PUTRAINDONEWS.COM
SUMATERA BARAT | Aminar (68) warga Batu Gadang Balai Salasa, Nagari Kampung Pinang, Lubuk Basung masih setia menekuni usaha kerupuk berbahan singkong (ubi kayu).
Meski tidak sejaya tahun 80-an lalu, Aminar optimis usaha yang diwariskan orang tuanya itu akan terus bertahan.
Baca JugaMensesneg Ungkap Istana sedang 'Bersih-Bersih Pasca PenyadapanKamis (8/10) pagi, Aminar bersama sang anak, Erna Jelita (40) tampak sibuk mencetak kerupuk ubi.
Berbekal potongan pipa sepanjang 50 meter, landasan pemipih, cetakan berdiameter 15 sentimeter, Aminah terlihat cekatan mencentak kerupuk.
Baca JugaKepala BIN Ungkap Penyadapan Ilegal Bisa Mengarah ke MakarDalam satu hari, Aminar mampu memproduksi 1200 lempeng kerupuk, dengan menghabiskan 20 kilogram ubi kayu, aktivitas ini dilakukannya hampir saban hari. "Jam 04.00 pagi sudah bangun, langsung merebus ubi, kemudian mencetak yang seperti ini bisa sampai sore,†ujarnya kepada AMC.
Dikatakan, usaha pembuatan kerupuk ubi miliknya masih dilakukan secara tradisional. Untuk menghaluskan ubi, dirinya menggunakan alat penggiling yang dioperasikan secara manual.
Baca JugaBMKG Sebut Gempa Tektonik di Sigi Dipicu Aktivitas Sesar PaloloAminar tidak tahu persis kapan ia memulai usaha tersebut. Seingatnya, ketika masih remaja, usaha yang sama sudah dilakoni orang tuanya. Kini, usaha tersebut sudah diwariskan kepada sang anak.
Diceritakan Aminar, usaha kerupuk ubi Batu Gadang Balai Salasa sempat jaya pada tahun 80-an.
Baca JugaJenderal Listyo Dicpot dari Dewan Penasihat KSPSIBahkan, katanya, kawasan tersebut dikenal sebagai sentra kerupuk ubi terbesar masa itu. “Sekarang bisa dihitung jari, hanya berapa rumah saja yang masih memproduksi kerupuk ini,†ungkapnya.
Menurutnya, berkurangnya produksi kerupuk ubi di daerah itu, karena prospeknya yang belum menjanjikan.
Baca JugaGunung Semeru Muntahkan Awan PanasDikatakan, dari 1200 lempeng kerupuk yang diproduksi, ia hanya mendapat omset sekitar Rp108 ribu. “Rinciannya, seikat kerupuk berisi 100 lempeng, satu ikatnya dijual Rp9.000, bisa dikalikan berapa uangnya, belum lagi dipotong harga ubi Rp2000 sekilo,†sebut Aminar.
Saat ini harga bahan baku ubi terbilang murah. Namun, harga bahan baku tidak menentukan harga jual kerupuk ubinya. Bahkan, disaat harga bahan baku naik, Aminar tidak lantas menaikkan harga jual kerupuk.
Baca JugaPemerintah Rencana Buka Tes CPNS Tahun IniAlasan lainnya, ungkap Aminar, faktor cuaca menjadi penentu kualitas kerupuk yang dihasilkan. Tak jarang dirinya merugi ketika datang musim penghujan.
“Jika sehari tidak terkena sinar matahari, maka kerupuk ini akan menghitam karena jamur, kalau sudah begitu kerupuk tidak bisa dijual,†ucapnya.
Baca JugaResmikan Sekretariat "Rumah Besar", IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media OnlineSelain itu, keterbatasan alat produksi juga menyebabkan produktivitas kerupuk ubi di Balai Salasa menjadi lesu. Dikatakan, jika ada alat yang memadai, jumlah produksi akan bisa ditingkatkan.
“Kalau ada mesin penghalus ubi dan alat pengering, maka waktu tidak akan terlalu banyak terbuang dan kita tinggal fokus mencetaknya saja,†jelasnya lagi.
Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi MasyarakatUntuk terus melestarikan usaha turun-temurun itu, Aminar berharap ada sentuhan berupa bantuan dan pembinaan dari pihak terkait. Dirinya berharap kerupuk ubi Balai Salasa kembali ke masa kejayaan seperti beberapa dekade lalu.
“Kami berharap ada bantuan untuk pengembangan, agar usaha ini bisa terus bertahan dan berkembang,†ujarnya berharap.
Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah RakyatTerpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Agam, Fatimah mengatakan terkait usaha yang digeluti masyarakat, pihaknya sangat mendukung geliat UMKM yang masih bertahan di tengah pandemi Covid-19.
Terkait upaya peningkatan ekonomi keluarga, pihaknya bersedia membina untuk pengembangan usaha. Sebagai tahap awal, pelaku usaha dianjurkan berkonsultasi dengan Dinas Koperindagkop dan UMKM.
Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya Triliunan“Dengan konsultasi kita dapat menentukan bagaimana solusi pengembangan UMKM tersebut, apa yang diperlukan dan pembinaan seperti apa yang akan dilakukan, intinya kami siap mendukung pelaku usaha di Kabupaten Agam,†ulasnya. Red/Amin - Sumbar