Lakkang tidak pernah benar-benar berubah—yang berubah adalah cara kita mencapainya.
Sejak pertama kali menjejakkan kaki di delta sunyi itu pada Maret 2011, kesan tentang Lakkang selalu datang dengan dua lapis: alam yang setia, dan akses yang perlahan bernegosiasi dengan waktu. Di antara Sungai Tallo dan Sungai Pampang, kampung itu seperti jeda yang sengaja diletakkan di pinggir Kota Makassar—tidak jauh, tapi juga tidak sepenuhnya dekat.
Baca JugaMahkamah Agung dan Ikhtiar Menjaga Muruah Keadilan di IndonesiaDari pusat kota, hanya sekitar enam hingga tujuh kilometer. Namun jarak, di Lakkang, tak pernah sekadar angka. Ia adalah pengalaman.
Menyusuri Air: Rute Lama yang Menyimpan Waktu
Pagi itu, 4 Maret 2026, perjalanan dimulai dari dermaga lama di Kera-Kera. Dermaga yang dulu sempat saya kira telah ditinggalkan, ternyata masih bertahan—dengan kayu-kayu tua yang tetap memikul fungsi.
Baca JugaMenjaga Gula, Menjaga Negara: Saatnya Membenahi Tata Kelola untuk Mewujudkan Kemandirian PanganPerahu pincara menunggu, seperti biasa: tenang, tanpa tergesa
Begitu mesin menyala, sungai membuka dirinya. Lebarnya sekitar 30 hingga 50 meter, cukup untuk memantulkan langit dan menyimpan bayangan burung-burung yang melintas rendah. Bangau-bangau putih terbang dalam formasi yang tak rapi tapi indah—seolah tahu bahwa manusia di bawahnya sedang belajar menikmati pelan-pelan.
Baca JugaAHY dan Arah Strategis Infrastruktur WilayahPerjalanan hanya sekitar dua puluh menit. Terlalu singkat untuk sebuah keheningan yang jarang ditemukan di kota.
Namun sesampainya di Dermaga Mandiri, keindahan itu seperti terpotong. Papan yang mengelupas, fasilitas yang tak terawat, dan sampah yang terselip di antara batang pohon—semuanya menjadi catatan kecil bahwa perjalanan tidak selalu berakhir dengan kesan yang utuh.
Baca JugaZulhas dan Jalan Menuju Swasembada PanganDi sana, saya juga kehilangan satu hal: alat pemantau kualitas air yang dulu pernah berdiri dengan panel surya. Ia hilang tanpa jejak. Seperti beberapa perhatian yang pernah ada, lalu diam-diam ditarik pergi.
Menapak Darat: Rute Baru yang Lebih Cepat, Lebih Jauh
Baca Juga2 Tahun Prabowo-Gibran: Ujian dan Arti Sebuah KomitmenSebulan berselang, 4 April 2026, saya kembali ke Lakkang melalui jalur berbeda. Kali ini dari Dermaga Muda.
Perahunya hanya butuh dua menit menyeberang. Nyaris seperti melompati jarak.
Baca JugaKoordinasi Polisi dan Jaksa: Mengakhiri Ego Sektoral dalam Perkara PidanaNamun perjalanan tidak selesai di air. Ia justru dimulai di darat
Jalan setapak sepanjang lebih dari satu kilometer membentang, sebagian sudah dipaving, sebagian lain menyimpan retak dan licin. Sepeda motor menjadi pilihan paling masuk akal, meski tetap menuntut kehati-hatian.
Baca JugaKementerian PU: Membangun Infrastruktur, Menegakkan IntegritasDi kiri-kanan, lanskap berubah menjadi narasi: sawah, tambak, nipah, dan sesekali kambing atau kerbau yang berdiri tanpa tergesa. Jika beruntung datang saat senja, langit akan meminjamkan warna—biru tua yang larut ke jingga, lalu merah, lalu keemasan—sebuah gradasi yang tidak bisa difoto dengan utuh, hanya bisa diingat.
Rute ini lebih cepat, tapi juga lebih panjang.
Baca JugaMenyambut Era Baru Polri yang Lebih Humanis-AdaptifSeperti banyak hal dalam hidup: efisiensi seringkali menukar sesuatu yang lain.
Mobilitas yang Terputus
Dari dua jalur itu, satu hal menjadi terang: Lakkang tidak kekurangan akses—ia kekurangan keterhubungan.
Baca JugaMenjadi Religius Tanpa FanatismeMobilitas, terutama bagi kelompok rentan, masih seperti rantai yang terputus di beberapa titik.
Dari dermaga, ke perahu, lalu ke darat—setiap perpindahan menyimpan tantangan. Tangga yang curam, lantai yang licin, ketiadaan jalur landai, minimnya informasi, hingga absennya fasilitas dasar seperti ruang tunggu yang layak atau toilet yang aksesibel.
Baca JugaDi Ujung Petasan, Kerukunan Jakarta DiujiBahkan perahu, sebagai simpul utama, belum sepenuhnya ramah bagi semua tubuh.
Padahal, konsep mobilitas berkelanjutan menuntut sesuatu yang sederhana namun sering dilupakan: perjalanan harus utuh dari awal hingga akhir. Tidak boleh ada bagian yang membuat seseorang tertinggal hanya karena tubuhnya berbeda.
Baca JugaMahkamah Agung dan Ikhtiar Menjaga Muruah Keadilan di IndonesiaPrinsipnya jelas—desain universal, integrasi sistem, sumber daya manusia yang terlatih, dan keterlibatan langsung penyandang disabilitas dalam setiap tahap.
Namun Realitas Berkata Lain
Fasilitas umum saja belum sepenuhnya layak, apalagi yang dirancang dengan standar aksesibilitas. Halte, terminal, bahkan transportasi darat di kota-kota besar masih sering abai pada kebutuhan dasar ini.
Baca JugaMenjaga Gula, Menjaga Negara: Saatnya Membenahi Tata Kelola untuk Mewujudkan Kemandirian PanganLakkang, dalam hal ini, hanya cermin kecil dari persoalan yang lebih besar.
Janji yang Menunggu Ditepati
Sejak ditetapkan sebagai desa wisata, Lakkang telah membawa banyak harapan. Ia pernah menjadi pusat peringatan Hari Habitat Sedunia, dipuji karena konservasi dan budayanya, dan diakui sebagai bagian dari jejaring desa wisata nasional.
Baca JugaAHY dan Arah Strategis Infrastruktur WilayahNamun pertanyaan yang tersisa sederhana: siapa yang benar-benar bisa sampai ke sana?
Jika sebuah tempat disebut destinasi, maka ia seharusnya bisa diakses oleh semua orang—tanpa kecuali.
Baca JugaZulhas dan Jalan Menuju Swasembada PanganSebab pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang sampai. Ia tentang siapa yang diizinkan ikut serta.
Dan Lakkang, dengan segala keindahannya, masih menunggu hari di mana setiap orang bisa datang tanpa merasa dibatasi oleh cara dunia dibangun.
Baca Juga2 Tahun Prabowo-Gibran: Ujian dan Arti Sebuah KomitmenOleh: Rusdin Tompo
Penulis Adalah Kordinator Satu Pena