Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Di Bawah Rindang Bambu, Imajinasi Itu Tumbuh Bersama

S Samsuddin • 17 May 2026 • 0 komentar
Di Bawah Rindang Bambu, Imajinasi Itu Tumbuh Bersama

Putraindonews.com, Sulsel - Di Kebun Bersama, bambu-bambu berdiri seperti pagar yang menjaga percakapan agar tidak lekas hilang diterpa waktu. Sabtu pagi, 17 Mei 2026, tempat itu berubah menjadi ruang temu bagi banyak kepala yang datang membawa keresahan, kreativitas, dan keyakinan bahwa ekonomi tidak selalu lahir dari gedung-gedung tinggi atau meja rapat yang dingin.

Di sana, pasar kecil tumbuh di antara jalan setapak. Aroma makanan lokal bercampur dengan suara diskusi dan pertunjukan yang bergantian mengambil perhatian. Orang-orang datang bukan sekadar membeli atau menjual barang, tetapi saling memperlihatkan bahwa kreativitas masih memiliki tempat hidup di Bulukumba.

Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla

Siruntu Bakudapa yang lahir di Kebun Bersama menjadikan suasana itu terasa seperti rumah panjang bagi gagasan-gagasan yang selama ini tercecer. Sejak pukul 08.00 WITA hingga sore menjelang, ruang tersebut dipenuhi komunitas, pegiat seni, pelaku usaha kecil, hingga anak-anak muda yang percaya bahwa kebudayaan dan ekonomi tidak bisa dipisahkan.

Kebun Bersama seakan sedang membuktikan satu hal sederhana: pertumbuhan tidak selalu harus berisik. Kadang ia hadir lewat obrolan kecil di bawah rumpun bambu, lewat gelas kopi yang berpindah tangan, atau lewat makanan lokal yang perlahan kembali dihargai.

Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang

Di tengah talkshow bertajuk Imaji Kreatif: Ekonomi Tumbuh dengan Kreativitas, berbagai suara muncul membawa sudut pandangnya masing-masing. Namun semuanya bertemu pada satu titik: daerah tidak boleh kehilangan identitas hanya karena terlalu sibuk mengejar modernitas.

“Kita tidak hanya kekurangan ruang tumbuh. Kita juga tidak kurang dengan kebudayaan di Sulawesi, khususnya Bulukumba. Dan juga mengenai makanan lokal yang memiliki ciri khas tersendiri,” ujar Rafi dari komunitas Omah Jangan Diam Terus.

Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo

Kalimat itu meluncur perlahan, tetapi terasa seperti kritik terhadap cara banyak daerah memandang dirinya sendiri. Bahwa sering kali sesuatu dianggap bernilai setelah mendapat pengakuan dari luar. Padahal, tradisi, makanan, dan cara hidup masyarakat lokal telah lama menjadi fondasi yang menopang kehidupan sehari-hari.

Rafi bahkan bercerita bagaimana komunitasnya di Depok mulai melakukan adopsi budaya dan makanan dari Sulawesi. Salah satunya adalah konsep “Omah tanpa penerangan”, ruang yang meminimalkan lampu agar percakapan menjadi lebih intim dan manusia kembali dekat dengan suasana alami.

Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026

Di tempat lain, Andi melihat peluang yang lebih luas. Baginya, kreativitas di Bulukumba memiliki ruang besar untuk berkembang, terlebih di tengah arus digital yang terus bergerak cepat.

“Kita bisa mengangkat banyak hal tentang ekonomi kreatif di Bulukumba. Apalagi sekarang ini ada banyak hal yang sedang terlirik di dunia digital,” katanya.

Baca JugaAntisipasi Pengamanan, Sebanyak 20 Ribu Lebih Pasukan Dikerahkan ke Jakarta

Ucapan itu seperti membuka kemungkinan baru: bahwa daerah tidak harus menjadi penonton di tengah ledakan industri kreatif. Anak-anak muda bisa memanfaatkan media sosial, visual, cerita lokal, hingga produk kebudayaan sebagai jalan membangun ekonomi yang berpijak pada identitasnya sendiri.

Namun di tengah semangat itu, Ichdar dari Al Farabi mengingatkan sesuatu yang sering terlupakan: kreativitas tidak harus tumbuh dengan membandingkan diri secara terus-menerus dengan Pulau Jawa.

Baca JugaDukung Ketahanan Pangan, Babinsa Koramil 0808/15 Gandusari Dampingi Petani Panen Cabai Di Desa Semen

“Kenapa kita harus membandingkan antara Pulau Jawa dan Bulukumba? Mari kita biarkan dia hidup di negaranya sendiri. Sebab setiap daerah punya kelebihan dan kekurangan sendiri,” terangnya.

Pernyataan itu membuat suasana sejenak sunyi. Sebab selama ini, banyak daerah dipaksa mengikuti ukuran keberhasilan yang seragam. Kota-kota kecil dianggap tertinggal ketika tidak menyerupai kota besar. Padahal, yang membuat suatu daerah bertahan justru keberaniannya menjaga karakter sendiri.

Baca JugaMutasi Besar-Besaran Sejumlah Perwira Polri di Tengah Isu Penangkapan par Jenderal

“Bukan tidak mau mengambil sampel dari luar, cuma kita ingin melihat bagaimana kreativitas itu tumbuh tanpa perbandingan yang menghilangkan kedaerahan,” lanjutnya.

Menjelang sore, pasar mulai menampilkan Siruntu Bakudapa. Beberapa orang duduk di bawah bambu, membagikan percakapan yang tampaknya belum ingin selesai. Di Kebun Bersama, kreativitas tidak hadir sebagai slogan acara. Ia hidup dari orang-orang yang percaya bahwa kebudayaan, makanan lokal, ruang temu, dan percakapan adalah bagian dari ekonomi itu sendiri.

Baca JugaYusril Sebut Prabowo Tahu Disadap atas Laporan Kapolri Suyudi

"Kolaborasi lintas bidang mempunyai peran masing-masing dan itu menjadi hal penting untuk kita rawat. Mari kita merekam Bulukumba melalui kreativitas," tutup Ikki dari TDA Bulukumba.

Dan mungkin, dari tempat-tempat sederhana seperti itulah masa depan Bulukumba sedang ditanam—pelan, tetapi berakar. Red/MB

Baca JugaPolda Metro Jaya Lakukan Mutasi Besar-Besaran

Bagikan berita:

Berita Terkait