tersebut sebelumnya melakukan riset Formative Gender Based Violance (GBV) atau Kekerasan Berbasis Gender pada tahun 2021 kepada beberapa kelompok responden dari Sumba Barat (602 orang tua, 601 anak, 120 guru) dan 4 kelompok Forum Group Discussion (FGD) dari Sumba Tengah.
Baca JugaResmikan Sekretariat "Rumah Besar", IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media OnlineHasilnya menunjukkan bahwa responden laki-laki (ayah) diyakini kuat dan berpengaruh dibandingkan dengan perempuan (ibu).
Selain itu, riset kekerasan berbasis gender juga menemukan bahwa latar belakang kondisi/kemampuan finansial keluarga berpengaruh atas persepsi tentang kesetaraan gender.
Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi MasyarakatOrang tua yang memiliki pekerjaan dengan penghasilan di atas 2 juta seperti pegawai swasta, PNS, atau aparat pemerintah desa memiliki skor persepsi positif dalam memandang kesetaraaan gender dengan presentase sebesar 68,81%.
Temuan riset GBV riset ini juga menyebutkan 8% anak, 26% guru, dan 20% orang tua menyatakan persepsinya tentang pengaruh kepercayaan budaya lokal terhadap terjadinya kekerasan berbasis gender.
Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah RakyatDi sisi lain, 28% orang tua, 9% guru dan 17% anak menyatakan ada praktik budaya lokal yang mendorong kesetaraan gender, yang memberikan harapan bahwa ada potensi praktik budaya yang bisa digali lebih dalam untuk mengurangi kekerasan berbasis gender dan mendorong kesetaraan gender.
Save the Children bekerja sama dengan mitra Perkumpulan Stimulant Institute dan Yayasan Wahana Komunikasi Wanita melalui program gender dan perlindungan anak berupaya untuk melakukan penguatan kapasitas stakeholders tingkat kabupaten sampai desa dalam menangani kasus kekerasan yang terjadi di Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Tengah.
Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya TriliunanKepada Putraindonews, David Wala selaku Sumba Field Manager mengatakan bahwa penguatan kapasitas ini dilakukan melalui pelatihan manajemen kasus dan supervisi penanganan kasus kekerasan.
Pelatihan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan peran dan tanggung jawab stakeholder terhadap pencegahan dan penanganan korban kekerasan anak yang dilakukan secara komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla“Manajemen kasus merupakan pendekatan yang tepat dalam merespons kompleksitas permasalahan dan penanganan kasus perlindungan anak. Kami berharap ini dapat menjadi solusi dalam mencegah dan menangani korban kekerasan anak yang dilakukan secara holistik dan berkelanjutan,” jelas David Wala, Sumba Field Manager Save the Children Indonesia, Jumat (26/5).
Kegiatan pelatihan Manajemen Kasus dilaksanakan di Kabupaten Sumba Tengah, Senin-Jumat, 22- 26 Mei 2023. Pada kesempatan ini, Save the Children telah melatih sebanyak 11 (sebelas) orang fasilitator kabupaten dari Dinas P5A, Polres setempat, Balai Pemasyarakatan, Lembaga Perlindungan Anak dan Dinas Sosial terkait manajemen kasus dan supervisi, baik di Kabupaten Sumba Barat maupun di Kabupaten Sumba Tengah.
Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik UangBeberapa materi yang telah diberikan di antaranya: bagaimana manajemen kasus dalam sistem perlindungan anak, etika praktik manajemen kasus, sistem rujukan dalam manajemen kasus, pencatatan dan pelaporan kasus, serta proses supervisi manajemen kasus di lapangan.Harapannya, pelatihan ini mampu memperkuattokoh kunci perlindungan anak di tingkat kabupaten dan desa.
Setelah mengikuti pelatihan manajemen kasus dan supervisi, fasilitator kabupaten akan melakukan pelatihan berjenjang untuk melatih pemangku kepentingan di bidang perlindungan anak dan penanganan kasus kekerasan di tingkat kabupaten dan desa.
Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpoSave the Children menginisiasi Program Sponsorship di Sumba Tengah dan Sumba Barat sejak tahun 2014 dan akan berlangsung hingga tahun 2024.
Misi program yang didanai Sponsor adalah untuk memenuhi hak anak atas kesehatan dan kesejahteraan serta memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bertahan hidup, belajar, dan dilindungi.
Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026Program ini bertujuan untuk menjangkau 100.000 anak dan komunitas terkait anak dengan durasi program selama 10 tahun untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan anak-anak di kabupaten Sumba Barat dan Sumba Tengah.
Program sponsorship memiliki 5 program utama yaitu: Kesehatan Ibu dan Anak, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Kesehatan dan Nutrisi di Sekolah, dan Pengembangan Remaja. Red/Nov
Baca JugaAntisipasi Pengamanan, Sebanyak 20 Ribu Lebih Pasukan Dikerahkan ke Jakarta