JAKARTA | Para pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk kuliner didorong untuk dapat cepat beradaptasi di masa normal baru dimana semua kegiatan harus berpedoman pada protokol kesehatan.
Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Ardhea Mustika Sari dalam virtual talkshow bertajuk "Strategi Jualan Kuliner pada Era New Normal di Wilayah Surakarta dan Sekitarnya", Kamis (25/6/2020) mengatakan, kuliner yang merupakan bagian dari sektor pariwisata yang terkena dampak langsung dari pandemi COVID-19. Ia mencontohkan kuliner di Kota Solo yang dikenal dengan berbagai menu khas dan bisa dinikmati selama 24 jam.
Baca JugaElim Tyu Samba: Jangan Sentimen Pribadi Korbankan Atlet "Tidak Elok""Tetapi begitu masa pandemi ini hampir semua subsektor pariwisata tak terkecuali kuliner ikut terdampak yang otomatis mengalami penurunan omzet yang sangat tajam," kata Ardhea.
Turut hadir dalam diskusi tersebut Kepala Dinas Pariwisata Kota Solo Hasta Gunawan, Wakil Ketua ASITA Jawa Tengah Daryono, dan Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh.
Baca JugaKepulan Asap Keluar dari Tas, Penumpang KRL Dibuat PanikArdhea kemudian mendorong agar para pelaku usaha kuliner untuk dapat cepat bangkit dengan beradaptasi dan melakukan segala kegiatan yang berpedoman pada protokol kesehatan. Termasuk dengan lebih memanfaatkan teknologi.
"Banyak kehidupan yang berubah ke arah digital seperti melakukan teleconference atau virtual meeting dan juga webinar. Ini adalah bukti bahwa digitalisasi merupakan bagian dari era normal baru yang berlaku kepada semua sektor termasuk sektor kuliner yang diharapkan dapat membawa suatu terobosan, khususnya di Surakarta,†kata Ardhea.
Baca JugaGeger 20 Siswa dari Dua Sekolah di Kota Blitar Diduga Keracunan MBGHal senada dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta, Hasta Gunawan. Ia mengatakan para pelaku di sektor kuliner juga harus dapat melakukan terobosan dengan mengedepankan kreativitas dalam mengelola produk. Diantaranya bagaimana mengemas jenis-jenis makanan yang bisa lebih awet meski tanpa pengawet.
"Kita harus terus berpikir dan mengembangkan bagaimana kreativitas-kreativitas di bidang pengemasan ini menjadi lebih menarik konsumen," kata dia.
Baca JugaKetuk Pintu Langit, Puluhan Rekan Profesi di Medan Doakan Rombongan Jurnalis Yang Hilang Saat Liputan Erupsi GAKSementara Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Frans Teguh mengatakan, pandemi COVID-19 telah membawa semua untuk memasuki era kenormalan baru yang mengisyaratkan masyarakat untuk beradaptasi dengan kondisi ini, khususnya sektor ekonomi kreatif yang menopang perekonomian nasional.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) tengah menyusun upaya dan langkah-langkah pemulihan dalam menyambut kondisi normal baru di sektor pariwisata.
Baca JugaGubernur Malut Sherly Tjoanda Disorot di Forum PBB, Bisnis Pertambangannya Dikuak ke Publik"Pandemi COVID-19 bukan hanya memberikan dampak yang besar kepada sektor pariwisata tetapi juga sektor ekonomi kreatif," kata Frans Teguh.
Frans menjelaskan, pihaknya akan terus berupaya memberikan pendampingan pada pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dalam memasuki normal baru.
Baca JugaZona SAR Selat Sunda Diperluas, Dayung Serunting IMO-Indonesia Monitoring Garis Pantai Lampung-BengkuluKemenparekraf/Baparekraf sedang menyiapkan _handbook_ untuk pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, sebagai turunan yang lebih detil dari protokol yang telah disusun Kementerian Kesehatan berdasarkan masukan dari Kemenparekraf untuk sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Tentunya protokol ini nantinya tidak terbatas pada sektor pariwisata saja, selain ditujukan untuk hotel, homestay, restoran/rumah makan, dan daya tarik wisata, protokol ini juga akan menyasar berbagai kegiatan kreatif yang sifatnya _crowd-gather_seperti gelanggang seni, kegiatan produksi film, TV, dan iklan serta usaha-usaha ekraf lainnya,†kata Frans Teguh.
Baca JugaTaksi Listrik Hijau Kecelakaan Diduga Tabrak PembatasIa juga menjelaskan setidaknya terdapat tiga kunci terkait protokol normal baru tersebut yaitu terkait kebersihan, kesehatan dan keamanan (Cleanliness, Health, and Safety/CHS).
“Implementasi protocol CHS (Cleanliness, Health, and Safety) penting diimplementasikan oleh para pelaku kuliner di kota Surakarta untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan untuk mau mencicipi ragam kuliner di Kota Surakarta kembali,†kata Frans Teguh. Red/RH
Baca JugaRibuan Pelajar di Jayawijaya Gelar Aksi Tolak MBG