Putraindonews.com, Jakarta – Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel selama ini dikenal tidak sekadar cukup dekat, melainkan sebagai sekutu yang saling menyokong satu sama lain.
Hal itu terlihat dalam berbagai momentum, utamanya dalam konteks perang di Timur Tengah, di mana Paman Sam selalu ikut terlibat baik secara langsung ataupun lewat belakang layar.
Baca JugaDonald Trump Jadi Bahan Olokan di Iran, Terpenjara di Papan ReklameKonflik terbaru antara Israel dan Iran, bahkan lebih terang lagi terkait peran AS di balik agresi kejam Israel terhadap Iran dan sejumlah negara yang diduga menjadi sekutu dekat Iran seperti Yaman dan Lebanon.
Namun, kabar terabru menyebutkan bahwa hubungan AS-Israel mulai mengalami ketegangan. Bahkan dilaporkan AS sedang menjalin kontak dengan oposisi Israel.
Baca JugaParlemen Malaysia Minta Prabowo Atasi Masalah Karhutla Menggunakan Bahasa JawaKontak tersebut disebut terkait dengan kemungkinan perubahan dalam pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, menyusul semakin meningkatnya perselisihan antara Washington dan Tel Aviv.
Laporan media lokal Israel, Channel 12, seperti dikutip Middle East Monitor, Senin (22/6/2026), menyatakan bahwa para pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump meyakini jika pemerintahan Netanyahu mungkin akan diganti, yang mendorong AS melakukan kontak informal dengan para pemimpin oposisi Israel.
Baca JugaEropa Bergolak, Demonstrasi Besar-Besaran Berlangsung di AlbaniaDi antara pemimpin oposisi Israel yang berkomunikasi dengan Washington, terdapat Naftali Bennett, mantan PM Israel yang kini menjadi ketua Partai Together, dan Gadi Eisenkot yang merupakan ketua Partai Yashar. Red/HS