Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Petaka, Dosa Siapa?

S Samsuddin • 01 Dec 2025 • 0 komentar
Petaka, Dosa Siapa?

Beberapa hari terakhir, linimasa kembali dipenuhi dengan kabar duka. Banjir besar melanda Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara.

Imbas dari bencana alam ini, rumah-rumah terendam, ratusan warga mengungsi, akses jalan terputus, aliran listrik padam, sampai kelaparan terjadi di mana-mana yang membuat aksi penjarahan logistik tidak bisa dihindari lagi.

Baca JugaMahkamah Agung dan Ikhtiar Menjaga Muruah Keadilan di Indonesia

Sebuah renungan kembali menyapa di tengah kondisi di luar kendali ini, yakni betapa rapuhnya kehidupan manusia ketika berhadapan dengan amukan alam.

Namun, di balik setiap musibah, selalu muncul pertanyaan yang menggantung di udara: petaka yang terjadi ini, dosa siapa?

Baca JugaMenjaga Gula, Menjaga Negara: Saatnya Membenahi Tata Kelola untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan

Apakah semua ini terjadi secara kebetulan atau fenomena alamiah yang terjadi karena cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi?

Ataukah jangan-jangan semua ini cermin dari ulah manusia sendiri yang telah "memperkosa" hingga melampaui batasnya.

Baca JugaAHY dan Arah Strategis Infrastruktur Wilayah

Ketika Alam Membalas

Banjir yang mendera Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara bukanlah fenomena alam yang lahir dari ruang hampa.

Ia bukan sekadar relasi kausalistik akibat hujan deras tanpa kompromi. Sebaliknya, bencana ini merupakan hasil dari rangkaian panjang perubahan bentang alam yang sengaja kita biarkan rusak karena mengejar nafsu dan keserakahan.

Baca JugaZulhas dan Jalan Menuju Swasembada Pangan

Atau, bahkan semua kegiatan kita yang disengaja ini luput dari kesadaran penuh akan dampak destruktif yang sewaktu-waktu bakal datang mengguncang rasa aman.

Percaya atau tidak, aktivitas manusia telah menjadi faktor dominan yang memperburuk intensitas bencana hidrometeorologi di Indonesia.

Baca Juga2 Tahun Prabowo-Gibran: Ujian dan Arti Sebuah Komitmen

Di Aceh, longsor dan banjir bandang disebabkan oleh hutan-hutan yang terus dibabat tanpa ampun. Penebangan liar yang semakin tidak terkendali menjadikan kondisi lingkungan alam sekitar kehilangan daya dukung terhadap ekosistem yang ada.

Tanah kehilangan daya serap, air hujan mengalir tanpa tertahan, dan sungai meluap dengan cepat tanpa hambatan berarti.

Baca JugaKoordinasi Polisi dan Jaksa: Mengakhiri Ego Sektoral dalam Perkara Pidana

Setali tiga uang, di Sumatera Barat, banjir lahar dingin memperparah kondisi akibat sedimentasi beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti DAS Aia Dingin, dan Das Kuranji yang telah mencampur aduk dengan lumpur, bebatuan, hingga air.

Semua memang peristiwa alam, tapi di balik itu semua, ada persoalan sesungguhnya yang harus menjadi refleksi kita bersama.

Baca JugaKementerian PU: Membangun Infrastruktur, Menegakkan Integritas

Bahwa di sana kawasan hulu yang rusak, alih fungsi lahan yang semrawut, dan aktivitas pertambangan legal maupun ilegal yang semakin mendegradasi fungsi alamiah lingkungan yang ada.

Di Sumatera Utara, bencana terjadi dengan kondisi yang nyaris tidak jauh beda dengan yang ada di Sumbar dan Aceh, di mana sungai-sungai kian dangkal dan daerah tangkapan air makin menyusut akibat ekspansi perkebunan sawit dan permukiman.

Baca JugaMenyambut Era Baru Polri yang Lebih Humanis-Adaptif

Dari hamparan peristiwa alam mengerikan yang kita saksikan di depan mata ini, merupakan potret nyata atas krisis ekologis kita.

Manusia lupa bahwa alam pun mempunyai fungsi keseimbangan dan punya daya pulih terbatas. Ketika eksploitasi dilakukan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan daya topang terhadap eksositem yang ada, maka yang terjadi adalah kebinasaan itu sendiri.

Baca JugaMenjadi Religius Tanpa Fanatisme

Keserakahan dalam mengeksploitasi alam secara "ugal-ugalan" dan liar adalah akar dari banyak bencana yang dihadapi manusia di berbagai tempat.

Alam bukan membalas, melainkan ia hanya mengikuti hukum sebab-akibat. Sebab, siapa menabur angin, ia pasti menuai badai: sesederhana itu.

Baca JugaDi Ujung Petasan, Kerukunan Jakarta Diuji

Dengan kata lain, ketika keseimbangan alam dirusak, maka ia tidak lagi mampu menahan beban. Bencana alam akhirnya menjadi peringatan keras atas ulah manusia sendiri.

Pelajaran yang Harus Dipetik

Bertolak dari peristiwa becana ini, mari kita lakukan perenungan lagi, apa yang sudah kita lakukan untuk alam kita tercinta ini.

Baca JugaMahkamah Agung dan Ikhtiar Menjaga Muruah Keadilan di Indonesia

Seperti halnya seorang ibu, alam mesti kita perlakukan dengan baik. Karena darinya sumber kehidupan yang aman, teduh dan damai bermula.

Bencana selalu menyisakan luka, tetapi ia juga menawarkan kesempatan untuk belajar. Pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar mengambil hikmah dari sekian banyak bencana yang pernah melanda Ibu Pertiwi?

Baca JugaMenjaga Gula, Menjaga Negara: Saatnya Membenahi Tata Kelola untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan

Setidaknya, di balik bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara memberikan setidaknya tiga pelajaran besar yang tidak boleh diabaikan.

Pertama, pemulihan kembali fungsi ekologis harus menjadi prioritas nasional, bukan sekadar jargon seremonial.

Baca JugaAHY dan Arah Strategis Infrastruktur Wilayah

Reboisasi tidak bisa hanya mengandalkan program tahunan yang dilakukan secara pasrial dan sporadis.

Daerah hulu mesti dipandang sebagai infrastruktur alam yang sangat vital peran dan fungsinya bagi kehidupan semesta.

Baca JugaZulhas dan Jalan Menuju Swasembada Pangan

Pemerintah pusat dan daerah harus berani mengusut dan menindak tegas pelaku pembalakan liar dan pertambangan ilegal, tidak cukup dengan razia sesaat.

Kedua, desain tata ruang harus kembali ditegakkan tanpa kompromi. Bongkahan kayu yang keluar bersamaan dengan banjir bukanlah fenomena yang tiba-tiba jatuh dari langit.

Baca Juga2 Tahun Prabowo-Gibran: Ujian dan Arti Sebuah Komitmen

Itu semua berkaitan erat dengan aktivitas penebangan liar yang terjadi di kawasan hulu tanpa kontrol ketat.

Banyak kawasan rawan bencana justru dibuka untuk permukiman atau industri. Kita butuh disiplin baru dalam mematuhi peta rawan bencana, elevasi sungai, dan zonasi wilayah konservasi.

Baca JugaKoordinasi Polisi dan Jaksa: Mengakhiri Ego Sektoral dalam Perkara Pidana

Akhirnya, refleksi mendalam perlu dilakukan bahwa bencana yang sering lahir bukan karena kita tidak tahu risikonya, melainkan karena kita mengabaikan ilmu pengetahuan dan membiarkan kepentingan jangka pendek mengalahkan keselamatan warga.

Yakub F. Ismail

Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Media Online (IMO) Indonesia, SUAKA96

Baca JugaKementerian PU: Membangun Infrastruktur, Menegakkan Integritas
Tags: #Indonesia #hukum #banjir lahar #bencana alam #sawit

Bagikan berita:

Berita Terkait