Membangun NTT di Bidang Pendidikan

Putraindonews.com – NTT | Tak dipungkiri bahwa kegelapan tengah menghantui Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Butuh nyala lilin yang bisa menerangi demi menemukan kembali kehidupan yang sesungguhnya dan mencapai mimpi putra-putri terbaik NTT. Itu hanya dapat dilakukan dengan satu jalan, yaitu membangun pendidikan.

Dalam membangun peradaban manusia, pendidikan menjadi salah satu jalan menuju NTT yang cerdas dan sejahtera. Dalam kancah nasional, wajah pendidikan di NTT masih berada pada tahap pengembangan berbagai aspek pendukung.

Aspek pendukung yang dimkasud adalah peran sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten, khususnya bagi tenaga pendidik. Peran tenaga pendidik yang berkualitas diharapkan dapat membawa NTT pada arah yang lebih baik.

Dalam rangka mendukung kemajuan pendidikan di NTT, semangat untuk mengubah wajah pendidikan di NTT tidak pernah pudar bagi pemerintah Kabupaten Sumba Barat. Pemerintah terus berupaya melakukan berbagai trobosan di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di enak kecamatan.

Upaya Pemda
Terbukti sebagai wujud keseriusan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat melalui Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga telah meluncurkan dua program pamungkas. Program pertama adalah Green School, yang merupakan program penataan lingkungan sekolah. Inti dari program ini adalah semua komponen atau warga sekolah terlibat secara langsung dalam implementasi pendidikan.

“Tujuan dari program ini adalah mengajarkan peserta didik untuk mencintai lingkungan hidup dan belajar menanam sejak dini. Adapun hasilnya tanam dimanfaatkan untuk warga sekolah,” jelas David Moto Lele selaku Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian SMP Kabupaten Sumba Barat kepada Putraindonews.com. Rabu (15/11/23).

Program yang kedua, kata dia, adalah Crossing Teacher. Program ini mencakup kegiatan pertukaran guru pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Manfaatnya dapat memberikan nuansa baru bagi anak-anak maupun tenaga pendidik dalam kegiatan pembelajaran. Guru dan peserta didik dapat menambah wawasan ketika terjadi pertukaran guru, juga penyebaran penyebarluasan pengetahuan mampu memberikan ilmu tambahan bagi anak-anak,” tambah David.

Tidak sampai di situ, kegigihan pemerintah Kabupaten Sumba Barat dalam mendorong kemajuan pendidikan juga dilakukan melalui kerja kolaboratif dengan Save The Children. Kolaborasi ini diyakini mampu memberikan energi positif bagi peningkatan proses belajar anak-anak maupun peningkatan kualitas tenaga pendidik di Kabupaten Sumba Barat.

Kehadiran Rumah Belajar Sumba adalah wujud komitmen bersama melalui sinergitas antar pemerintah Kabupaten Sumba Barat dan juga Save The Children. Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Sumba Barat Jhon Lado Bora Kabba saat ditemui di kediamannya oleh Putraindonews ini.

BACA JUGA :   Mendag Bersama Bapanas Tinjau Operasi Beras di PIBC Jakarta

Menurutnya, kemampuan literasi dan numerasi siswa masih menjadi kendala dalam perkembangan pendidikan di Kabupaten Sumba Barat. Untuk menjawab tantangan ini, langkah taktis yang diambil pemerintah Kabupaten Sumba Barat adalah melalui kerja sama lintas sektor.

“Kita terus berupaya agar kualitas pendidikan mendapat jalan terbaiknya. Kehadiran rumah belajar Sumba sebagai tempat pelatihan bagi kompetensi guru. Harapannya adalah untuk memastikan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa meningkat, sehingga kualitas pendidikan di Sumba Barat dapat meningkat secara menyeluruh,” terang orang nomor dua di Sumba Barat itu.

*Membangun Mutu Pendidkan Lewat Kerja Sama*
Berbicara tentang isu penddidikan, maka kompetensi tenaga pendidik menjadi salah satu bagian penting yang menentukan kualitas pendidikan di NTT.

Di Indonesia bagian timur, khususnya di Kabupaten Sumba Barat, kompetensi tenaga pendidik yang masih belum memenuhi standar menjadi keprihatinan utama. Dibandingkan dengan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Skor Uji Kompetensi Guru (UKG) rata-rata 69,12 (profesional: 71,74; pedagogik: 61,99), Kabupaten Sumba Barat justru memiliki skor UKG rata-rata cukup rendah, yakni 47,52 (professional: 48,05; pedagogik: 46,29) sebagaimana dikutip dari Neraca Pendidikan Indonesia, UKG.

Di samping itu, di semua jenjang, mayoritas guru di Sumba Barat berstatus Non-PNS. Lebih dari 80% guru PAUD memiliki pendidikan di bawah D4/S1, dan banyak dari mereka berstatus relawan. Selain itu, hampir semua guru tidak tersetifikasi di semua jenjang (Neraca Pendidikan Sumba Barat, 2021).

Save the Children menginisiasi Rumah Belajar Sumba sebagai wadah belajar bersama berbasis lokal, inklusif, dan hibrid yang bertujuan untuk membangun dan mengembangkan kompetensi guru dan kepala sekolah untuk mencapai pendidikan dasar yang berkualitas di Sumba.

Melalui rumah belajar ini, Save the Children ingin membentuk ekosistem belajar bersama yang inklusif bagi tenaga pendidik dan komunitas yang bergerak di pendidikan sehingga mampu berkontribusi terhadap perbaikan tingkat literasi anak. Dengan semikian, rumah belajar ini dapat mewujudkan pendidikan dasar yang berkualitas bagi anak-anak di Sumba.

Adapun wadah kolaboratif ini memiliki 3 pilar kunci pendekatan yaitu; Komunitas Penggerak, aktivasi community of practice seperti Guru Penggerak, KKG, Kepala Sekolah Penggrak untuk program peningkatan kapasitas di bidang kompetensi dan akses ke sumber pembelajaran; Wadah Inkusif, ruang luring untuk bereksperimentasi dan belajar bersama serta sebagai wadah digital yang berkelanjutan, dapat diandalkan seperti platform Merdeka Belajar, Karier.mu, dan platform belajar lainnya.

BACA JUGA :   KAI Ubah Jadwal Operasi KLB, Jalan 2 Hari Sekali

Kemitraan Strategis dapat membuka ruang bagi kemitraan transformatif dengan mitra yang memiliki kompetensi di bidang terkait dan ecosystem conventer-pentahelix memfasilitasi dan menggerakan ekosistem.

“Rumah Belajar ini merupakan strategi jangka panjang untuk mewujudkan pendidikan berkualitas bagi anak-anak di Sumba. Untuk itu kami ingin memastikan keberlanjutan dari inisiasi ini melalui kerja sama dengan pemerintah dalam pemanfaatan Rumah Belajar untuk para pelaku pendidikan” ungkap David Wala, Sumba Field Manager – Save the Children Indonesia.

Secara terpisah, Rosianto Hamid, Chief of Program Impact Creation di Save the Children Indonesia, mengutarakan bahwa Provinsi NTT telah lama menghadapi beragam tantangan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

“Data dari Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI menunjukkan bahwa sebagian besar guru PAUD di Kabupaten Sumba Barat memiliki pendidikan di bawah D4 atau S1, dan mayoritas guru PAUD dan guru SD di daerah ini adalah tenaga pendidik non-PNS. Untuk itu rumah belajar sumba adalah solusinya,” tandasnya.

Membangun pendidikan, kata dia, memang tidak semudah membalik telapak tangan, sebab ia membutuhkan kerja keras semua pihak.

Sbagaimana menurut pandangan Fransiscus Go di Media Indonesia pada 9 Mei 2023. Dalam tulisannnya yang bertajuk, “Orang Muda dan Tanggung Jawab Daerah,” menjelaskan bahwa manusia seperti apa yang diharapkan, tentunya yang berintegritas dan itu hanya mungkin dibina melalui pendidikan.

Dari pandangan tersebut, dapat dinilai bahwa kualitas pendidikan di NTT akan meningkat tatkala digerakkan oleh manusia yang beritegritas. Untuk melahirkan karakter berintegritas tentu pendidikan menjadi jalan terbaik yang harus ditempuh.

Pendidikan sebagai jantung kemajuan NTT harus tetap hidup. Masalah kemiskinan ekstrim, gejolak sosial yang mengemuka, dan masalah politik semua berpijak pada sumber daya manusia yang berada di NTT sebagai penentunya.

Melalui pendidikan, NTT bisa sejahtera dan bangkit tanpa harus bergantung lebih kepada negara. Sebab, semua sumber daya alam di NTT bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum manakala sumber daya manusianya berkompeten. Red/Nov

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

error: Content is protected !!