Putraindonews.com, Luwu Utara - Ramadan hampir usai. Ia berjalan seperti waktu yang diam-diam menggerus hari, tanpa suara, tanpa tanda yang benar-benar kita sadari. Tiba-tiba saja, ia telah berada di ujungnya. Tinggal beberapa malam lagi, umat muslim akan menyambut Idul Fitri—sebuah perayaan yang selalu datang bersama rasa lega sekaligus kehilangan.
Di Masjid Agung Syuhada Masamba, malam itu tidak sekadar dipenuhi jamaah. Tapi, dipenuhi oleh sesuatu yang lebih sunyi: kesadaran. Orang-orang datang bukan hanya untuk shalat, tetapi untuk mengingat kembali apa yang mungkin telah terlewati sepanjang Ramadan.
Baca JugaResmikan Sekretariat "Rumah Besar", IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media OnlineLampu-lampu masjid menyala tenang. Suara langkah kaki berbaur dengan bisik doa. Di antara saf yang rapat, ada rasa syukur yang tidak diucapkan, tetapi terasa bahwa tahun ini, kita masih sempat sampai di titik ini.
“Tidak terasa kita sudah hampir sampai di penghujung Ramadan,” ujar Ustaz Husaifa, pelan, seolah tidak ingin memecah suasana yang sudah lebih dulu khusyuk.
Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi MasyarakatKalimat itu sederhana, tetapi menggugah sesuatu yang lebih dalam. Ramadan, yang di awal disambut dengan niat dan semangat, kini menuntut satu hal yang berbeda: perenungan.
Malam itu bukan lagi tentang memulai, melainkan tentang menghitung.
Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah RakyatBerapa banyak ayat yang telah dibaca, dan berapa banyak yang hanya lewat sebagai huruf tanpa makna. Berapa banyak waktu yang benar-benar digunakan untuk mengingat Tuhan, dan berapa banyak yang hilang dalam kesibukan yang kita anggap penting.
“Sudah berapa banyak Al-Qur’an yang telah kita baca, dan berapa banyak kekosongan waktu kita yang diisi dengan zikir kepada Allah SWT,” lanjutnya.
Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya TriliunanPertanyaan itu tidak menuntut jawaban lisan. Ia cukup dijawab dalam diam, di dalam hati masing-masing.
Ramadan selalu datang dengan janji perubahan. Kita menyambutnya dengan lapang dada, dengan harapan menjadi lebih baik. Namun di ujungnya, Ramadan justru menguji kejujuran: sejauh mana kita benar-benar berubah, dan sejauh mana kita hanya sekadar menjalani.
Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan KarhutlaBesok malam, sidang isbat akan digelar. Sebuah penentuan yang secara formal menetapkan kapan Idul Fitri jatuh. Tapi, jauh sebelum itu, setiap orang sebenarnya telah lebih dulu sampai pada penentuan masing-masing—tentang bagaimana mereka menutup Ramadan tahun ini.
Apakah ia berakhir sebagai kebiasaan, atau sebagai kesadaran.
Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik UangDi Masjid Agung Syuhada Masamba, malam itu ditutup dengan harapan yang tidak berlebihan. Tapi, cukup untuk menjaga iman tetap menyala seperti lampu-lampu yanb telah menemani jamaah dari malam pertama Ramadan hingga kini.
“Kita sempurnakan Ramadan ini dengan kesempurnaan ibadah. Semoga kita masih bisa bertemu dan menjalankan ibadah di bulan Ramadan selanjutnya,” tutup Ustaz Husaifa.
Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpoRamadan memang akan pergi. Tapi, yang tersisa bukanlah tanggal, bukan pula perayaan. Yang tersisa adalah apa yang berhasil kita simpan darinya: kesabaran, keikhlasan, dan mungkin, sedikit rasa takut untuk kembali menjadi diri yang lama.
Di ujung Ramadan, kita akhirnya belajar bahwa yang paling penting bukanlah seberapa lama kita menjalaninya, melainkan seberapa dalam kita memaknainya. Red/MB
Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026