Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Kisah Kakek Tadu Kahale, Nafkahi Keluarga dengan Mengepul Batu Krikil

S Samsuddin • 01 Sep 2023 • 0 komentar
Kisah Kakek Tadu Kahale, Nafkahi Keluarga dengan Mengepul Batu Krikil

Putraindonews.com - NTT | Memasuki usia senja, semangat kakek Tadu Kahale masih terus membara, masih terlihat kuat untuk mengumpul batu krikil di pinggiran kali Togo Woko, Desa Welibo, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat.

Untuk menghidupi keluarganya, kakek ini keluar dari rumah tepat Pukul 07.00 Wita dengan membawa bekal makanan dan minuman untuk seharian di pinggiran kali.

Baca JugaMensesneg Ungkap Istana sedang 'Bersih-Bersih Pasca Penyadapan

Sesampai dipinggir kali, Ia mulai bergegas mengumpulkan kerikil-kerikil disatu tempat. Tak sampai disitu, kakek juga memecah batu ukuran kepala anak kecil dengan menggunakan hamar lima kilo. Aktivitas ini lakoni setiap harinya selama tiga tahun terakhir.

Saat Putraindonews menemuinya di pingiran kali dibawah panasnya terik matari siang tadi lalu mengajaknya bercengkrama dipondok kecil miliknya tempat ia biasa istrahat makan siang.

Baca JugaKepala BIN Ungkap Penyadapan Ilegal Bisa Mengarah ke Makar

Sambil mengusap keringatnya, kakek menyampaikan bahwa pekerjaan mengumpulkan baru krikil karena tuntukan ekonomi keluarga.

“Saya kumpul batu krikil sudah mau tiga tahun sudah, untuk kebutuhan makan minum keluarga mau tidak mau saya harus kerja, diumur saya yang sudah tua tidak ada pekerjaan lain selain kumpul batu krikil,” kisahnya kepada Putraindonews. Jumat (1/9).

Baca JugaBMKG Sebut Gempa Tektonik di Sigi Dipicu Aktivitas Sesar Palolo

Selanjutnya batu krikil yang sudah dikumpul dan dititi, dipindah dekat jalan menggunakan grobak anggut pasir. Harga satu ret batu krikil ini senilai RP400.000-450.000.

Untuk mencapai satu ret batu, kakek tadu kahale butuh waktu sekitar satu minggu lebih untuk bisa dijual. Tentu bukan hal mudah jika dibandingkan dengan usia sang kakek.

Baca JugaJenderal Listyo Dicpot dari Dewan Penasihat KSPSI

Tertatih-tatih dipinggiran kali demi menghidupi keluarga adalah pekerjaan mulia baginya. Memasuki hari tua tak sebahagia kakek lainya dimana haru tua adalah waktu untuk bersenang-senang dengan keluarga, bergurau dengan cucu. Tapi takdir berkata lain atas hidupnya. Red/Nov

Bagikan berita:

Berita Terkait