***
Putraindonews.com - Bengkulu | Kasus stunting masih menjadi tantangan serius tidak hanya bagi Indonesia namun juga bagi negara - negara lainnya di dunia. Menurut data BKKBN RI, angka stunting nasional berada pada angka 27,67 persen.
Untuk dapat menangani stunting perlu adanya keterlibatan semua elemen, baik pemerintah maupun swasta.
Baca JugaInstitut Amalia Bogor Matangkan Persiapan Hadapi SDGs 2030, Hadirkan Prof. Indira Santi Sebagai Keynote SpeakerHal ini disampaikan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah pada Kegiatan Advokasi Pemangku Kebijakan Terkait Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Bengkulu, Rabu (8/12/2021).
Dijelaskan Gubernur Rohidin bahwa perlu pemahaman yang kuat dan luas untuk mengatasi permasalahan stunting, sehingga timbul komitmen dari para pengambil kebijakan baik di jajaran eksekutif maupun legislatif secara berjenjang, hingga ada aksi yang bisa langsung dilaksanakan di masyarakat.
Baca JugaIMO-Indonesia DPW Sumut Bakal Gelar Do'a Bersama Untuk Rombongan Jurnalis Yang Hilang Saat Liputan GAK"Semua pemangku kebijakan, karena penanganan harus multi sektor dari semua level jajaran pemerintahan, termasuk perlibatan perguruan tinggi dan kelompok masyarakat, jadi ini kita memberikan pemahaman nanti timbul komitmen, kalau komitmennya kuat tentu ada rencana aksi di lapangan, tinggal nanti gerakannya sistematis dan terencana," papar Gubernur Rohidin.
Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional Republik Indonesia (BKKBN RI) dr. Hasto Wardoyo, penanganan stunting harus masif dan terstruktur di seluruh Indonesia, Perpres tahun 2021 No. 72 merupakan salah satu upaya Presiden RI Joko Widodo dalam rangka percepatan penurunan angka sunting di Indonesia.
Baca JugaPencarian Lima Jurnalis Terus Berlanjut, Nelayan Gelar 'Nyiar Buhun'"Di dalam Perpres memang menunjuk saya selaku kepala BKKBN menjadi ketua tim percepatan, disitulah kita membentuk tim di grassroot, jadi ada tim pendamping keluarga sejak sebelum hamil, selama hamil, sampai kemudian merawat anak umur sebelum 2 tahun, harus betul - betul fokus," jelas Hasto.
Hasto pun menambahkan, kesejahteraan lingkungan, baik sanitasi maupun pemukiman menjadi salah satu faktor yang harus di perhatikan. Ia juga mengapresiasi Gubernur Bengkulu bahwa akses pangan di Provinsi Bengkulu mencukupi dalam pemenuhan gizi.
Baca JugaUsut Kasus Keracunan MBG, Dewan Minta Polisi Bertindak Tanpa Menunggu LaporanSelain itu perencanaan kehamilan juga harus menjadi perhatian khususnya bagi pasangan muda yang ingin melangsungkan pernikahan di samping menjaga asupan gizi selama awal kehamilan.
"Stunting hanya bisa sampai umur 2 tahun, jadi begitu 2 tahun sudah tidak bisa diobati, tidak bisa dikoreksi, kalau mau mengoreksi anak stunting ya sebelum usia 2 tahun, begitu 2 tahun ya close sudah tidak bisa.
Baca JugaPurbaya Sempat Terlibat Ketegangan dengan Danantara Sebelum DicopotSeperti yang sudah saya sampaikan sebelum nikah harus sehat dulu, suami dan isterinya, selama hamil asupannya harus baik, ya 1000 hari pertama itu," tutup Hasto.
Pada kegiatan Advokasi Pemangku Kebijakan Terkait Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Bengkulu ini Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah juga mendapatkan penghargaan dari BKKBN RI atas dukungan terhadap program Keluarga Berencana (KB) dan juga digelar pelantikan Kader Pendamping Desa BKKBN Provinsi Bengkulu. Red/Ben
Baca JugaPurbaya Kaget, Dicopot di Tengah Rapat DPD RI ***